Internasional

Amerika Digoncang Krisis Nasional Terkait Rasisme Aparat

Salafynews.com – Berlanjutnya protes rasisme di Amerika Serikat memaksa ketua DPR negara ini mengakui bahwa hubungan antara warga Amerika keturunan Afrika dan aparat keamanan berubah menjadi krisis nasional di AS. John Boehner, ketua DPR AS dalam wawancaranya dengan televisi NBC menekankan bahwa aparat publik tidak seharusnya terlibat aksi kekerasan.

Kondisi di Amerika dalam beberapa hari ini menurut tokoh ketiga AS, setelah presiden dan wakilnya, berubah menjadi krisis nasional. Di krisis ini, beberapa juta warga Amerika keturunan Afrika menjadi sasaran kekerasan aparat penegak hukum, yakni polisi. Selama satu tahun lalu, berbagai laporan terkait kasus penembakan tanpa sebab atau serangan mematikan polisi kulit putih kepada warga kulit hitam dirilis.

Di kasus seperti ini, polisi setelah menetapkan seseorang menjadi tersangka, biasanya pemuda atau remaja, mereka dijadikan sasaran tembak atau selama masa penahanan mereka dibantai. Kasus terakhir dari kekerasan ini adalah Freddie Gray, seorang pemuda kulit hitam setelah ditangkap polisi menderita pukulan pada tulang belakang secara mencurigakan dan kemudian meninggal di rumah sakit.

Menyusul insiden tersebut, kota Baltimore dilanda kerusuhan dan aksi protes jalanan terhadap kekerasan dan rasisme polisi Amerika selama beberapa tahun terakhir. Pastinya dalam sejarah Amerika, aksi protes jalanan warga kulit hitam menentang rasisme dan diskriminasi di negara ini tidak sedikit. Puncak dari protes ini terjadi pada dekade 1950-1960 yang berujung pada peratifikasian undang-undang hak sipil dan hak memilih bagi warga kulit hitam.

Meski demikian, yang membuat kondisi saat ini bila di banding dengan era perjuangan gerakan hak sipil pada 50 tahun lalu menjadi krisis nasional adalah kebangkitan warga Amerika yang terzalimi. Selama beberapa bulan terakhir, polisi di sejumlah kota Amerika menjadi target penembakan dan tewas. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa polisi tersebut dari warga kulit putih atau keturunan Amerika Latin serta menjadi korban aksi pembalasan dendam.

Jika hubungan antara kekerasan polisi rasis dan pembunuhan sejumlah aparat penegak hukum terbukti, maka masyarakat Amerika diambang krisis keamanan yang parah. Negara ini tercatat sebagai negara yang rakyatnya memiliki senjata terbesar di dunia dan dari tiga warga Amerika, dua di antaranya bersenjata. Mayoritas senjata tersebut dimiliki oleh warga kulit berwarna dan keturunan Afrika.

Diprediksikan jika protes warga dan aksi damai menentang rasisme serta kekerasan aparat kepolisian Amerika tidak memberi hasil, atau aksi protes ditumpas secara brutal, maka dikhawatirkan masyarakat yang ditindas dan memiliki senjata ini akan membalas dendam.

Masyarakat Amerika dari satu sisi disibukkan dengan aksi protes anti rasisme dan dari sisi lain, akibat krisis ekonomi beberapa tahun terakhir dan menurunnya program pelayanan sosial dan kesejahteraan publik, sangat tertekan. Sementara itu, janji-janji yang diumbar politikus untuk menghapus ketimpangan sosial dan mengurangi jurang pemisah di masyarakat sampai kini belum membuahkan hasil. Oleh karena itu, sejumlah pihak meyakini, jika kondisi terus berjalan seperti saat ini, Amerika akan menghadapi tensi sosial yang sangat parah. Bahkan dapat berujung pada meletusnya revolusi atau bahkan perang antar etnis.

Statemen petinggi dari kubu Republik Amerika, yakni ketua DPR negara ini, John Boehner yang menggunakan istilah krisis nasional  saat menyikapi aksi protes anti rasisme saat ini di AS menjadi lonceng tanda bahaya bagi peristiwa berdarah di masa depan. (jb)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: