Analisis

Arab Saudi Tenggelam Di Yaman

Arab Saudi Tenggelam di Yaman

Penulis : Yusuf Dhia-Allah

thSalafynews.com – Membunuh banyak sekali warga sipil dan menghancurkan infrastruktur di Yaman tidak lantas memberikan kemenangan untuk Saudi. Lalu apa yang harus dilakukan para badui itu sekarang?

Para Badui Najd (Arab Saudi) telah menempatkan diri mereka sendiri dalam kekacauan terkait masalah Yaman. Tak sanggup mengalahkan para pejuang Ansarullah yang karena hubungan dekat mereka dengan banyak suku-suku pedalaman di Yaman posisinya jadi semakin kuat, Saudi yang putus asa kemudian mengamuk dan membombardir Yaman habis-habisan. Walaupun kemudian Saudi mengumumkan 5 hari gencatan senjata yang berakhir sebelum tengah malam pada 17 Mei lalu, tetap saja dimasa itu Saudi terus melancarkan serangan biadabnya kepada rakyat Yaman.

Apa sebenarnya hasil yang diperoleh oleh Badui Najd ini dari tindakan kriminal dahsyatnya yang telah membunuh 4000 warga sipil Yaman, (menurut catatan Freedom House Foundation) itu? Serangan yang telah dilancarkan Saudi mulai 26 Maret lalu, gagal dalam mencapai semua tujuannya, tidak membuat pejuang Ansarullah menarik diri ke basis mereka di wilayah utara, atau membuat pejuang Ansarullah itu menyerahkan senjata mereka, ataupun menjadikan mantan presiden yang buron Mansour Hadi kembali berkuasa. Satu-satunya hasilnya adalah pembunuhan ribuan warga sipil tak berdosa dan penghancuran hampir seluruh infrastruktur Yaman.

PBB memperkirakan 545.719 orang terpaksa mengungsi akibat kerusakan yang terjadi pada tempat tinggal mereka, sementara 12 juta orang rawan pangan, banyak pula yang mengalami luka-luka menyedihkan sekali. Lebih dari itu, dikarenakan ambisi buas Saudi agar Yaman segera menyerah, para Badui Najd itu sengaja mencegah bantuan kemanusiaan sampai ke Yaman. Bantuan kemanusiaan Iran yang membawa kebutuhan pertolongan pertama yang dibawa menggunakan pesawat kargo terpaksa harus kembali sebanyak dua kali.

Pesawat yang sudah mengantongi izin terbang dari Oman dan juga pemantau lalu lintas udara Yaman itu dicegah masuk Yaman dengan cara Saudi membom landasan pacu di Bandar Udara Internasional Sana’a agar pesawat bantuan Iran tak bisa mendarat.

kejahatan-perang-yaman-1Bertekad untuk menolong masyarakat Yaman, Republik Islam Iran kemudian mengirimkan kapal bantuan kemanusiaan yang meninggalkan pelabuhan Bandar Abbas pada 11 Mei untuk mengirimkan makanan dan obat-obatan. Disaat kapal yang berisi sejumlah aktifis kemanusiaan itu melakukan perjalanan menuju pelabuhan Hudaidah Yaman, Saudi lagi-lagi mengancam untuk menghentikannya. Dan hal ini memancing peringatan keras dari wakil ketua Staff korps Garda Revolusi, jendral Masoud Jazayeri, “Saya secara terbuka menegaskan bahwa pertahanan diri Republik Islam Iran tak terbatas”, ucapnya, sebagaimana dikutip televisi berbahasa Arab, Al-Alam pada 12 Mei.

Baik Saudi Arabia maupun sekutunya seperti Amerika dan lainnya, harus sadar bahwa apabila mereka memancing permasalahan dengan Republik Islam Iran disaat negara itu tengah mengirim bantuan kemanusiaan kepada negara yang sama wilayah regionalnya, maka hal itu sama saja dengan megobarkan api, dan untuk memadamkannya tak ada dalam kesanggupan mereka.

AppleMark

AppleMark

Kebijakan politik para Badui Najd menghalangi tersalurkannya bantuan vis-à-vis ke perbatasan Yaman adalah mengadopsi kebijakan politik Zionis dalam mengepung jalur Gaza. Dalam kedua kasus, kekuatan para predator itu sengaja membuat masyarakat tak berdosa kelaparan guna memuluskan tujuan-tujuan pokitiknya, namun tetap saja pada akhirnya tidak dapat membuahkan hasil yang signifikan. Kesamaan lain antara Saudi dan Zionis adalah keduanya mengklaim menginginkan “kedamaian” sambil mengobarkan perang. Riyadh dan Tel Aviv tidak memiliki hubungan diplomatik, namun hal itu tak menghalangi keduanya untuk tetap saling bermesraa satu sama yang lain karena mempunyai kepentingan yang sama.

Terbukti pada tanggal 17 Mei, Saudi menyatakan telah melakukan konferensi damai dengan Yaman di Riyadh, sambil memborbardir negara tetangganya yang miskin itu. Lima hari gencatan senjata di wilayah yang menerima serangan Saudi, tidak berarti benar-benar tak ada bom, gencatan senjata itu hanya berarti berkurangnya serangan.
Dalam konferensi Riyadh, sasaran utama serangan Saudi, Pejuang Houthi, tidak hadir. Mereka memboikot apa yang disebut konferensi itu karena menganggap tidak adanya pihak netral dalam menyelesaikan konflik ini.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, berbicara di konferensi yang sama di Riyadh mengatakan bahwa gencatan senjata harus diperpanjang 5 hari lagi guna memberikan kesempatan penyaluran makanan, air dan obat-obatan dan kebutuhkan pokok rakyat Yaman. Sekali lagi, badui-badui Najd itu sama sekali tidak tertarik. Mereka tidak tertarik dengan kegiatan kemanusiaan semacam itu, mereka terus saja mengamuk menghadapi kegagalan mereka dalam mencapai tujuannya.

Jika membombardir penduduk sipil bisa menjadikan sebuah agresi berhasil mencapai target politiknya, maka Amerika pasti sudah bisa membuat Afghanistan bertekuk lutut, dan Zionis bisa memegang kendali penuh atas Gaza. Tapi tak seperti rekannya Amerika dan Israel, para Badui Najd ini tak punya strategi lain selain menyebabkan pembantaian warga sipil dan perusakan infrastruktur. Mereka juga sama sekali tidak kompeten. Terakhir kali mereka menyerang Yaman (Desember 2009), ratusan tentara Saudi menyerah kepada pejuang Ansarullah. Rezim itu terpaksa harus membayar jutaan dolar kompensasi agar mereka bisa memastikan keselamatan prajurit-prajurit mereka.

Hal ini menjelaskan mengapa para Badui Najd ini meminta bantuan Pakistan dan Mesir untuk mengirimkan pasukannya guna membantu memerangi Yaman. Kedua negara itu tentu saja bersedia karena tergiur dengan uang tunai petro dolar kerajaan itu, dengan tanpa memperdulikan resiko yang harus dihadapi tentara-tentaranya dalam perang yang tak bermoral dan tak mungkin dimenangkan itu.

Rezim Mesir pimpinan Jendral Abdel Fattah al-Sisi kini berada dalam tekanan pihak oposisi di satu sisi, dan pemberontakan di sisi lain. Disamping itu, terakhir kali pasukan Mesir terlibat pertempuran di Yaman, pada awal 1960, rezim itu telah kehilangan hampir 50.000 pasukannya. Inilah yang kemudian memberi kontribusi paling memalukan pada kekalahan Mesir melawan Israel di Juni 1967.

Sedangkan pasukan Pakistan, mereka selalu kewalahan dalam memerangi terorisme di negaranya sendiri. Teroris-teroris ini adalah produk dari madrasah-madrasah yang telah dicemari dengan ide-ide kebencian wahabi. Madrasah-madrasah yang didanai dengan petro dolar Saudi ini sudah mencemari masyrakat Pakistan selama beberapa dekade. Merubah negara yang semula penuh toleransi, menjadi negara sarang kebencian dan pembunuhan. Ini adalah hal ironis tersendiri bagi para Badui Najd jika kini meminta bantuan pasukan Pakistan untuk berperang di pihaknya melawan Yaman sementara itu merekalah otak terorisme (penyebab pecahnya konflik sektarian) yang sudah menyebabkan banyak kekacauan di Pakistan.

Kekhawatiran Najdi’s ini bisa dipahami walaupun tidak bisa dibenarkan sama sekali. Perang Yaman adalah tanggung jawab Raja Salman dan putra mahkotanya Muhammad bin Salman sang menteri pertahanan. Pangeran “muda” yang baru beranjak 30 tahun usianya itu dikenal kurang ajar dan sombong. Seharusnya perang ini jadi kesempatan untuk menaikkan pamornya secara politik, namun keruwetan masalah Yaman ini justru akan membuktikan kegagalannya. Dan inilah mengapa sinyal-sinyal kepanikan tampak jelas terlihat di Riyadh.

Di lubang ular tempat sembunyi para Badui Najd itu (kerajaan), beberapa keluarga kerajaan kini pasti sedang tertawa terbahak-bahak menyaksikan kehebohan Muhammad bin Salman dan ayahnya. Terutama anak-anak keturunan langsung Raja Abdullah yang banyak diantara mereka tiba-tiba dilengserkan dari posisi mereka bahkan sebelum jasad ayahnya benar-benar kaku. Pertikaian tak lagi dapat dihindari, walaupun di depan umum, para Badui Najd itu berpura-pura masih utuh dan rukun.

Salah satu kaki Raja Salman sudah berada di kuburan. Meski ia masih hidup, ia tak sanggup mengambil keputusan yang koheren, bahkan banyak orang mengatakan ia lupa dengan apa yang sudah ia katakan lima menit sebelumnya alias pikun. Hampir semua keputusannya diambil oleh Muhammad bin Nayef yang brutal, yang merupakan putra Mahkota sekaligus Menteri dalam Negeri dan Muhammad bin Salman, wakil putra mahkota sekaligus Menteri Pertahanan. Tidak seperti bin Nayef, bin Salman tak cukup berpengalaman. Ia telah mengambil “kentang panas” dengan melancarkan perang kepada Yaman, dan kemudian gagal menggalang dukungan dari negara-negara yang dari dulu selalu diandalkan Saudi. Bahkan Amerika yang selalu memberikan dukungan besar secara retorika, tak ingin melibatkan diri pada perang yang akan berakhir sia-sia itu.

Sadar bahwa mereka sedang dihadapkan kepada sebuah jurang bernama Yaman, para Badui Najd ini menggunakan propaganda kasar dengan menggunakan media televisi, radio, dan pernyataan-pernyataan publik. Musik Marshal dan musik jingo yang ekstrim mewarnai klaim-klaim mereka. Artis-artis diberi ruang bebas untuk melakukan improvisasi, dalam bingkai penghinaan. Suatu pertunjukan yang dibuat untuk membuat Raja Salman, Muhammad bin Nayef dan putranya Muhammad bin Salman seolah-olah memiliki sayap putih di pungungnya. Ini yang dijuluki “trinitas suci” (sayap identik dengan malaikat). Menggelikan, karena para Badui Najd ini sama sekali bukan malaikat, mereka adalah kriminal perang. Dan yang cukup mencengangkan adalah, majelis ulama kerajaan yang sangat mudah mencela orang lain bahkan untuk masalah-masalah yang legal, tak mengeluarkan fatwa apapun tentang “bid’ah” ini.

Propaganda-propaganda kasar itu dan kepicikan dan berbohong yang ditampilkan di depan publik. Para Badui Najd tidak mampu untuk melakukan hal semacam itu, dan teman-teman dekat mereka juga telah menolak permintaan kerajaan berkali-kali.
Hanya ada satu jalan keluar dari kesulitan yang sudah mereka buat sendiri sekarang, sebuah konferensi yang disponsori PBB, dimana seluruh faksi-faksi poitik di Yaman harus terlibat. Dan konferensi ini tidak bisa diadakan di Riyadh atau ibukota negara-negara agresor manapun. Konferensi ini harus diadakan di ibukota negara yang netral sebagaimana disarankan Dr. Ali Akbar, penasihat kebijakan politik luar negeri Iran, Ayatullah Ali Khamenei, sewaktu konferensi di Beirut pada 18 Mei. Ia mengatakan bahwa penghentian permanen pemboman di Yaman adalah prasyarat utama terciptanya kedamaian di negara yang dilanda perang itu.

Pakar hukum Internasional beropini bahwa para pejabat Saudi harus segera diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional atas kejahatan perang mereka di Yaman. Jika saja para Badui Najd itu punya sedikit otak, mereka akan memperhatikan saran ini dan segera menghentikan serangan-serangan mematikannya atas Yaman. Serangan-serangan itu telah membawa mereka lebih dalam tenggelam di jurang kekalahan.
Tapi memang tidak bisa juga kita menganggap bahwa setelah semua ini, para Badui Najd ini bisa bertindak lebih rasional. Mereka bagaikan binatang buas yang terluka dan meronta-ronta, memporak-porandakan sekitarnya, yang dapat membahayakan sekitarnya dan dirinya sendiri. Pada akhirnya, mereka akan menyebabkan kejatuhannya sendiri. Kesialan mereka di Yaman kali ini mungkin takkan tertahankan bagi para Badui yang kasar itu. (lm/SFA/Crescent)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: