Analisis

Analis: Sekjen Hizbullah Buyarkan Mimpi Erdogan di Suriah

Minggu, 19 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Salah satu pengamat muda Timur Tengah di media sosial, Ahmad Zainul Muttaqin, memberikan analisa menarik tentang sebuah mimpi Erdogan yang hampa, tulisan yang menarik sekali untuk kita jadikan wacana dalam memandang Ambisi semu Erdogan untuk tegakkan kembali Khilafah Utsmaniyah di Suriah yang telah gagal total, Berikut tulisannya:

“MIMPI BASAH ERDOGAN DAN ‘EJEKAN’ SAYYID HASAN NASRULLAH”

Masih ingat dengan kata-kata Erdogan berikut? “Suatu saat aku akan shalat di Masjid Umayyah Damaskus dan akan berziarah ke makam Shalahuddin Al-Ayubi disana”. Tanpa saya duga baru kemarin membaca bahwa Sekjen Hizbullah Hasan Nasrullah tergelitik untuk menanggapinya, ini jawabannya “Jangankan untuk shalat di Damaskus, untuk shalat di Aleppo pun kini sudah menjadi hal yang mustahil bagi Erdogan”.

Seperti kita ketahui, Aleppo adalah wilayah Suriah yang berlokasi paling dekat dan berbatasan langsung dengan Turki. Kata-kata Hasan Nasrullah itu bagaikan ejekan atas sesumbar Erdogan. Jangankan untuk merebut Damaskus yang berada di Selatan Suriah dan harus melewati berbagai wilayah semacam Idlib, Hammah dan Homs, bahkan untuk menguasai Aleppo di utara yang berbatasan langsung dengan Turki saja para pemberontak binaan Erdogan tak mampu. (Baca: Erdogan Berlumuran Darah Rakyat Turki dan Suriah)

Memang lucu, disaat Erdogan mengatakan itu sudah bertahun-tahun lamanya, sampai saat ini pun tidak terlihat perkembangan berarti bagaimana cara pemberontak backingan Erdogan merebut pusat pemerintahan Suriah di Damaskus (Dalam literatur hadits Nabi Damaskus ini disebut sebagai benteng umat Islam di akhir zaman).

Wilayah-wilayah Suriah memliki populasi besar masih kuat dikuasai oleh Pemerintah. Sekalipun di peta geografis terlihat wilayah kekuasaan pemberontak (FSA, ISIS, Jabha Al-Nusra, Ahrar Al-Syam, Jayshul Fath, Jayshul Islam dll) terlihat cukup besar tapi wilayah-wilayah yang dikuasai bukanlah wilayah strategis dan tidak berpopulasi besar. Ketika wilayah-wilayah itu diinvasi oleh pemberontak, rakyat Suriah sendiri memilih untuk mengungsi ke wilayah-wilayah yang dikuasai Pemerintah semacam Damaskus, Tartous dll.

Belum lagi jika bicara antara satu faksi pemberontak satu dengan lainnya yang tidak sepaham. Walau ideologi mereka dasarnya sama, tapi mereka sendiri sering bersitegang bahkan saling bantai dan saling penggal. Contohnya FSA dan saling bantai dengan ISIS, lalu Jabhat Al-Nusra yang pernah saling adu tembak dengan Jayshul Islam berkaitan kematian salah satu komandannya. Barisan pemberontak FSA dan Jabhat Al-Nusra menganggap ISIS sebagai Khawarij, sedangkan ISIS sendiri menganggap barisan kubu pemberontak lain sebagai sekuler, Hizbiyyah yang tidak hendak menegakkan syariat dan kekhalifahan Islam melainkan negara demokrasi yang dalam pandangan mereka adalah kafir. (Baca: Era Erdogan Akan Segera Berakhir)

Faksi pemberontak sendiri saling terpecah dan saling menumpahkan darah. Kendati hampir semuanya mendapat dana dan logistik persenjataan dari entitas-entitas asing yang sama semacam Turki, Saudi, Qatar, USA, Israel dan NATO (baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi), itu tidak bisa menyatukan mereka dalam satu barisan.

Jika pun salah satu faksi kelak bisa menguasai Suriah, maka itu tidak akan selesai. Mereka akan menghadapi faksi pemberontak lain yang juga ingin merebut kekuasaan, belum lagi perlawanan rakyat Suriah yang dikenal mayoritas “Sekuler”. Dan itupun jika kelak mereka mampu menundukkan sang Beruang Rusia di tanah Suriah. Sungguh panjang perjalanan, dan jauh lebih panjang daripada umur Erdogan di kursi kekuasaan Turki, bahkan mungkin lebih panjang dari usia Erdogan sendiri. Dan saat ini mungkin sudah cukup menjadi mimpi basah Erdogan di siang bolong.

Erdogan tidak bisa menutup mata akan hal ini. Suriah itu rumit, jangankan untuk menundukkan Suriah dan sekutunya Rusia, Hizbullah dan Iran disana. Baru ia menjatuhkan sebuah Jet Rusia Su-24 di Lattakia Utara saja, Erdogan sudah terlihat ketar-ketir. Langsung mengontak Putin via telepon (yang tidak dijawab oleh Putin). Lalu ia memanggil seluruh Jenderalnya dan melakukan pertemuan dengan Obama dan para sekutunya di NATO. (Baca: Pengakuan Heboh Clinton: Amerika Ciptakan Al-Qaeda, Nato-Israel Ciptakan ISIS)

Dan tampaknya Obama dan NATO pun tidak begitu antusias untuk membela sekutunya ini dari api yang disulutnya sendiri melawan Rusia. Realistis, karena Rusia adalah raja nuklir terbesar di muka bumi dan salah satu kekuatan paling leading dalam hal tekhnologi militer, dimana Dmitry Kiselyov pernah berkata “Rusia adalah satu-satunya negara di muka bumi yang secara realistis mampu mengubah USA menjadi debu radioaktif”.

Untuk aksi penembakan Su-24 itu, Putin menyebutnya sebagai ‘Backstabbed’ (tikaman dari belakang), syukurlah Rusia tidak lagi berada di era Uni Soviet yang dipimpin oleh Vladimir Lenin atau Joseph Stalin, melainkan seorang Vladimir Putin yang sikap dan kata-katanya terukur beberapa langkah ke depan sehingga Armageddon di Suriah tidak (atau belum) terjadi. (Baca: KETAKUTAN! Sekjen NATO: Kami Tidak Ingin Konfrontasi dengan Rusia)

Peran Rusia memang benar-benar sebagai ‘The Game Changer’ di Suriah. Kendatipun Putin baru menurunkan ‘seujung jari’-nya di Suriah, koalisi USA dan negara-negara teluk ketar-ketir. Negara-negara teluk bahkan PM Israel Netanyahu sampai buru-buru datang ke Moskow untuk melobbi dan mempertanyakan aksi Rusia di Suriah untuk mencegah ‘kesalahpahaman’.

Putin telah membuktikan kata-katanya saat menanggapi rencana USA dan sekutu di Dewan Keamanan PBB untuk menginvasi Suriah al Assad saat ia berkata, ‘Jika sekutu kami diserang, kami katakan ya mungkin kami akan datang.” Dan ia benar-benar datang kendatipun rencana USA dan sekutu untuk menurunkan kekuatan militer besar-besaran melawan Suriah sudah ia veto bersama China di DK PBB.

Mungkin dunia saat ini harus berterima kasih kepada hak veto yang dimiliki Rusia dan China di DK PBB yang sejauh ini sudah mampu setidaknya meredam dan mengamankan dunia dari ambisi perang tak berkesudahan USA dan koalisinya. Jika tidak, mungkin Perang Dunia 3 sudah terjadi hari ini di Suriah (karena Rusia pasti tidak akan tinggal diam) dan jutaan nyawa melayang. Dan veto Rusia dan China yang terakhir sudah mampu mencegah keinginan koalisi USA untuk memasukkan Hizbullah sebagai organisasi Teroris Internasional dalam list PBB. (Baca: Erdogan: Kami Tak Tahu Kalau Itu Pesawat Rusia, Putin Tak Angkat Telpon Saya)

Tidak heran jika USA dan sekutunya sejak era 1990-an mengajukan wacana reformasi PBB untuk mencabut hak veto Rusia dan China di DK PBB. Tentu tidak akan semudah itu, namun mereka sudah menerapkan strategi diplomasi untuk mengajukan beberapa kekuatan regional baru untuk dimasukkan dalam list anggota tetap DK PBB yang tentu secara kuantitas akan menjadi rival Rusia dan China dalam kebijakan keamanan dunia. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Ahmad Zainul Muttaqin

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: