Nasional

Agama Tumbal Para Politikus Untuk Puaskan Nafsu Berkuasanya

Minggu, 25 September 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Situasi perpolitikan di Indonesia semakin membahayakan karena sebagian politikus gunakan isu SARA dan menjual agamanya sebagai bemper eksistensi berpolitiknya. Mereka jadikan agamanya sebagai tumbal nafsunya apalagi para politikus yang berlindung di belakang Islam, mulai saat ini berhati-hatilah setiap politisi bicara soal Syariat Islam. Jangan mudah terpesona. Jangan mudah menganggap mereka tokoh Islam hanya karena bicara satu-dua ayat dan hadits. Lihat track record mereka. Cukup sudah politisasi syariat Islam untuk kepentingan sesaat. Mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah. (Baca: Nadirsyah Hosen: Syariat Islam dan Politisi)

Rakyat lapar, mereka kasih ayat. Kota kumuh, mereka beri hadits. Sungai bau, mereka kasih fatwa. Politisi korup, mereka kasih khotbah. Begitulah Syariat Islam di tangan para politisi dan parpol. Tidak ada program konkrit yang mereka tawarkan selain menggunakan mimbar masjid untuk ngompol (ngomong politik).

Kembalikan urusan Syariat Islam kepada para Kiai. Rebut kembali Syariat Islam dari tangan para politisi. Kita kembalikan Syariat Islam ke jalurnya yang benar agar tidak cuma jadi bahan kampanye para politisi. Mari kita jaga kesucian Syariat Islam dari tangan politisi kotor, seperti yang ditulis oleh Professor Nadirsyah Hosen.

Salah satu pengamat politik muda dan berbakat, Ahmad Zainul Muttaqin juga membuat sebuah analisa menarik tentang perpolitikan di beberapa negara di Timur tengah, dan dia juga mengkritisi gaya para politikus yang tunggangi agama sebagai kampanyenya, berikut tulisannya:

ISLAM MENANG SENDIRI

Ada apa dengan umat Islam ketika mereka hidup di alam demokrasi? Melihat fenomena gerakan anti-antian berbau SARA yang terjadi belakangan maka jangan salahkan jika ada sebagian pihak yang kini sampai pada kesimpulan bahwa “umat Islam” ini maunya hanya menang sendiri.

Ironis, sebagian umat Islam gigih membuat penolakan pada seorang pemimpin karena faktor agama yang dianutnya. Seakan lupa bahwa negara tempat mereka hidup bukan negara Islam, bukan Khilafah, bukan Wilayatul Faqih, tapi adalah negara Pancasila yang mencengkram erat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjamin hak setiap warga negara untuk menjadi pemimpin tanpa membedakan ras dan agama. (Baca: Isu SARA Jelang Pilkada, Ketum PBNU: Jangan Jual Nama Tuhan dalam Berpolitik)

Orang-orang itu harus sadar bahwa mereka hidup, cari makan, beranak pinak sampai buang air di sebuah negara yang didirikan atas kontrak sosial yang menjunjung pluralitas yang menghargai semua hak umat beragama untuk berpartisipasi dalam semua urusan bernegara.

Jika ingin fair, saya ingin tahu bagaimana tanggapan orang-orang ini andai umat Kristen London mengadakan aksi deklarasi akbar tolak walikota muslim Sadiq Khan yang baru terpilih secara demokratis kemarin. Bagaimana seandainya tiap gereja dan jalanan di London dipenuhi spanduk-spanduk menolak Sadiq Khan yang mereka anggap “kafir” hingga muncul cacian bahwa ia adalah muslim, minoritas dan bukan pribumi sehingga tidak layak menjadi pemimpin. Saya bisa jamin golongan ini akan mencak-mencak seraya menyebut umat Kristen London tidak fair dan tidak menghargai demokrasi dan konstitusi yang berlaku sambil teriak “Kita harus bela Islam!”.

Kalau anda tidak suka itu terjadi di negara lain lalu mengapa anda melakukannya di negara sendiri? Kalau tidak mau digigit, ya jangan menggigit. Kan simple.

Agaknya mulai susah untuk melepaskan paradigma bahwa ketika umat Islam hidup di sebuah negara demokrasi dan sekuler yang menjunjung kesetaraan hak WN, maka mereka hanya akan mau menangnya sendiri, disuperioritaskan di atas yang lain. Apakah ini Islam?

Sedikit saja contohlah kelompok muslim Syi’ah di Lebanon dengan kelompok Hizbullahnya yang menghargai konstitusi negara dimana ia tinggal. Dengan kerendahan hati Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrullah memberikan dukungannya pada kandidasi Michel Oun yang beragama Kristen Maronite sebagai Presiden Lebanon, karena konstitusi Lebanon telah menetapkan posisi Presiden harus berasal dari kalangan Kristen Maronite, Jubir Parlemen dari kalangan Syi’ah dan Perdana Menteri dari kalangan Sunni. (Baca: Inilah Perang Politik Gelap Kader PKS Jonru di Rawajati)

Lalu pernahkah kelompok Hizbullah berbuat makar dan main hakim sendiri atas peraturan bersama yang telah disepakati? Pernahkah mereka berniat mengganti konstitusi negara menjadi wilayatul faqih misalnya seperti yang dianut Iran. Padahal Hizbullah adalah gerakan muqawwamah Lebanon yang memiliki jutaan simpatisan fanatik yang bukan hanya dari kalangan Syi’ah, tapi juga Sunni dan umat Kristiani, dan mereka juga ditunjang persenjataan mutakhir yang disokong penuh Iran dan Suriah.

Lalu dengan itu semua pernahkah mereka menjadi benalu bagi negaranya? Padahal bisa saja mereka mengambil alih kekuasaan Lebanon dengan tangan besi, sangat mampu! Tapi itu tidak pernah terjadi karena Hizbullah didirikan bukan untuk menjadi gerakan separatis, tapi untuk mengkonfrontasi misi Israel Raya memperluas pendudukan ke Lebanon Selatan.

Bahkan calon walkot London George Galloway pernah berkata Sayyid Hasan Nasrullah seharusnya menjadi Presiden Lebanon karena pengaruhnya, dimana ia menambahkan andai Sayyid Hasan Nasrullah menyerukan Jihad Akbar melawan Israel, maka setengah Lebanon akan hilang meninggalkan negaranya untuk pergi berperang.

Saya rasa inilah sejatinya Islam. Islam yang tidak menjadi benalu bagi negara, dan justru menjadi pelindungnya. Islam yang menghargai konstitusi dan kontrak sosial bernegara karena Islam tidak mengajarkan berbuat fasad selama hukum yang berlaku masih fair memperlakukan muslim dan umat agama lain tanpa diskriminasi dengan kesetaraan hak. Bagaimanapun perbedaan adalah keniscayaan sebagaimana piagam Madinah yang disepakati Nabi bersama kaum non-muslim telah menjadi tanda bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mau menang sendiri. (Baca: Ulama ASWAJA Lebanon Jelaskan Fakta Siapa Hizbullah dan Sepak Terjangnya?)

Itu hanyalah sebuah contoh dari islam Rahmatan Lil ‘Alamin yang ditunjukkan seorang Sayyid keturunan Rasulullah di Lebanon, yang dianugerahi jutaan pengikut dan persenjataan mutakhir namun mengabdikan dirinya menjadi pelindung negara dan penjaga Kebhinekaannya. Bukan Islam ala seorang Sayyid di daerah anu dengan ribuan pengikut bermodal pentung namun menunjukkan Islam yang mau menangnya sendiri. Itu. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Ahmad Zainul Muttaqin

1 Comment

1 Comment

  1. hend

    September 26, 2016 at 2:32 pm

    Kita memang tdk berperang etnis, krn islam tdk membedakan bangsa dan ras, tapi dlm islam tiap saat kita hrs berperang, berperang dg hawa nafsu, berperang utk menegakkan aqidah keyakinan, mrngamalkan AlQuran hadist tdk setengah setengah berdasarkan kehendak hati, jd sangat naif menyamakan antara london dg jakarta sama hal menyamakan antara Al Quran dg injil yg tdk murni itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: