Eropa

AS Jadi Negara Super Power Karena Uang Saudi

Salafynews.com, MOSKOW – Saudi Arabia memiliki investasi besar di pemerintahan Amerika Serikat, maka sepertinya pengungkapan WikiLeaks mengenai dokumen-dokumen Saudi yang berisi fakta-fakta memalukan kerajaan itu tak akan berdampak serius bagi hubungan kedua negara yang besekutu tersebut. Hal ini diungkapkan Direktur Lembaga untuk Urusan-Urusan Timur-Tengah, Ali Al-Ahmed kepada RT dalam sebuah wawancara yang dirilis Minggu (21/6) kemarin.

saudi-arabia-bought-us-media.siPengungkapan sekitar 70.000 dokumen rahasia oleh WikiLeaks melalui”The Saudi Cables” termasuk komunikasi diplomatik dan laporan intellijen super rahasia, menunjukkan kondisi sebenarnya kebijakan politik dalam dan luar negeri Saudi Arabia, kebijakan itu menunjukkan bagaimana pihak Saudi  mengontrol media baik Barat maupun Arab, begitu pula hubungan khususnya dengan Israel. Pengungkapan-pengungkapan dokumen itu beberapa diantaranya terbukti sangat memalukan terutama bagi sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Bagaimanapun, Al-Ahmed, seorang ulama Saudi, pembangkang kerajaan dan kepala lembaga yang berbasis di Washington DC berharap setidaknya ada sedikit imbas politik yang terjadi setelah bocoran mengenai kebobrokan rezim Saudi itu dirilis.

Ketika ditanya apakah ia terkejut melihat kendali Saudi atas media regional seperti yang dilaporkan WikiLeaks, al-Ahmed mengatakan bahwa  ia sama sekali tidak terkejut,

“Hal itu hanya membuktikan bahwa sekali lagi Saudi telah menciptakan sebuah kerajaan. Kerajaan media yang mencakup seluruh dunia. Dan kerajaan itu telah bekerja bertahun-tahun umtu mengendalikan narasi-narasi media tersebut, tidak hanya pada media Arab, namun juga media-media Internasional, seperti Reuters misalnya. Kita tahu bahwa Saudi pun telah memaksa Reuters untuk tidak penuh memberitakan kebenaran yang sesungguhnya, bahkan Saudi juga mempengaruhi media-media utama Amerika untuk menutupi fakta-fakta sebenarnya mengenai keburukan kerajaan, jadi terbongkarnya dokumen-dokumen mengenai hal itu hanyalah bukti terhadap hal-hal yang sebenarnya sudah lama kita semua ketahui”.

Mengenai apakah hal ini akan berdampak terhadap hubungan Amerika dan Saudi al-Ahmed menyatakan bahwa setelah selama 60 tahun Amerika tidak pernah sama sekali mengkritik Saudi atas segala kejahatan Internasional dan dukungannya terhadap terorisme, bahkan ketika harus berhadapan dengan tentara Amerika sekalipun, maka ketika pertama kali bocornya rahasia Saudi  ini tidak akan berdampak banyak bagi hubungan kedua negara. Hal ini dikarenakan Saudi telah menginvestasikan banyak uangnya untuk Washington dan pada kelas-kelas politik AS secara umum selama bertahun-tahun, yang membuat kerajaan itu aman dari segala macam kritik AS untuk segala masalah yang ditimbulkannya.

Mengenai apakah terungkapnya dokumen rahasia ini akan mengguncang Timur-Tengah terutama Iran yang berkali-kali menjadi sasaran Saudi, Al-Ahmed mengatakan bahwa ia merasa pihak Iran pasti telah mengetahui hal ini bahkan sebelum WikiLeaks merilis dokumen-dokumen tersebut. Dan ia merasa hal inipun tidak akan merubah banyak hubungan diplomatik dua negara. Jikapun ada yang berubah sikap, mungkin itu adalah Irak, pemerintahan Irak yang selama ini dianggap tidak mengacuhkan  interfensi Saudi di Irak. Namun sekali lagi menurut al-Ahmed hal itu tergantung dari pemerintahan masing-masing negara untuk menterjemahkan dokumen-dokumen WikiLeaks menuju aksi politik nyata ataukah tidak. Saudi sendiri, setelah semua informasi rahasia ini terkuak-pun kemungkinan tidak akan merubah sistem kebijakan politik luar negerinya.

“Saya rasa Saudi akan tetap meneruskan kebijakan yang telah mereka lakukan selama 60 tahun itu, diam-diam mencampuri urusan negara lain, merusak pertumbuhan demokrasi dan pemerintahan rakyat diseluruh wilayah teluk, dan berusaha mengendalikan narasi-narasi media di teluk dan seluruh dunia,” ungkap al-Ahmed.

Pengungkapan menarik lainnya dari dokumen-dokumen rahasia yang dirilis oleh WikiLeaks antara lain adalah mengenai banyaknya mahasiswa Saudi yang mengunjungi kedutaan Israel dan menerima pengarahan-pengarahan disana. Al-Ahmed mengatakan bahwa Saudi dan Israel memiliki hubungan khusus yang telah lama. Meski bukan dalam bentuk pendirian kedutaan besar, namun dalam kerjasama dan koordinasi politik. Saudi Arabia bahkan tidak menyembunyikan kenyataan bahwa kerajaan itu tidak bermasalah memiliki, membina, ataupun menciptakan hubungan khusus dengan Israel.

Menurut Al-Ahmed, satu-satunya ketakutan terbesar Saudi ketika akhirnya dokumen-dokumen ini dipublikasikan adalah justru akan terciptanya model pemerintahan yang akan meniru taktik dan kebijakan politiknya sehingga akan menjadi saingan berat bagi negara monarki tersebut.

Al-Ahmed mengatakan, jika ada seorang saja presiden di wilayah Timur-Tengah yang dianggap reijius, contohnya Mesir beberapa tahun lalu di pimpin oleh Muhammad Mursi. Jika Pemerintahan Mursi berhasil, maka hal itu bisa menjadi saingan berat monarki Saudi. Jika itu terjadi, pemerintahan Mursi berhasil, dimana semua orang Arab bisa jadi presiden di negara Islam, maka hal itu akan  menjadi contoh berbahaya yang akan menimbulkan pergolakan di dalam kerajaan Saudi karena pasti rakyat Saudi akan menginginkan model pemerintahan yang sama. Karena pemerintahan Monarki sudah tidak disukai oleh rakyat Saudi.(SFA/rt)

1 Comment

1 Comment

  1. sugi

    June 22, 2015 at 1:52 pm

    sepinter pinter nyimpan bau busuk.. lama lama ketahuan juga
    mungkin saudi bisa berbohong kepada semua rakyatnya tapi dia tidak akan bis berbohong kepada seluruh manusia di bumi ini, atau dia bisa bohon untuk sementara waktu tapi dia tidak bisa bohong untuk selamanya……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: