Opini

Aneh, Pengelola Situs Radikal Merasa Dirinya Ramah

Pengelola Situs Radikal mengecam tindakan pemerintah melakukan pemblokiran.

Pemblokiran dilakukan Kemenkominfo atas rekomendasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kepada situs Islam yang diduga radika‎l.

“BNPT seperti monster, main gebuk saja tanpa beritahu. Makin lama makin berbahaya. Kenapa yang diteliti ini,” kata Abdul Halim yang mengelola situs DaulahIslam.com saat audiensi dengan Komisi I DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (1/4/2015).

“Kami Enggak puas Karena seharusnya diajak bicara. Kalau pembinaan bukan begini caranya. Bagian mana yang dianggap berbahaya? Kalau mengkafirkan seseorang sebutkan satu bukti saja, yang mengkafirkan, tapi mereka Enggak jawab,” kata pengelola situs Hidayatullah.com

 

Satu hal yang aneh sekaligus menggelikan, melihat penganut radikalisme tiba-tiba mengaku ramah. Siapa yang tidak tau bahwa 19 situs itu memang sering memposting hal yang radikal, mengandung isu SARA dan penuh hatespeech.

Sampai hari ini pun, bukti-bukti kekerasan yang disebutkan pun masih menempel jelas di dinding website yang mereka kelola. Mulai dari membid’ahkan maulid, tahlil, mengkafirkan sesama muslim sampai menghina agama lain dengan kata-kata yang kotor.

http://www.salafynews.com/2015/03/bukti-bukti-19-situs-yang-diblokir-bernuansa-radikal-dan-mengandung-unsur-sara/

Belum lagi postingan berupa dukungan kepada para Teroris ISIS maupun Teroris dengan nama lain di Timur Tengah. Semua mata menyaksikan betapa para teroris yang mereka sebut mujahidin itu memporak-porandakan negara yang sebelumnya aman dan damai. Dan pemerintah Indonesia pun khawatir akan berkembangnya pemikiran radikal ini.

Sungguh aneh ketika mereka meminta bukti postingan mereka yang memiliki unsur radikal. Apakah mereka tidak melihat, hanya dengan sekali klik saja, kita dapat menyaksikan berbagai judul berita ataupun artikel yang berbau kekerasan.

Berbagai media juga telah membuktikan kebohongan demi kebohongan yang mereka buat. Anehnya, mereka juga tidak sadar akan hal itu. Penutupan situs radikal itu dihebohkan dengan demo penutupan situs islam di sosial media.

Kita akan bertanya, situs islam yang mana?

Situs islam itu bertujuan untuk memuliakan islam dan menguatkan keislaman. Bukan menghancurkan nama islam dan mencap kafir sana sini.

Selain itu, hebohnya dukungan terhadap situs radikal ini membuktikan kekuatan mereka di media. Entah itu media sosial atau media yang lain. Mereka telah menanamkan benih radikalisme yang begitu kuat pada penduduk media sosial hingga bisa mewujudkan trending topic dalam sehari saja.

Langkah Menkominfo memang berani dan cepat, tidak semua menteri berani mengambil langkah ini. Kita sebagai masyarakat selalu mendukung pemerintah dalam membakar habis benih-benih radikalisme di Indonesia. (yh)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: