Internasional

7 Fakta Syiah di Arab Saudi

Salafynews.com – Ramainya isu Syiah di Indonesia memunculkan satu pertanyaan, bagaimana kehidupan masyrakat Syiah di Negara lain? Bagaimana perlakuan mayoritas kepada minoritas Syiah di belahan dunia lain?

Jika tanah Mekah dan Madinah disebut sebagai pusat dunia islam, kita akan bertanya bagaimana kelompok Syiah yang hidup disana? Bagaimana kebijakan pemerintah Saudi atas rakyatnya yang bermadzhab Syiah?

Berikut ini adalah 7 fakta tentang Madzhab Syiah di Arab Saudi termasuk di tanah Haramain:

Pertama, ada Syiah Imamiyah [sebagaimana yang dianut mayoritas warga Iran] di Saudi. Tersebar di banyak kota, termasuk Madinah, namun mayoritas bermukim di kota Qatif, Ahsa dan Damam. Jumlahnya kisaran 10-15% dari total penduduk Arab Saudi. Sekitar 3-4 juta jiwa penduduk Saudi bermazhab Syiah. Sementara Syiah Zaidiyah bermukim diwilayah selatan Arab Saudi, yang berbatasan langsung dengan Yaman. Mereka mayoritas di kota Najran. Syiah Ismailiyah juga terdapat dibagian selatan Arab Saudi, namun jumlahnya sangat sedikit.

Kedua, sebagaimana warga muslim lainnya, Syiah juga memiliki masjid, sekolah agama dan Husainiyah untuk melakukan aktivitas keIslaman bercorak Syiah. Meskipun tetap mendapat tekanan dan batasan, namun secara umum Syiah Saudi bebas secara terbuka menyampaikan ajarannya di mimbar-mimbar termasuk dalam mempublikasikan karya-karyanya namun tetap terbatas hanya dikomunitas Syiah dan tidak bebas diperjual belikan di komunitas non Syiah Saudi.

Tidak jarang, masjid Syiah disegel pihak keamanan, atau khatibnya dipenjarakan, karena dianggap memprovokasi warga untuk menentang kerajaan. Namun aturan ini tidak hanya berlaku untuk Syiah, tidak sedikit ulama Wahabipun dipenjara oleh rezim dengan tuduhan mengganggu stabilitas negara. Diantaranya Syaikh Salman al Audah dan Syaik ‘Aidh al Qarni [penulis La Tahzan] pernah merasakan dinginnya jeruji besi, padahal keduanya bukan Syiah. Sementara ulama terkenal Syiah yang masih mendekam dipenjara sampai saat ini adalah Syaikh Nimr Baqir al Nimr.

Ketiga, dihari-hari tertentu, yang dianggap istimewa oleh Syiah, mereka melakukan majelis-majelis keagamaan. Termasuk pada hari Asyura. Meski karnaval peringatan Asyura dilarang dilakukan diareal terbuka, namun mereka tetap bisa melakukan di ruangan tertutup. Hadirin mencapai ribuan orang untuk mendengarkan ceramah-ceramah bertemakan Asyura dari ulama dan muballigh Syiah.

Dan ketika peringatan Asyura berlangsung, tidak ada diluar ruangan tersebut yang melakukan aksi demonstrasi minta acara Asyura itu dibubarkan, sebagaimana di Indonesia.

 Jamaah Syiah pada peringatan Asyura disalah satu Husainiyah di Madinah

Jamaah Syiah pada peringatan Asyura disalah satu Husainiyah di Madinah

Keempat, Masjid Nabawi dan areal Baitullah terbuka untuk Syiah. Tidak ada larangan bagi mereka untuk memasukinya, yang menunjukkan fakta tidak terbantahkan bahwa mereka tetap dianggap muslim oleh otoritas Saudi.

Merekapun secara terbuka bebas melakukan tata cara shalat ala Syiah tanpa larangan, termasuk menyelenggarakan doa Kumayl bersama di areal masjid Nabawi setiap malam Jum’at. Syiahpun bebas keluar masuk disemua masjid diseantero Arab Saudi untuk shalat. Syiah bebas untuk bergabung dalam jamaah shalat, meskipun imam shalatnya Wahabi sekalipun, berbuka bersama saat Ramadhan dan mendengarkan ceramah-ceramah keagamaan.

Tidak ada satupun masjid di Arab Saudi yang memasang spanduk Syiah bukan Islam atau menetapkan aturan Syiah dilarang masuk masjid, tidak sebagaimana yang dilakukan disebagian kota tertentu di Indonesia, yang memasang spanduk anti Syiah dan mengharamkan Syiah mendekati masjid.

Suasana shalat berjama'ah Sunni-Syiah di salah satu masjid di Arab Saudi

Suasana shalat berjama’ah Sunni-Syiah di salah satu masjid di Arab Saudi

 Pembacaan Doa Kumayl Muslim Syiah di pelataran Masjid Nabawi Madinah

Pembacaan Doa Kumayl Muslim Syiah di pelataran Masjid Nabawi Madinah

Kelima, meski Syiah secara umum ditekan rezim Saudi agar tetap berada digaris ekonomi menengah kebawah, namun tidak sedikit Syiah Saudi yang kaya dan menjadi pengusaha. Termasuk salah satu tokohnya diangkat sebagai menteri di kerajaan Arab Saudi. Anak yatim, janda dan fakir miskin tetap dapat santunan dari Kerajaan, apapun mazhabnya, termasuk warga Syiah.

Keenam, untuk mencegah tersebarnya dakwah Syiah, otoritas Saudi melakukan pelarangan ketat, agar Syiah hanya diberlakukan dikomunitas Syiah, dan dilarang tegas menyebarkannnya kepada komunitas Sunni.

Mufti-mufti Wahabi Saudi maupun para muballighnya secara demonstratif sering mengungkap kesesatan-kesesatan Syiah dimimbar-mimbar namun tidak sampai mengkafirkan secara terang-terangan meskipun mereka meyakini demikian.

Media-media Arab Saudi tidak pernah menyebut masjid Syiah sebagai kuil, atau menyebut ulama dan muballigh Syiah sebagai pendeta atau pastor ketika memberitakan kegiatan-kegiatan atau informasi mengenai Syiah, tidak sebagaimana yang sering tertulis secara provokatif dimedia-media anti Syiah di Indonesia.

Ketujuh, Syiah hidup normal di pemukiman-pemukiman mereka, tanpa gangguan, apalagi pengusiran. Tidak ada warga Saudi yang Syiah harus mengungsi di negerinya sendiri, karena kampung, masjid dan rumah-rumah mereka dibakar. Aksi bom bunuh diri di masjid Syiah, yang menewaskan puluhan orang jamaah shalat Jum’at, mendapat kecaman otoritas Arab Saudi dan akan mengusut tuntas pelakunya. Sekali lagi, media-media Saudi menyebut yang diledakkkan itu masjid, bukan kuil.

Jadi, aksi demonstrasi menentang peringatan Asyura, pemasangan spanduk anti syiah dimasjid-masjid, penyebutan kuil pada masjid Syiah, penyebutan pendeta/rahib pada ulama dan muballigh Syiah, pengusiran satu kampung warga Syiah sehingga menjadi pengungsi, itu hanya ada di Indonesia. Entah belajar dan mencontoh darimana? (ia)

4 Comments

4 Comments

  1. wababi sisapi

    June 3, 2015 at 9:10 pm

    Kaum wahabi salafi di Indonesia mengikuti ajaran Zein al Kaf, Hartono ahmad jaiz, abu bakar baasir, santoso, ali gufron, amrozi dll wahabi kolot sejarah.

  2. haris ali

    August 12, 2015 at 9:36 am

    Bukankah selama ini katanya iran takiyah pura2 memusuhi amerika dan israel padahal sejatinya berangkulan,,,kok bgt ada yg posting kondisi syiah disaudi skrg malah dibilang akibat syiah hub eratbsaudindan amerika terancam jd mana yg bener nih,,,syiah musuh amerika atau syiah temen amerika,,,

  3. Bofandra Muhammad

    August 24, 2015 at 10:51 am

    Mengapa permasalahan perbedaan pandangan politik bisa menyebabkan perbedaan dalam penafsiran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW?

    Semoga diberikan hidayah kepada para alim ulama, supaya umat dapat bersatu untuk menemukan Islam yang sebenar-benarnya.. Aamiin

  4. wababi sisapi

    August 24, 2015 at 3:21 pm

    Bagi Amerika suni syiah sama saja, semuanya adalah musuh, kecuali wahabi salafi yg dungu itu yg terus dimanfaatkan oleh AS. Iran adalah musuh utama AS yg kebetulan bermazhab syiah dan begitu maju. Kalo wahabi salafi bagi AS gak perlu dikawatirkan krn bodoh. Terbukti hanya bisa beli dan gunakan senjata, gak bisa bikin dan gak bisa jadi saingan AS. BOM buatan wahabi salafi juga hanya baru sebatas bom rakitan, blm ada yg modern. Persatuan sunni syiah adalah tiang gantungan bagi AS kafirin dan wahabi salafi munafiqun dungu. Saatnya sunni syiah sadar dan bangkit dari fitnah wahabi salafi zionis. Saudi blm bertindak lebih jauh terhadap syiah di negaranya krn takut kehilangan devisa bagi keluarga kerajaan. Bayangkan jika syiah bangkit di saudi. 20% angkat senjata dari 4 jt jiwa itu, padahal wilayah syiah justru ladang minyak terbesar. Apa gak berabe keluarga kerajaan setan ini. Bangkrutlah jadinya kalo terlalu menekan syiah, Bagi bani saud dari nejed setan terkutuk itu gak mementingkan rakyat, yg utama adalah mrk dapat berkuasa terus dan devisa buat keluarga terus mengalir. Hmm…bodohnya kaum wahabi salafi takfiri. Capek aku mikirinnya…..kw kw kw kw…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: