Nasional

Benarkah Pilih AHOK Keimanan Kita Berkurang?

20 Maret 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Kemaren sore, 17 Maret 2016 Pukul 17.30, selepas pulang kerja di kawasan Ciputat, saya pulang ke arah Sawangan, tiba-tiba gerimis datang dan memaksa saya berhenti sejenak untuk berteduh. Akhirnya saya pun minggir dan mencari warung kecil di sekitar Cinangka. Ternyata saya tidak sendirian, di warung tersebut sudah ada 8 orang yang juga sama-sama berteduh.  Sambil menunggu hujan yang cukup lama, kami terlibat obrolan santai mengenai isu-isu hangat yang terjadi. Topik hangat yang menjadi obrolan adalah perihal Ahok yang mencalonkan diri menjadi calon gubernur DKI lewat jalur independen. Ditemani kopi dan gorengan bakwan dan tahu goreng, suasana obrolan kami semakin seru. Namun, ada hal penting yang saya bisa digarisbawahi dari obrolan di warung kopi ini, yaitu hukum seorang muslim yang memilih calon pemimpin nonmuslim. Dalam obrolan ini, ternyata ada dua kubu yang saling bertentangan, yaitu kubu yang pro-Ahok dan yang Anti- Ahok. Berikut ini sedikit bocoran pendapat mereka. (Baca: Ahok Hancurkan Tradisi Perpolitikan Indonesia)

Pro-Ahok: Ahok itu luar biasa, banyak kerja, tegas, amanah dan tidak mau kompromi dengan korupsi. Banyak kemajuan di masa Ahok ini dibandingkan pemimpin yang dulu-dulu. Jarang ada pemimpin yang berani seperti dia.

Anti-Ahok: Ahok itu memang bagus tapi dia tidak santun dan kasar. Masak sering bilang “anjing”, “nenek lu”, “maling” dan sebagainya. Pemimpin itu harus santun dan tidak kasar. Apalagi dia itu nonmuslim. Saya dengar dari ustadz ngaji saya, bahwa haram hukumnya milih pemimpin nonmuslim.

Pro-Ahok: Coba bapak ingat, gubernur sebelumnya, mana ada yang setegas dan seberani Ahok dalam memimpin Jakarta. Tanah Abang itu, yang dipenuhi preman, disikat habis oleh Ahok. Kalijodo tempat WTS-WTS itu dihabisin sama Ahok. Kalijodo itu sumber maksiat. Belum lagi korupsi anggaran yang banyak terjadi di DKI, semuanya dihabisin. Semua pegawai yang tidak becus kerja diberhentiin. Ahok itu benar-benar jaga amanah rakyat dengan baik dan tidak mencari keuntungan pribadi. Semangatnya Islam sekali, Pak.

Anti-Ahok: Tapi walaupun dia bagus, Pak. Tapi tidak boleh kita pilih karena haram hukumnya. Berdosa kita bila kita memilih dia. Kita harus memilih calon yang muslim saja seperti Yusril, Haji Lulung, dan yang lain yang jelas-jelas Islam. Kata ustadz saya kalo milih Ahok berarti iman kita berkurang.

Pro-Ahok: Waduh, Pak…masak gara-gara milih Ahok, iman kita berkurang. Lantas apa gunanya kita sholat, zakat, berbuat baik, sholat tahajud, sedekah bila gara-gara pilih Ahok terus imannya berkurang? Emang yang tahu iman kita berkurang siapa, Pak? (Baca: MEMANAS.. Beragam Cara Jegal Ahok Maju Lagi di Pilgub DKI 2017)

Di tengah diskusi yang semakin memanas, akhirnya saya tidak tahan juga berkomentar untuk meredakan ketegangan yang sepertinya tidak akan berujung. Saya tidak mau obrolan ini meruncing yang akhirnya bisa membuat mereka “berantem”. (Masih segar ingatan saya, kasus dua minggu lalu, seorang pendukung fanatik Ronaldo menikam pendukung Messi gara-gara obrolan mendiskusikan siapa pemain terbaik dunia). Saya: Bapak mohon maaf, wah diskusinya serius sekali ya. Mohon maaf saya ikut nimbrung nih. Menurut saya, pilihan masing masing itu hak asasi yang bebas  dan tidak boleh diintervensi. Yang suka Ahok monggo, yang tidak suka Ahok juga monggo. Tapi jangan sampai kita bertengkar dan berkelahi  gara-gara isu ini. Apalagi dikaitkan dengan agama dan keimanan seseorang. Biarkan Allah yang menakar keimanan kita. Saya kira kita sama-sama punya niat baik kan untuk mencari pemimpin yang baik.

Tapi ngomong-ngomong, bapak ini warga DKI bukan? Pro-Ahok: Bukan Pak, saya warga Citayem, Pak. Saya: Kalo Bapak? Anti-Ahok: Saya juga bukan, saya orang bedahan, KTP Depok. Saya: Walah-walah… benar-benar luar bisa ini bapak-bapak. Orang Depok yang perhatian sama warga DKI…ha ha ha ha.

Sedikit cuplikan obrolan warung ini, setidaknya memberikan bukti bahwa isu pencalonan Ahok menjadi gubernur DKI ternyata menjadi isu yang cukup hangat di masyarakat bawah, hingga non-warga DKI pun terlibat di dalamnya. Poin pentingnya adalah isu agama dan keimanan ternyata masih menjadi  isu menarik dalam perpolitikan. Menurut saya, melibatkan agama dan keimanan dalam memilih pemimpin kuranglah tepat cenderung berbahaya karena berpotensi memicu konflik yang cukup besar antaragama. Saya berharap sekali, semoga isu agama dan keimanan tidak dijadikan alat kampanye politik karena kurang elegan. Sebaiknya isu program dan terobosan baru dalam membangun sebuah daerah bisa diutamakan. Allahu A”lamu BIshowaab. Semoga ada hikmahnya. (SFA)

Sumber: Kompasiana

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: GEMPAR PILGUB DKI.. Apa Syarat Menjadi Pemimpin Menurut 3 Ulama Klasik? | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: