Editorial

Arrahmah Media Anti Pancasila dan Pro Teroris Kenapa BIN Menutup Mata?

Salafynews.com, JAKARTA – Rujukan berita-berita tentang jihad internasional, untuk di Indoensia, sepertinya hanya Arrahmah media portal yang memang mengkhususkan diri sebagai media jihad di dunia internasional. Tagline yang diusung media ini pun cukup menunjukkan identitas itu, yakni ‘Berita Dunia Islam dan Berita Jihad Terdepan’. Dalam beberapa peristiwa penting, seperti eksekusi terhadap trio bomer Bali I, Arrahmah juga mendapatkan gambar eksklusif. Tidak hanya itu, surat terbuka yang mengklaim dari Noordin M Top beberapa waktu lalu, kali pertama dilansir juga oleh Arrahmah. Situs ini kembali menjadi sorotan, sesaat Mabes Polri melansir buronan yang diduga terkait bom di Mega Kuningan 17 Juli lalu, atas nama Muhammad Jibril alias Muhammad Ricky Ardan, yang tak lain adalah pendiri Arrahmah. Muhammad Jibril tak lain putera Abu Jibril yang dalam 2004 lalu sempat ditahan oleh Densus 88 dan pada 2005 di sepan rumahnya di Witana Harja, Pamulang, Banten, sempat terjadi ledakan. (Baca Arrahmah Media Teroris dan Wahabi)

Tribun

Anak Abu Jibril tewas ikut Al-Qaeda @Tribun

Orang ini dikenal sebagai kelompok garis keras yang menentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dia adalah bapak dari Muhammad Jibriel Abdul Rahman yang sempat ditahan tahun 2009 lebih dari tiga tahun karena tuduhan teroris. Terang-terangan dia menyamakan Pancasila dengan komunisme. Dia dengan berani mengatakan “Jika kalian mengikuti jalan Pancasila, nasionalisme, liberalisme, komunisme, kalian pasti bercerai-berai dan akan binasa. Satu-satunya jalan yang menyelamatkan umat Islam adalah Al Qur’an, tiada yang lain”. (Baca Situs Radikal Arrahmah Pro ISIS atau al Qaeda?)

Tapi siapakah Abu Jibril sebenarnya? Apakah dia tokoh yang memiliki pengetahuan keIslaman yang bisa dijadikan rujukan? Apakah dia pernah belajar ilmu agama secara khusus sehingga pantas dipanggil Ustadz atau disebut kiai atau ulama?

Abu Jibril

Kami menemukan catatan penting tentang Abu Jibril. Catatan ringkas orang yang menghabiskan waktunya untuk mengkafirkan kaum muslimin yang tidak mengikuti kelompoknya ini ditulis oleh seorang yang mengenalnya dengan baik yang tidak mau disebutkan namanya. Di bawah ini riwayat singkat Abu Jibril :

“Saya kenal betul orang ini. Nama samarannya saat dia jadi buronan pada masa rezim Soeharto adalah Akang. Pasca peristiwa berdarah Tanjung Priok (Amir Biki) dia sempat bersembunyi di rumah ayah saya di Utan Kayu selama 6-7 bulan. Saat itu istrinya, Lina, sedang hamil, yaitu si calon bayi, Muhammad Jibril.

Sejak anaknya lahir si Akang mengganti nama samarannya jadi Abu Jibril. Adapun nama aslinya adalah Fihiruddin Muqthi. Dia asli dari Lombok. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh lewat buku-buku terjemahan terutama buku Ikhwanul Muslimin. Dia tak pernah mengenyam pendidikkan pesantren dan sama sekali buta bahasa Arab. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh dari Abdullah Sungkar, salah seorang pengelolah Pesantren Ngruki, Solo.

Bersama Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir dan adiknya yang bernama Irfan Awwas, mereka bergerak di bawah tanah dengan mengusung gerakan DI/TII. Pada tahun 1985, mereka semua kabur ke Malaysia. Beberapa teman-teman mereka tertangkap dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman 5-10 tahun.

Di Malaysia, mereka mengubah nama gerakan mereka jadi Jamaah Islamiyyah, karena merasa DI/TII tidak Islami, yang Islami menurut mereka yang internasional. Adiknya si Irfan mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia. Sejak tahun 1985 mereka mengirim pengikut-pengikut mereka ke Afghanistan untuk belajar perang. Anak si Abu Jibril sendiri dikirim ke Pakistan dan bergabung dengan kelompok Osama bin Laden.

Pulang dari Pakistan, Muhammad Jibril mendirikan Arrahmah. Mereka memang bagian dari gerakan Islam Radikal Internasional seperti Ikhwanul Muslimin, tapi mereka seperti Al-Qaeda yang menolak Demokrasi. Para pengikut Abu Jibril, Irfan Awwas lewat Majelis Mujahidin Indonesia dan Muhammad Jibril lewat Arrahmah mencuci otak masyarakat Indonesia untuk menolak Pancasila & UUD 1945.”

VIva

DPO Muhammaf Jibril @Foto Viva

Muhammad Abu Jibril juga mengelola situs media radikal ‘arrahmah’ yang sempat di blokir oleh pemerintah dan saat ini dalam pengawasan BNPT ( Badan Nasional Penanggulangan Teroris), pada laman berita ‘Arrahmah’ ada tulisan yang sangat anti pemerintah dengan kalimat ‘Thagut’, dan melecehkan Densus 88 dengan julukan ‘Laknatulloh’ dengan enak dan tanpa rasa takut mereka berani melawan pemerintah dan aparat Negara seperti Densus yang memang ditugasi untuk berantas teroris. Yang lebih aneh lagi kenapa BIN (Badan Intelijen Negara) mendiamkan gerakan mereka? (Baca Gempar! Bau Busuk Menyengat Dari Arrahmah.com. Pakarfikir.com, Mastoyo.com)

Sekarang, tergantung kepada Anda. Apakah negara Indonesia yang berbasis Pancasila bisa menerima orang yang menolaknya? (SFA/MM/BerbagaiMedia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: