Fokus

70 Tahun Merdeka Masih Isap Jempol

JAKARTA, Salafynews.com – 70 Tahun negara kita merdeka dari tangan para penjajah, namun kadang yang dikeluhkan dari sebagian orang banyak bahwa kehidupan di negeri tercinta masih seperti dijajah, karena dirasakan yang menikmati kemerdekaan hanya segelintir orang saja. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kesenjangan ekonomi, kepincangan pembangunan, kurangnya pendidikan merupakan kunci dari semuanya.

Menjelang hari peringatan kemerdekaan Indonesia ke 70 diiringi dengan negara besar China dengan sengaja mendevaluasikan uangnya dan menguatnya dollar Amerika Serikat membuat mereka orang yang terjun dalam dunia bisnis sempat kelimpungan.

Sementara itu ada perusahaan yang mengambil kesempatan dalam keadaan kesempitan ini untuk mencari untung sebanyak-banyaknya.. Contohnya ada yang mencoba menunda pendistribusian sapi supaya mereka boleh seenaknya mengelolah harga dan menguasai pasar.

Bagi Amerika sendiri, semakin kuatnya dollar dipasaran, membuat kesulitan dalam persaingan bisnis; itu sebabnya negara ini perlu ahli ekonomi dan strategi kebijaksanaan yang sanggup menarik pangsa pasar, kita tidak tahu apa itu.

Kemerdekaan itu bukan sekadar para penjajah terusir ke luar dari negara kita, karena ternyata sesudah itu masih ada sebagian orang yang mengambil kesempatan sebagai penjajah bagi bangsa sendiri. Yang sangat jelas itu dibidang ekonomi, perbandingan pendapatan yang berbeda jauh membuat jurang pemisah yang begitu tajam antara si miskin dan si kaya.

Ketimpangan pembangunan, pendidikan dan teknologi yang tidak memadai membuat mereka yang berada dipinggiran sulit bersaing dengan yang kota. Tersebarnya secara monopoli ratusan mini market di beberapa kota turut menemplak pedagang kecil yang ada di sekitarnya, sehingga mempersulit mereka berdagang karena modalnya terbatas.

Akhirnya yang terjadi pedagang kecil semakin terjepit sebaliknya keuntungan diperoleh sejumlah mini market yang bertebar di bebagai sudut kota dan masuk ke pinggiran kota telah mematikan usaha pedagang kecil ini.

70 Tahun negara kita merdeka bukanlah jumlah umur yang sedikit, namun jikalau kita melihat kemajuannya negara kita masih kalah terhadap negara-negara lain. Coba banding saja dengan Malaysia yang merdekanya belakangan dari kita, mereka lebih maju bahkan banyak tenaga kerja kita yang mencari nafkah di sana.

Negara kita yang pernah dikuasai oleh seorang presiden lebih dari 30 tahun tidak tergantikan, yang di dalam program kerjanya dan keputusannya sempat hampir membodohi rakyat Indonesia. Pernah terjadi ada peraturan yang melarang bahasa asing Mandarin dipelajari di Indonesia, lalu ada satu dekade iklan berbahasa Inggris dilarang dimana-mana.

Barulah jaman presiden Gus Dur terjadi keterbukaan, bangsa Indonesia kembali boleh belajar Bahasa Mandarin. Dengan kemajuan teknologi secara global dan internasional, mau tidak mau rakyat Indonesia harus mengusai paling sedikit bahasa asing itu. Kita menjadi ketinggalan satu generasi yang tidak boleh belajar bahasa Mandarin, padahal saat ini negara ini yang berkuasa atas ekonomi dunia; kita menjadi sulit menjalin perdagangan dengan mereka.

Senin ini kita memperingati hari Kemerdekaan itu, sungguh merupakan kerinduan segenap anak bangsa agar negara ini makin maju.

Mencari kesalahan dan kambing hitam masa lalu sebenarnya tidak ada gunanya lagi saat ini, tetapi itu fakta sejarah yang terungkap, Kritik di sana sini dan talk show di tv ini dan itu juga sebenarnya tidak ada gunanya saat ini. Menulis seperti yang anda baca saat ini juga sebenarnya tidak begitu berguna bila tidak diaplikasikan dan dijalani secara praktek di lapangan dengan realita.

Teori tanpa praktek tidak dibutuhkan di negera Indonesia saat ini. Negara Indonesia membutuhkan orang-orang yang benar-benar cinta pada bangsa dan negara yang mempunyai keinginan dan tekad bulat untuk membangun bangsa ini, bukan membangun kerajaan atau kelompok pribadi dan sekadar kritik, bukan juga mempermalukan Indonesia. Kita butuh orang yang sanggup membangun rasa segan dari negara luar terhadap kita.

Siapapun dan dari golongan manapun menjadi pemimpin bangsa ini tidak masalah, asalkan orangnya benar-benar hendak memajukan kesatuan bangsa ini kita harus dukung dan bila perlu mengambil bagian di dalamnya. Bila segenap bangsa Indonesia menganggap negara Indonesia sebagai bagian dari kehidupannya, maka segala kebobrokan, ketimpangan, kekurangan, kita akan sama-sama bergandengan tangan ikut dan turut memperbaikinya.

Orang yang cinta pada negara akan membela negaranya mati-matian, dan berjuang melawannya. Ia akan rela berjuang seperti para pahlawan kemerdekaan yang tidak pernah berpikir menikmati kemerdekaan itu sendiri; bahkan sebagiannya mengalami kematian dan ncacat seumur hidup. Perjuangan bagi negara tetapi demi keuntungan sendiri adalah perjuangan yang mendustai bangsa.

70 Tahun negara kita merdeka, ini realita, hasil perjuangan segenap bangsa. Namun sayang sekali hingga hari ini Narkoba, Korupsi, intoleransi Agama, masih menjajah kita. Mari berantas dan lawan bersama, kita harus kompak. Hari ini teman-teman yang tinggal di Luar Negeri tidak pernah mempermasalahkan engkau dari suku apa? Engkau agama apa? Engkau Etnis apa? Tetapi mereka selalu berkata “Saya ini Bangsa Indonesia” , namun mengapa di negara kita tercinta sendiri hal demikian masih sulit diperjuangan?

Di sana-sini masih terdengar gedung ibadah dirusak,ditutup paksa, dilarang beribadah. Antar suku masih belum damai seratus persen. Bangunlah dan sadar, bukan waktunya lagi untuk kita beradu otot, tetapi jaman sekarang jaman beradu otak.” Pakailah segala kepintaran dan pengetahuan kita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Jangan pernah cengeng dan mengeluh dan mengkritik terus-menerus, supaya di forum Internasional kita tidak malu mengaku sebagai Bangsa Indonesia.

Namun jikalau negara kita terkenal korupsi, tentu sangat mempermalukan anak bangsa.“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu” demikian kata John F Kennedy, mantan Presiden Amerika Serikat. Biarlah kemerdekaan kita bukan sekadar slogan, tetapi kita nikmati bersama dalam kenyataan. [SFA]

Selamat Hari Kemerdekaan ke 70

Salam dari Tim Redaksi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: