Analisis

Abu Janda Al-Boliwudi: Mengenang Riyanto Pahlawan Toleran dari Banser NU

31 Maret 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tokoh pendukung toleransi dan tokoh muda NU yang serius dalam hal memerangi Terorisme, Radikalisme, Wahabisme serta kelompok Khilafah, Abu Janda Al-Boliwudi tokoh Nasionalis yang acap kali keluarkan statemen-statemen pedasnya kepada kelompok anti nasionalis dan pemakar NKRI. Abu Janda berikan tulisan untuk penghargaan dalam mengenang salah satu Pahlawan Toleran muda dari Banser NU, yang meninggal ketika selamatkan gereja dari ledakan bom. Berikut tulisannya:

SELAMA NU KUAT, NKRI KOKOH

Mengenang 16 tahun Riyanto, Riyanto adalah seorang anggota BANSER (Barisan Anshor Serbaguna) satgas Jama’ah Islam Nasionalis terbesar di tanah air Nahdlatul Ulama (NU) yang melahirkan tokoh-tokoh besar toleran dan plural seperi Gus Dur, Gus Mus, Cak Nun, dll. (Baca: Stempel Syiah Cara Wahabi, Teroris Serta Kelompok Radikal Padamkan Cahaya Qur’an dan Sunnah yang Cinta Persatuan)

Adalah kebiasaan Banser NU untuk bantu jaga Gereja karena pada masa-masa silam kerap ada serangan teror saat perayaan hari besar disebabkan oleh pemberantasan terorisme BELUM SESERIUS seperti sekarang.

Saat menjaga misa Natal di Gereja Eben Haezer kota Mojokerto, Riyanto menemukan bungkusan plastik mencurigakan.. Nalurinya mengatakan itu bom yang akan meledak, lalu ia berteriak “TIARAP!!”, disusul oleh kepanikan ratusan jemaat Gereja..

Bak pahlawan di film-film Hollywood, Riyanto reflek loncat menindih bungkusan tersebut dengan badannya, lalu “DUAR!!!” bom meledak seperti yang ia perkirakan.. posisi Riyanto yang membekap bom membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. (Baca: Siasat Kelompok dan Media Radikal, Syiahkan dan Liberalkan Ulama Aswaja)

Bagian tubuh Riyanto ditemukan sampai 100 meter dari tempat ledakan. Pengorbanan Riyanto mencegah ledakan melukai ratusan jemaat Gereja di misa Natal 24 Desember 2000. Kini 16 tahun berlalu, nama Riyanto diabadikan menjadi nama jalan oleh PEMDA Mojokerto.

Seragam loreng Banser milik Riyanto yang sudah compang camping akibat ledakan pun diabadikan disamping fotonya yang difigurakan apik. Riyanto mati SYAHID saat JIHAD membela bangsa dari serangan teroris yang mengatas namakan Islam.

Mari kita luangkan waktu sejenak kirim doa untuk JIHADIS NU seusai dengan agama dan keyakinan masing-masing.. Al Fatehah. (Baca: TEMPO: Riyanto, Pahlawan Bom Natal Mojokerto) 

KAUM EKSTRIMIS ITU MINORITAS

Pada kesempatan ini, Ustad juga ingin menjawab komentar yang sering Ustad baca diposting oleh saudara-saudara non Muslim disini, yang kurang lebih bunyinya seperti ini..

“Anda saja lebih banyak Muslim seperti Ustad.. Indonesia pasti damai”

Ustad jelaskan.. Muslim seperti Ustad Abu Janda yang nasionalis, toleran dan plural jumlahnya jauh LEBIH BANYAK daripada Muslim intoleran tukang buat onar.

Hanya saja ada beking kuat yang mendanai kaum Ekstrimis sehingga suara mereka lebih “nyaring” menenggelamkan suara kami Muslim toleran yang jumlahnya mayoritas.

NU sebagai jama’ah Islam terbesar di tanah air selalu berada di garda depan menghadang laju kaum Ekstrimis yang mengatas namakan Islam. NU tak segan-segan vokal meminta pemerintah RI untuk membubarkan ormas-ormas yang meresahkan masyarakat seperti FPI, HTI, bahkan deklarasi perang terhadap ISIS ketika ulama-ulama lain terdiam ketakutan. (Baca: Website Sarkub Bongkar Kepalsuan Wahabi Palsukan Kitab Aswaja)

NU adalah BENTENG NKRI penghadang laju upaya radikalisasi Islam besutan negara-negara Arab sponsor terorisme yang ingin menjadikan Indonesia ladang subur perekrutan SDM untuk kepentingan perang mereka di Timur Tengah.

Fakta ini juga yang membuat NU sering jadi bulan-bulanan serangan FITNAH bertubi-tubi oleh kaum SAWAH (Salafi Wahabi) aliran yang dianut oleh Al-Qaeda, ISIS dan Boko Haram, menyerang NU dengan stigma-stigma seperti Liberal, Kafir, Syiah, dll. (Baca: Stop Sebut “Islam Itu Teroris”, Wahabi Teroris dan Bukan Islam)

Tapi NU akan tetap berpegang teguh pada prinsip “bela NKRI adalah jihad”, karena itu adalah “ijtihad” pada pendiri NU, para Kiyai dan Ulama Pahlawan Bangsa yang ikut memperjuangkan kemerdekaan yang kita hirup sekarang.

KALIMAT NASIONALISME DAN TOLERANSI DARI TOKOH NU

Hasyim Asy’ari, Mahaguru Pendiri NU, “Hubbul wathon minal iman” (Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman).

Achmad Siddiq, Rois Am PBNU, “Pancasila dan Islam adalah hal yang SEJALAN saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan JANGAN dipertentangkan.”

Gus Dur – KH Abdurrahman Wahid, “Sebagai Mayoritas kaum beragama, umat Muslimin di negeri ini harus melindungi agama lain (minoritas). Ini menunjukan kekuatan Islam yang sebenarnya.”

ini adalah “AMALIAH NAHDLIYAH”!

NKRI, Pancasila, Bhineka adalah harga mati bagi Nahdliyin warga NU. (Baca: Umat Kristen Rayakan Paskah, GP Ansor Hadir Kembali Ikut Mengamankan) Selama NU ada, kalian saudara non muslim bisa tidur nyenyak, karena membela bangsa tanpa peduli dia Muslim atau Non Muslim adalah JIHAD bagi kami. Ustad Abu Janda al-Boliwudi, Nahdliyin Densus 99 Sarkub. (SFA)

Sumber: Akun Fanpage Abu Janda Al-Boliwudi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: