Analisis

Analis: Bungkamnya Dunia Atas Kekejaman Saudi di Yaman

Salafynews.com, JAKARTA – Selama hampir lima bulan sejak 25 Maret 2015 koalisi Arab yang dipimpin Saudi telah membom Yaman hampir setiap hari. Serangan bahkan makin menjadi-jadi di bulan suci Ramadhan dan pada saat-saat gencatan senjata yang beberapa kali diumumkan dan dilanggar sendiri. (Baca Arab Saudi Tak Hiraukan Ramadhan, Terus Gempur Yaman)

Puing-puing Bekas Serangan Saudi

Puing-puing Bekas Serangan Saudi

Setelah target-target militer habis dibom, pesawat-pesawat tempur Saudi dibantu dengan perangkat perang dan informasi intelijen Amerika dan Israel tanpa pandang bulu membabi buta membom target-target sipil seperti rumah penduduk, pabrik-pabrik, rumah sakit, dan sekolah.  Seluruh anggota keluarga penjaga rumah mantan perdana menteri Faraj bin Ghanem tewas seketika ketika rumah mantan pejabat tersebut dibom. Sekolah Albastain di Yaman barat laut dibom ketika siswa sedang siap-siap hendak makan siang. Puluhan siswa terluka dan tewas. (CNN, 15 April). (Baca Serangan Udara Saudi Terus Membunuh Rakyat Sipil Yaman)

Sebuah rumah sakit di kota Harad, propinsi Hajjah dihancurkan dengan bom sehingga korban-korban sipil tak bersalah berjatuhan (Al-Masirah channel). Tidak lepas pula dari serangan bom Saudi adalah kantor konsulat Rusia di Aden, Yaman selatan. (Globalsearch.com).  Sepuluh hari yang lalu, dua buah bangunan asrama pekerja pusat tenaga listrik telah menjadi sasaran bengis terbaru dengan korban 65 pegawai sipil beserta keluarganya tewas dan puluhan cedera (HRW-Human Rights Watch). (Baca Serangan Saudi Hancurkan 13 Rumah Sakit di Sadaa)

Tidak cukup dalam tulisan ini memuat semua detil serangan dan korban yang diakibatkannya. Selama hampir 5 bulan  serangan Saudi ke Yaman ditaksir telah menghilangkan 4500 nyawa serta lebih dari 20.000 cedera, sebagian besar warga sipil termasuk orang tua, wanita dan anak-anak. Belum lagi termasuk lebih dari 240 bangunan sipil dan infrastruktur yang dihancurkan di negeri itu.

KEJAHATAN PERANG DI YAMANKorban-korban yang jatuh di Yaman serta kehancuran yang dialami negeri itu diperkirakan jauh lebih besar dari korban serangan brutal Israel di Gaza. Sampai artikel ini ditulis, militer Saudi masih terus melakukan pemboman dan pengepungan negeri miskin itu dari udara, darat, dan laut yang oleh PBB disebut telah mengakibatkan tragedi kamanusiaan terberat sepanjang sejarah di Timur Tengah.

Inilah negeri yang menyatakan dirinya sebagai negara Islam (Baca Arab Saudi bukan “Negara Islam”, Tapi “Penjual Islam”) dan mengaku sebagai pelayan dua tempat suci di Arabia (Baca Antara Haramain dan Kerajaan Monarki Arab Saudi) namun pada waktu yang sama menghamburkan pelurunya dengan sasaran sesama muslim dan Arab. Inilah negeri yang belum pernah membantu perjuangan rakyat Palestina dengan mengarahkan moncong meriamnya ke daratan Israel tapi justru sekarang secara terbuka bekerjasama dengan Israel membantai rakyat Yaman. Pemerintah dinasti Saud berdalih bahwa serangannya ke Yaman bertujuan memulihkan demokrasi dan mengembalikan pemerintahan yang sah dimana perdana menterinya Abd Rabbuh Mansur Hadi telah melarikan diri ke Saudi. Alasan lain adalah untuk menghabisi kelompok Houthi yang dianggap telah merampas kekuasaan yang sah dengan bantuan Iran. Semua dalih itu sulit diterima akal. Pertama, bagaimana mungkin sebuah negeri yang tidak kenal demokrasi dan diperintah oleh dinasti secara turun temurun mau memperjuangkan demokrasi di tempat lain? Kedua, pemerintahan perdana menteri Jenderal Mansur Hadi adalah pemerintahan boneka Saudi yang terusir karena kehendak rakyat Yaman yang tertindas. Mansur Hadi terpilih sebagai calon tunggal presiden transisi untuk masa waktu dua tahun pada 27 Februari, 2012. Karena pemilu tidak kunjung diadakan, Hadi terdesak dan mengundurkan diri pada 21 Januari, 2015. Anehnya, setelah mundur dia pergi ke Aden,ibukota Yaman Selatan, dan mendirikan pemerintahan Yaman disana.

Ketika pejuang Houthi akhirnya berhasil menguasai Aden, Hadi dengan menggunakan jalur laut lari ke pangkalan militer Saudi terdekat dari Yaman. Ketiga, Ansarullah atau lebih dikenal sebagai kelompok Houthi adalah warga minoritas Yaman beraliran Syiah Zaidi. Houthi pada awalnya hanyalah sebuah gerakan teologi damai, namun ketika kawasannya di distrik Sa’ada berulang kali diserang mereka menjelma menjadi kelompok oposisi. Perjuangannya berhasil menyingkirkan kelompok penguasa dan mereka mendapat dukungan luas dari rakyat karena menurut laporan Nesweek Februari 2015 Houthi memperjuangkan “semua yang diinginkan warga Yaman yakni akuntabilitas pemerintahan, pemberantasan korupsi, pelayanan publik, lapangan kerja, subsidi BBM, dan berakhirnya campur tangan asing (Barat) di Yaman”. (Baca Makar Amerika, Media Arab dan Barat Atas Perang Yaman)

Dengan demikian jelas sudah bahwa alasan agresi Saudi sebenarnya bukanlah yang disampaikan secara resmi oleh Monarki Saudi. Agresi Saudi didorong oleh kekhawatiran merembetnya pengaruh revolusi 2011 Yaman ke daratan Saudi yang berbatasan darat dengan Yaman. Juga ada kekhawatiran atas meluasnya pengaruh Iran di kawasan dan kepentingan Barat untuk menguasai teluk Aden dan Baab el Mandeb yang sangat stretegis bagi kemanan dan perdagangan di Teluk. Lebih gawat lagi, dalam rangkaian propagandanya guna mendapatkan dukungan luas dunia Islam, kerajaan Saudi telah menjadikan perang ini sebagai perang agama, perang Sunni melawan Syiah (Sektarian). Padahal aliran Syiah Zaidi yang dianut kelompok Houthi itu lebih dekat kepada Ahlusunnah daripada kepada Syiah Imamiyah yang dianut mayoritas warga Iran.

Ansarullah atau Houthi, lagi-lagi menurut Newsweek, adalah  kelompok yang telah ratusan tahun hidup berdampingan secara damai dengan mayoritas Sunni di Yaman dan sangat  independen sehingga tidak mudah dikendalikan oleh kekuatan asing termasuk Iran. Diamnya Dunia Agresi Saudi dan kawan-kawannya ini berlangsung lebih lama dan menimbulkan korban lebih besar dibanding serangan Israel ke Gaza. Disamping korban tewas, cedera, dan kehancuran infrastruktur, serangan itu telah menyengsarakan 26 juta penduduk Yaman yang kehilangan ketenangan, kebutuhan sehari-hari, obat-obatan, bahan bakar, listrik, dan kehidupan anak di sekolah-sekolah.

Namun, yang paling tragis adalah diamnya dan ketidakpedulian dunia atas tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi sampai saat ini disana. Ketika Israel menjatuhkan bom-bomnya ke Gaza, masyarakat dunia dari berbagai negara dan unsur masih menunjukkan  kepeduliannya dengan adanya protes-protes dan demonstrasi dimana-mana yang sedikit banyak membantu menekan Israel untuk menghentikan kebrutalannya. Kali ini baik PBB maupun negeri-negeri di dunia diluar Iran dan Rusia diam seribu bahasa membiarkan Saudi yang melanggar semua hukum internasional dan norma kemanusiaan leluasa membabat sebuah negeri miskin yang sangat tidak sebanding kekuatan militernya. Seakan-akan warga Yaman dianggap bukan manusia. Seakan-akan dunia mempersilahkan kerajaan Saudi mengumbar nafsunya sampai puas menghabisi prikehidupan di Yaman. Indonesia yang punya keterkaitan sejarah panjang dengan Yaman, khususnya dengan Hadramaut, walau tidak mendukung serangan Saudi seperti Malaysia, juga tidak mengecam dan tidak melakukan upaya diplomatis yang serius untuk menghentikan kebrutalan Saudi. (Baca Misteri Perang Yaman Terungkap)

Entah sampai kapan situasi ini akan berlalu, padahal banyak pihak sepakat bahwa tidak akan ada pemenang dalam pertikaian berdarah ini. Saudi tidak akan dapat meraih tujuan serangannya dalam perang asimetri ini seperti juga invasi militer dan cara kekerasan Amerika di Iraq, Afghanistan, Libiya, dan tempat lain dalam “perang” melawan terorisme yang tidak menyelesaikan masalah.

Bila jalan politik tidak diupayakan maka suatu saat pemerintah Saudi juga akan kehabisan napas dan ujungnya akan menggunakan kekuatan teroris ISIS, Al-qaeda, dan lainnya untuk terus mengganggu Yaman, seperti dilakukannya sekarang di Irak dan Suriah. Para penguasa dunia yang bernafsu mempertahankan dominasi dan kekuasaanya ini telah dibutakan oleh kenyataan sejarah berkali-kali bahwa kekuatan rakyat yang sejati tidak mungkin dikalahkan meski dengan senjata secanggih apapun. (SFA/MM/Kompasiana)

Penulis : Abdillah Toha Pemerhati Politik Timur Tengah

3 Comments

3 Comments

  1. Habib Hasan Alatas

    January 8, 2016 at 8:37 pm

    Jika sekiranya jiran kita dalam keadaan pertengkaran keluarga, seperti apa yang terjadi di Yaman dimana Rakyat Yaman menentang peresidennya yang menjadi hamba Imperialis AS dan hamba abdi keluarga Raja baduwi dari Najd, sepatutnya Raja Baduwi dari Najd patut menjadi pendamai dan mencari jalan bagaimana mendamaikan anak dengan Bapak nya. Tapi sayang Raja Baduwi dari Najd tidak berusaha untuk mendamaikan jirannya tapi dia berat sebelah dan haus darah rakyat miskin Yaman, sehingga sampai hati dia berpakat dengan negara -negara (negara yang mengharapkan bantuan keuangan dari padanya dapat diteruskan) oleh Raja Baduwi dari Najd, mereka tersesat jalan yang dimurkai Allah SWT sehingga turut serta ikut membunuh saudaranaya sesama Muslim di Yaman. Mereka turut merusak masjid, rumah sakit , mereka ikut membunuh wanita dan anak-anak kecil yang tak berdosa. Mereka tidak patuh kepada ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w. Mereka menjadi manusia pengecut terhadap Zionis Israel tapi sangat berani terhadap sesama Muslim. Mereka lupa bahawa Hukuman Allah akan menimpa mereka disatu saat nanti, Allah SWT tidak akan membiarkan perbuatan Zalim terhadap orang yang susah,miskin, dan lemah. Sama=sama kita akan saksikan nanti.

  2. Pingback: Kisah Sedih Mustofa Kecil yang Buta Korban Bom Saudi | SALAFY NEWS

  3. Pingback: Pengakuan Palsu Menlu Arab Saudi Dihadapan Sekjen PBB | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: