Artikel

Bongkar Kebohongan Dr Zakir Naik Ustad Wahabi yang Anti Maulid

12 April 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965. Disebutkan dalam berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama” terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang sengaja disebarluaskan di Indonesia.

Sebutan “ulama” yang disandang Zakir Naik tentu dipertanyakan. Karena dari mana ia belajar ilmu agama Islam pun tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya, sama seperti sosok Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo. Tidak akan Anda temukan dari mana ia belajar agama meski dalam website resminya seperti IRF. Tidak diketahui dari mana ia belajar agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. (Baca: Monarki ‘Wahabi’ Arab Saudi Rubah Al-Quran untuk Kepentingan Politiknya)

Belum lagi bacaan al-Qurannya yang tidak beraturan. Siapa yang mengajarinya al-Quran juga tidak jelas karena aksen Arab dan al-Qurannya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tidak bagus, dan tidak memenuhi kaidah ilmu tajwid. Di mana dan dengan ulama siapa Zakir Naik belajar tafsir, hadits, fiqih, syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya juga tidak pernah diketahui. Tiba-tiba sosok ini muncul bak seorang ulama besar yang faham betul tentang Islam, memahami tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya.

Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam. Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid. (Baca: TOP.. Dialog Santri Aswaja dan Mahasiswa Wahabi Tentang ‘Arsy Allah’)

Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh Syaikh Ahmad Deedat saat ia belajar ilmu kedokteran. Syaikh Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi Ahlussunnah wal Jama’ah dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan agama. Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah di Kedokteran sekitar tahun 1987.

Hebatnya, hanya dalam waktu 3 tahun (1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak, dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan kegiatannya yang padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian, kepaniteraan klinik, dll, ia telah mempelajari segala sesuatu tentang Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari 1991 dan mulai berdakwah secara penuh. Sungguh aneh bin ajaib, cukup berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dalam 3 tahun sambil kuliah kedokteran yang begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”, bahkan menyalahkan para ulama Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih aneh lagi, dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan. Hal ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dalam menghafal. Membaca buku pelajaran Islam tidak untuk dipahami, tetapi hanya sekedar sebagai memori (dihafal). Semakin tajam memori seseorang maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yang menyimpan banyak memori. Sama halnya dengan orang yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Dan dengan sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak perdebatan yang menghebohkan. Alhasil banyak penonton yang terpukau.

Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen. Maulid Nabi dan Tawassul dikatakan haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya adalah pecinta Maulid Nabi. (Baca: Habib Saggaf Al-Jufri Ketua Utama Al-Khairat: Waspada Aliran Wahabi!)

Syaikh Ahmad Deedat berkata, “Ada jutaan Muslim termasuk saya, dan saya tidak keberatan merayakan hari-hari yang baik seperti yang anda katakan (peringatan Maulid Nabi). Saya katakan itu OK. Dan saya tidak akan bersama anda, saya tidak setuju dengan anda, saya tidak ingin anda untuk mengubah (pendapat) saya.”

Kenapa? Karena Zakir Naik adalah penganut ajaran Salafi (Wahabi), yang begitu mudah menuduh syirik, bid’ah, kafir kepada umat Islam yang berbeda dengannya. Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai dai Salafi (Wahabi) paling berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai dai Salafi (Wahabi) paling terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, dalam halaman Wikipedia dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel. Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tidak sedikit orang-orang Salafi yang menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.

Sebagai penganut ajaran Salafi, Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan lagi. Ia menyerupakan Allah Swt. dengan makhlukNya yang merupakan faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah Swt. memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah Swt. duduk di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inilah aqidah Salafi yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). (Baca: Ulama Palestina: Wahabi Ajaran ‘Setan’ dan Bukan Islam)

Fakta-fakta di atas tentu sangat berbahaya, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah mempermainkan ayat al-Quran dan al-Hadits. Ayat al-Quran dan hadits sering disalahtafsirkan. Menafsirkan al-Quran tanpa ilmu dan asal-asalan. Ini tentu sangat berbahaya. Salah satu contohnya adalah bagaimana Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah dalam al-Quran. Dua kata yang artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh Zakir Naik. Ini kesalahan fatal. Akibatnya ia pun tergelincir dalam memahami al-Quran, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama tafsir. Ini adalah bentuk kebohongan nyata yang disengaja oleh Zakir Naik dalam menipu umat Islam khususnya mereka yang awam. Sebuah fitnah keji yang mengatasnamakan al-Quran. Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan. (Baca: Website Sarkub Bongkar Kepalsuan Wahabi Palsukan Kitab Aswaja)

Masih banyak penyimpangan-penyimpangan Zakir Naik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang jelas dan perlu ditekankan di sini adalah kita harus berhati-hati dengan Zakir Naik. Banyak ulama-ulama lain yang mestinya kita ikuti, yang jelas sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yang bersambung dengan Rasulullah Saw., yang akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat. (SFA)

Sumber: Elhoda

Gabung Telegram : https://web.telegram.org/#/[email protected]_News

11 Comments

11 Comments

  1. indrawati

    April 12, 2016 at 5:51 pm

    Mohon maaf untuk lebih meyakinkan lagi apakah ada rekaman you tube atau lainnya sesuai apa yang anda sampaikan diatas tentang Zakir Naik, mohon dishare rekaman tersebut, karena kita tahu tanpa ada bukti otentik maka kita tidak akan pernah percaya apa yang anda sampaikan, jangan menyampaikan fitnah kalau belum ada bukti. terima kasih

  2. rohman adipaty

    April 13, 2016 at 11:35 am

    Terima kasih kepada redaksi salafynews.com.
    Kami menunggu tulisan-tulisan berikutnya.

  3. Pingback: Dr Zakir Naik Sebarkan Wajah ‘Islam’ Ala Wahabi | SALAFY NEWS

  4. Local Man Giah

    April 16, 2016 at 8:01 am

    Agama bukan untuk diperbahaskan, bukan untuk diperbanbingkan, bukan untuk mengadili perbuatan orang..sanggup membohong sini sana memaksa orang lain masuk agama nya. Dia tidak tahu agama Islam yg sebenar tidak boleh memaksa orang yg lain yg sudah beragama.

  5. agungjayantoro

    April 16, 2016 at 10:32 pm

    Benar. Saya setuju. Kita harus hati hati dalam memilih guru. Di Indonesia sdh banyak ORANG2 yg bertahan seperti itu…..

    • agungjayantoro

      April 16, 2016 at 10:35 pm

      Di Indonesia banyak ORANG2 berpaham seperti itu…..

  6. Soenardjo

    April 18, 2016 at 9:42 am

    Saya gk kenal zakir naik…palagi meng klaim diri nya ulama..
    Hebat betul..meng klim diri sendiri..tanpa pengesahan ulama yg mutawatir ilmu nya..

  7. Ahmad bil marufi

    April 20, 2016 at 8:54 am

    Seleksi alam akan membuktikan sebuah kebenaran hanya Allah lah yang maha benar

  8. oppo neo3

    April 24, 2016 at 1:43 pm

    itu dajjal..saya kristen,,melihat ada yg aneh sosok yg satu itu,,menjahili smua agama umat lain,,membuat bentrokan.antara beragama”

  9. Wahabodo

    July 18, 2016 at 10:21 am

    Dasar otak wahabi, merasa paling benar aja

  10. m.ivan

    October 2, 2016 at 5:02 pm

    pintar dan mengerti tentang Al-Qur’an dan hadits tanpa guru mgkn karena hidayah Allah SWT, tapi jika pintar dan mengerti hanya utk menyesatkan umat muslim maka org tersebut akan mendapat azab dunia akhirat dari Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: