Eropa

Arkeolog Khalid Asaad Tewas dalam Perang Budaya dan Kebodohan ISIS 

Salafynews.com, PETERSBURG – Direktur Jenderal Museum Negara Hermitage Saint Petersburg, Rusia, menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban KhalId Asaad yang tewas dibunuh oleh Milisi dari organisasi teroris ISIS.

ISIS membunuh seseorang yang berperan penting dalam pelestarian  Kompleks Kuno Palmyra yang tercatat sebagai salah satu warisan dunia UNESCO pada Selasa (18/8) itu, diduga karena ia tidak mau membocorkan dimana letak harta karun yang tersembunyi disana.

Arkeolog Palmyra Khalid Assad Dibunuh ISIS

Direktur Hermitage di Sankt Petersburg berkomentar tentang eksekusi seorang arkeolog terkemuka Suriah, sekaligus pengawas Kompleks Kuno di Palmyra berusia 82 tahun yang disandera oleh ISIS. (Baca ISIS Penggal Pakar Arkeologi Suriah Karen Tolak Tunjukkan Harta Karun)

“Selama sejarahnya yang panjang, Palmyra telah menyaksikan banyak kematian, tetapi kali ini adalah yang terburuk. Sebelum kematiannya, Khalid Asaad telah disiksa selama beberapa minggu sampai akhirnya dieksekusi. Tak diragukan lagi bahwa kasus pengeksekusian bagi peneliti berita tersebut bisa mengakibatkan pembongkaran monumen budaya pada wilayah kekuasaan ISIS,” tulis Mikhail Piotrovsky dalam blognya yang dipasang pada situs web museum pada Rabu (19/8). (Baca ISIS Eksekusi Arkeolog Terkemuka Palmyra)

“Apa yang berbahaya dari Khalid Asaad bagi kelompok militan tersebut? Ancaman apa yang dapat ditimbulkan oleh seorang peneliti sekaligus penulis sejumlah karya ilmiah berusia 82 tahun ini bagi ISIS? Tampaknya bahwa bahaya dan ancaman bagi ISIS berasal dari pekerjaan Khalid Asaad itu sendiri yang melestarikan, mempelajari, dan mendeskripsikan monumen budaya kuno. Pekerjaan ini memungkinkan orang-orang dari berbagai negara dapat menengok ke belakang dan memverifikasi apa yang terjadi pada zaman ini berdasarkan monumen budaya yang masih tersisa hingga saat ini dan mulai memikirkan banyak hal,” tulis Piotrovsky. (Baca Arab Saudi Hancurkan 95 % Tempat-Tempat Suci dan Situs-Situs Bersejarah)

“Ini bukan pertama kalinya sejarah manusia menjadi saksi radikal suatu bangsa, suatu kepercayaan dan ideologi yang awalnya menghancurkan materi monumen budaya, seperti monumen arsitektur, patung, buku, dan kemudian berujung pada pengeksekusian orang-orang yang menjaga peradaban manusia. Kedengarannya memang menakutkan, tapi kami merasa bahwa Khalid Asaad telah berkorban demi Palmyra. Ia dibunuh dan tewas dalam perang antara budaya dan kebodohan.” (Baca Kesamaan Wahabi, Zionis, ISIS Suka Hancurkan Situs Sejarah Islam)

Khalid Asaad (82) adalah seorang penulis sejumlah publikasi ilmiah. Ia telah bekerja di Palmyra lebih dari 50 tahun. Anggota keluarga mengatakan bahwa  setelah dikesekusi, tubuh Asaad diikat di menara kuno di alun-alun pusat Palmyra tanpa kepala. (SFA/RBTH/LM)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: