Analisis

Bahrain; Sang Raja, Revolusi Dan Kriminalisasi Demokrasi

Sementara elit pemerintahan “Wahabi” Bahrain berusaha keras menyangkal pelanggaran “sektarian” dengan berkilah bahwa semua rakyat Bahrain tidak perduli berasal dari agama atau etnik apapun adalah sejajar dihadapan kerajaan, namun kenyataan jelas menggambarkan situasi yang berbeda.

Salafynews.com – Hukuman yang dijatuhkan kepada Syaikh Ali Salman telah membuktikan tidak berjalannya monarki Al-Khalifa di Bahrain Syeikh Ali Salman, seorang cendekiawan muslim dan tokoh politik Bahrain yang dijatuhi hukuman penjara 4 tahun melalui putusan yang diberikan hakim pada 16 Juni. “Ketidak adilan ini sepertinya akan segera mengubah revolusi “diam” Bahrain menjadi badai dahsyat, yang akan membuat perubahan besar pada peta politik Arab.

Hamad bin Isa Al-Khalifa

Raja Bahrain Al-Khalifa

Fidel Castro pernah berkata, “Sebuah revolusi adalah sebuah perjuangan hingga titik kematian antara masa depan dan masa lalu.” Kata-kata ini sangat tepat diterapkan di Bahrain, dimana semenjak tahun 2011, seluruh rakyat berjuang melawan dua abad monarki Al-Khalifa yang dipaksakan. Mereka bertekad untuk merebut kembali apa yang telah dirampas dari hak-hak paling dasar, tidak terganti dan paling pribadi dari masyarakat Bahrain; yaitu politik menentukan nasib sendiri.

Ditempatkan di backburner media oleh kekuatan-kekuatan Barat demi kepentingan politis dan kepentingan geopolitik, krisis di Bahrain sangat jarang menjadi berita utama.  Hal ini membuat rezim Bahrain leluasa menindak dan menghentikan setiap tindakan oposisi dengan cara apapun yang mereka inginkan. Rezim itu bisa bertindak demikian karena mereka percaya bahwa tindakannya, seberapapun tercela dan ilegalnya akan tetap terselubung dari publik asing dan dunia internasional, dan sistemya akan tetap terlindungi serta bertahan secara turun temurun.

Dan ketika hal itu muncul, setidaknya sekali, “Orang kecil” ini terbukti bukan tandingan kekuatan besar yang ada, Penangkapan dan penghakiman terhadap satu orang, Syaikh Ali Salman, ketua Masyarakat Islam Nasional al-Wefaq, langsung  membuktikan bahwa satu penghinaan adalah itu sudah terlalu banyak bagi rezim Bahrain.

Bahrain KotaKritikus yang bersuara keras terhadap monarki di Bahrain, Syaikh Ali Salman telah mewakili tidak hanya aspirasi demokratis warga Bharain. Namun bagi ratusan ribu warga Bahrain, ulama dan figur politik ini telah datang untuk mewujudkan semangat besar revolusi.

Jika masyarakat Bahrain memerlukan sebuah katalis untuk mengangkat mereka melintasi batas  ketakutan dan pencetus yang bisa menyatukan semua segmen dalam masyarakat, diluar kelas, afiliasi keagamaan, afinitas politik dalam satu gelombang revolusioner, maka pemberian hukuman terhadap Syaikh Salman  selama empat tahun penjara sebagai akibat kampanyenya menentang rezim, bisa jadi adalah hal yang diperlukan saat ini.

Seperti yang biasa terjadi dalam sebuah pemerintahan tirani, penguasa yang lalim terlalu dibutakan oleh ambisi serakah mereka sendiri, mereka menderita paranoia (kecemasan dan ketakutan) untuk menyadari bahwa sesungguhnya kekerasan mereka sendirilah yang memicu api perbedaan pendapat dan akhirnya akan membawa kehancuran. Untuk setiap kerajaan dan setiap sistem pemerintahan yang tidak adil, akan selalu ada titik kritis di mana “masa depan” akan datang untuk memusnahkan “masa lalu” dan manifestasi masyarakat akan mengalahkan kaum  elit. Untuk Bahrain,  kini waktunya  telah tiba.

bahrain-mapDalam hitungan jam setelah Syaikh Salman dijatuhi hukuman, al-Wefaq, bersama dengan organisasi hak asasi terkemuka bersama-sama mengutuk keputusan pemerintah Bahrain dan menyebutnya sebagai ‘Parodi keadilan’. Dalam pernyataan resmi yang dimuat di websitenya, al-Wefaq menulis, “Masyarakat Islam Nasional al-Wefaq menganggap vonis atas Syaikh Ali Salman cacat hokum dan tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Hal ini sebagaimana didefinisikan oleh team anggota panel pembelaan Salman yang dibuat oleh tim pengacara terkemuka.

Kelompok HAM, Amnesti Internasional men”cap” perbuatan  rezim al-Khalifa (terhadap Syaikh Salman) “mencengangkan”. Kelompok HAM itu menulis tentang putusan tersebut, “ Penuntutan dan Penahanan Syaikh Salman telah melanggar kewajiban negara Bahrain untuk menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi sesuai dengan Artikel 19 dari Hak-hak Politik dan Perjanjian Internasional tentang Hak Sipil, dimana Bahrain merupakan salah satu negara anggota.

Menariknya, Syekh Salman yang telah di penjara sejak penangkapannya Desember lalu, dibebaskan dari tuduhan awal ketika ia ditangkap yaitu dari tuduhan hasutan terhadap sistem pemerintahan. Namun dalam usaha yang jelas-jelas untuk menutupi  hukum tak berdasar mereka dan mengabadikan ilusi mengenai sistem mereka yang adil dan jelas, kekuasaan kehakiman Bahrain memilih untuk tidak melanjutkan tuduhan pertama, namun mengubah tuduhan mereka terhadap Syekh Salman dengan tuduhan kedua yaitu,  “Kerjasama dengan pemerintah asing dan memprovokasi kerusuhan.” Tuduhan kedua ini juga seharusnya membuat Syaikh Salman dibebaskan (karena tidak adanya bukti).”

Maryam Moosa Ali, seorang aktivis HAM yang berbasis di Manama, memperingatkan bahwa pemenjaraan Syekh Salman hanya akan menyulut semangat revolusioner lebih lanjut dan mengeraskan tekad para pemuda untuk menjatuhkan monarki.

“Sementara kami tetap berkomitmen untuk mempertahankan prinsip-prinsip kami tanpa kekerasan, putusan rezim terhadap tokoh revolusioner utama kami telah menutup  nasib monarki itu sendiri. Tidak ada lagi ruang  untuk berdebat. Jika warga Bahrain bersedia untuk bernegosiasi dan berkompromi sebelumnya, maka kini hal itu tidak akan terjadi lagi, “katanya.

Dengan kemarahan meninggi di seluruh wilayah kerajaan itu, demonstrasi massa kini sudah mulai terorganisir. “Masyarakat Bahrain tidak akan mentolerir terus berlanjutnya pelanggaran  kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia,” ungkap Maryam Ali.

Namun diluar kemarahan masyarakat atas kelaliman yang terjadi atas satu orang, terdapat dimensi lain dari revolusi ini, rakyat Bahrain tidak hanya menyeru terhadap perubahan pemerintahan, mereka juga ingin menghapuskan sanksi apartheid keagamaan. Perjuangan warga Bahrain tidak hanya mengenai politik!

Sementara elit pemerintahan “Wahabi” Bahrain berusaha keras menyangkal pelanggaran “sektarian” dengan berkilah bahwa semua rakyat Bahrain tidak perduli berasal dari agama atau etnik apapun adalah sejajar dihadapan kerajaan, namun kenyataan jelas menggambarkan situasi yang berbeda.

Selama 200 tahun, terutama beberapa tahun dibawah kepemimpinan Amir Hamad al-Khalifa di tahun 1990-an, politik diskriminasi terhadap penduduk Syiah Bahrain telah menjadi ciri khas monarki Bahrain. Dibawah kedok pemulihan keamanan, Raja Hamad telah memerintahkan secara langsung penghancuran dan penjarahan masjid-masjid, sekolah-sekolah, pemukiman dan bisnis masyarakat syi’ah di Bahrain. Dan karena hal ini  dianggap tidak  cukup untuk mengekang tekad kaum revolusioner, otoritas Bahrain kemudian memaksa menipiskan populasi Syi’ah dengan cara  “mengimpor” warga negara asing Sunni ke Bahrain dan melucuti warga  Syi’ah Bahrain dari kewarganegaraan mereka.

Pada bulan September 2014, Maryam al-Khawaja, seorang pembela hak asasi terkemuka dan seorang warga muslim Syi’ah Bahrain, pada saat  kedatangannya di bandara Manama tiba-tiba diberitahu bahwa kewarga-negaraannya telah ditarik oleh raja. Jika kasus Maryam al-Khawaja berhasil menjadi berita utama, disisi lain,  warga  yang tidak seberuntung dirinya jumlahnya tak terhitung. Kasus mereka  sebagian besar menguap tidak dilaporkan. Praktek-praktek seperti ini benar-benar jahat, melanggar hukum dan melanggar moral. Mereka mencerminkan sifat sebenarnya dari mentalitas Al-Khalifa dan kemarahan terhadap rakyatnya sendiri.

Bahrain adalah pengikut negara kaya minyak “Arab Saudi” yang warganya menggunakan Bahrain sebagai lubang air (jalan pintas sejauh 15 mil antara Saudi-Bahrain macet tiap malam jum’at). Penduduk Saudi berbondong-bondong menuju Bahrain untuk ambil bagian dalam persta minuman terlarang! Monarki Bahrain adalah perpanjangan korupsi Bani Saud di Jazirah Arab. Sebagaimana kampanye anti syi’ah, anti repersentasi yang terjadi yang merupakan ekspresi warisan dari Wahabi Riyadh yang selama ini juga mendominasi Bahrain.

Sementara monarki, yang mewakili minoritas kecil di pulau itu, terus menikmati kejahatan tak terkendali mereka terhadap para demonstran damai, membungkam tuntutan mereka yang sah. Maka sebaiknya monarki Bahrain itu  mengingat  salah satu hukum fisika sederhana, bahwa untuk setiap aksi, pasti ada  reaksi, yang setara ataupun berlawanan. Penindasan tak henti-hentinya kepada masyarakat, akan  cenderung menyebabkan reaksi yang sangat kuat dan akan  meledak tepat dihadapan monarki, dan menghempaskannya ke tong sampah sejarah. (SFA/LM/Crescent/Chaterine Shakdam)

Penulis Chaterine Shakdam adalah analis politik, penulis & komentator untuk Timteng dengan fokus khusus pada gerakan radikal & Yaman
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pasukan Keamanan Bahrain Blokade Pulau Sitra | Salafy News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: