Internasional

Analisa Denny Siregar: Perang Saudi-Iran

03 Januari 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Sejak Revolusi Iran di tahun 1979, api revolusi sebenarnya sudah menjalar ke timur tengah.

Revolusi Iran menjatuhkan sistem monarki yang selama ini dijadikan cengkeraman kuku barat untuk menguasai satu negara. Negara-negara arab yang masih menggunakan sistem monarki sangat ketakutan api revolusi itu mengguncang kekuasaan mereka. Karena itulah mereka bersatu melakukan propaganda dengan kucuran dana triliunan rupiah ke seluruh dunia untuk menyatakan bahwa mazhab syiah – mazhab dalam Islam yang dianut mayoritas penduduk Iran-sesat. (Baca: Perang Sektarian Untungkan Zionis Israel)

Iran sudah beberapa kali dipancing untuk perang, tetapi bagusnya mereka bisa menahan diri. Peristiwa tewasnya jamaah haji di Mina, yang terbanyak dari Iran, dikabarkan adalah bagian dr memancing perang. Banyak dari jamaah haji itu yang mati dan hilang adalah petinggi militer dan ilmuwan Iran.

Kenapa Iran menahan diri untuk menyerang padahal secara persenjataan mereka sudah kuat?

Begitu gencarnya propaganda oleh media zionis tentang Iran, membuat Iran harus sangat berhati-hati. Ketika Iran menyerang suatu negara, maka otomatis mereka akan diserang banyak negara dengan alasan Iran melakukan agresi. Dan mereka terus memancing Iran untuk melakukan agresi, seperti pancingan mereka yang kena saat Saddam Hussein Irak menginvasi Kuwait. (Baca: Menteri Perminyakan Suriah Bongkar Transaksi Gelap Turki dengan Teroris ISIS)

Ketika di Suriah pun, Iran sangat berhati-hati. Mereka bekerjasama dengan Rusia untuk membantu Suriah, karena kalau Iran yg turun langsung maka stigma bahwa Bashar Assad Syiah seperti yang mereka tuduhkan, akan semakin kuat. Kalau Rusia yang maju di depan, siapa yang bisa mengarahkan isu suriah ke arah sektarian? Tidak ada.

Eksekusi Sheikh Nimr -ulama Syiah di Saudi- oleh pemerintah Saudi adalah bagian memancing Iran keluar dari kandang. Sheikh Nimr dikenal sebagai seorang ulama yang sering bicara vokal terhadap perilaku keluarga kerajaan Saudi. Saking vokalnya, ia kemudian dicap teroris dan akhirnya di hukum pancung. (Baca: 10 Alasan Mengapa Kerajaan Saudi Wajib Ditentang)

Eksekusi ini memantik api di dada penganut syiah di Negara-negara Arab. Selain di Iran mereka membakar konsulat Saudi, di bahrain dan yaman aksi ini memicu demonstrasi dimana-mana. Bahkan Hizbullah keluar dengan statement keras bahwa eksekusi Sheikh Nimr adalah awal keruntuhan Saudi.

Pertanyaannya, apakah Iran akan terpancing keluar untuk menyerang Saudi?

Saya rasa tidak. Iran paham bahwa ketika mereka terpancing untuk menyerang Saudi, maka Saudi akan menggemborkan propaganda perang Sunni-Syiah, dan ini akan membenturkan muslim dengan muslim.

Iran mempunyai Jenderal Qassim Sulaemani, seorang ahli perang dengan strategi menyusup dan memecah pasukan dari dalam. Keahlian ini pernah diakui pemimpin ISIS, al-Baghdadi, bahwa kekalahan mereka karena ada penyusup dari dalam yang membuat pasukannya saling penggal. (Baca: Media Israel “Bunuh” Sang Shadow Commander “Qassem Soleimani”)

Dan Jenderal Qassim pasti akan memainkan kembali peranannya. Ia menyusup ke Saudi, membakar pemberontakan di dalam Saudi, dan memanfaatkan perikaian serius antara para pangeran yang sekarang sedang berebut kekuasaan pasca meninggalnya raja abdullah dan memanfaatkan penyakit pikunnya raja salman.

Saudi sedang membangkitkan singa-singa tempur persia. Dan hati-hati, situasi ini akan berpengaruh juga untuk kita di Indonesia.

Semoga kopi kita tetap dingin melihat situasi yg berkembang semakin panas. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: