Analisis

AS Sengaja Jadikan Iran Momok Menakutkan Bagi Negara-Negara Arab

WASHINGTON, Salafynews.com – Menteri Pertahanan Amerika meminta negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC) untuk memperkuat angkatan darat dan membentuk pasukan khusus menghadapi Iran dan ISIS. Situs Atlantic hari Jumat (15/11) mengutip pernyataan Ashton Carter, Menteri Pertahanan Amerika dalam masalah ini menambahkan, “Penting bagi Arab Teluk Persia untuk memasuki perang.”

Amerika bertahun-tahun menempatkan militernya di Timur Tengah. Pada hakikatnya, pasca keluarnya militer Inggris dari Teluk Persia pada 1971, Amerika secara khusus memperkuat kehadiran militernya di sana. Bahkan Armada Kelima Angkatan Lautnya ditempatkan di Bahrain.

Tapi apa yang sedang terjadi di Bahrain justru sebaliknya. Armada Kelima AS akan keluar dari Bahrain dan digantikan dengan militer Inggris. Baru-baru ini Bahrain menandatangani perjanjian dengan Inggris. Michael Fallon, Menteri Pertahanan Inggris menyatakan, “Militer Inggris akan berada lama di Timur Tengah.”

Apa yang terjadi menunjukkan adanya perubahan cepat di Timur Tengah, khususnya pasca agresi Amerika ke Irak yang berujung pada lengsernya rezim Saddam. Hal ini menunjukkan kehadiran luas militer asing di kawasan. Kini proyek dalam bentuk koalisi Amerika-Arab memerangi ISIS tengah berlangsung.

Kenyataan menunjukkan koalisi AS dan sekutu Timur Tengahnya tidak melakukan sesuatu yang signifikan hingga kini. Karena memang tidak ada keinginan kuat untuk melawan terorisme. Amerika tengah memperluas kebijakannya di kawasan dengan mencoba menciptakan perubahan di bidang ini. Pertama dengan menyebut pentingnya peningkatan kekuatan militer negara-negara Arab Teluk Persia dan kedua, menjual senjata plus pelatihan.

Menteri Pertahanan Amerika tentu saja berusaha menjustifikasi kebijakan AS tapi dengan cara lama. Iran ditampilkan sebagai negara yang berbahaya disandingkan dengan ISIS lalu mengusulkan partisipasi negara-negara Arab melakukan aksi militer.

Dalam menjalankan proyek ini, Amerika sangat bergantung pada Arab Saudi. Menhan Ashton menekankan bahwa bila negara-negara Teluk Persia membeli senjata dari Amerika, maka itu akan sangat baik bagi Amerika dan Israel. Pada 2015, Amerika berhasil menjual senjata seharga 115 juta dolar ke Kuwait, 150 juta dolar ke Bahrain, 845 juta dolar ke Uni Emirat Arab dan19,5 miliar dolar kepada Arab Saudi.

Amerika mengklaim akan menciptakan kawasan Timur Tengah yang aman. Tapi klaim ini lebih serupa dengan komedi politik. Amerika pasca peristiwa 11 September menduduki Afghanistan dan Irak dengan klaim yang sama. Hasilnya justru memunculkan Al Qaeda dan kelahiran ISIS. Artinya, kelompok-kelompok teroris ini menjadi alat bagi Washington untuk meraih tujuannya di kawasan.

Akibat dari kebijakan AS ini adalah gelombang pengungsi ke Eropa, padahal Washington menjadi penyebab aslinya. Bahkan semakin meluasnya terorisme di Timur Tengah akibat kebijakan Amerika. Kini Menteri Pertahanan Amerika berbicara tentang rencana baru bagaimana melawan ISIS. Padahal apa yang dilakukannya bukan untuk melawan terorisme, tapi menciptakan formasi militer baru dari negara-negara Teluk Persia menghadapi Iran.

John Kerry, Menteri Luar Negeri Amerika baru-baru ini berbicara tentang berlanjutnya dialog dengan sekutu AS demi memperkuat mereka dari serangan rudal balistik. Ia meyakinkan negara-negara Arab Teluk Persia untuk mempercepat penjualan senjata kepada mereka, bahkan Amerika terlibat langsung dalam melatih pasukan khusus negara-negara ini. Sejatinya, fokus utama dari strategi ini adalah menciptakan ketakutan terhadap Iran. (SFA/MM)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: