Editorial

Catatan Peziarah di Tragedi Mina

MINA, Salafynews.com – Saya bingung apa yang harus dituliskan. Geram bercampur amarah. Sedih berbaur dengan kecewa. Musibah kembali terjadi di Mina. Lebih dari seribu syuhada. Belum kering airmata, lalu lalulintas berita sosial media yang tak jelas arahnya.

Ada yang menyalahkan takdir, melemparkan tanggung jawab pada Tuhan. Ada yang membuatnya jadi gudang teori. Atau amunisi tambahan untuk perdebatan antar kelompok yang tak berkesudahan. Dan ada yang menyebarkan foto-foto tragis. Saya membatin. Jasad bertumpuk tak bernyawa menjadi konsumsi yang lewat di depan mata. Bayangkan, bila ia ayah kita, saudara kita, keluarga kita? Mari perlakukan semestinya. Cukuplah menahan diri menyebarluaskannya. Lalu dimulai tuding menuding itu: siapa biang kerok di balik jiwa yang melayang pada Tuhannya.

Kemudian saya bayangkan, bagaimana dunia di luar Islam memandangnya. Mereka memperhatikannya. Bagaimana Barat, non Muslim melihat bagaimana Umat Islam bereaksi terhadapnya. Bagaimana musibah kemanusiaan dipertontonkan dengan telanjang. Jari menuding jamaah yang tak bisa diatur. Begitukah disiplin kaum Muslimin?

Malu, prihatin, kecewa. Yang lain menyerang mazhab yang berbeda, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka berhaji di tempat yang sama. Yang lain karena iring-iringan putra mahkota. Sempat beredar pula raja menitahkan eksekusi untuk petugas yang tak becus mengelola. Sebegitu cepatkah kita mengambil kesimpulan? Kemudian sebaris pesan tentang mereka yang masih hidup tapi diperlakukan seperti sudah tiada. Di jalanan, di rumah sakit, dilemparkan ke dalam truk atau dibariskan sepanjang jalanan.

Tunggu, wahai saudara. Tunggu dulu untuk itu semua. Mari kembali pada fakta.

Pertama, jumlah jemaah sudah dapat diduga. Dari data yang masuk di imigrasi hingga keberangkatan menuju Arafah dan Mina. Sudah waktunya teknologi mengambil alih. Misalkan menghitung berapa jamaah ketika wukuf di Arafah. Bukankah untuk itu dibuat Mina Jadid? Perluasan daerah Mina. Karena mereka tahu, jumlah jamaah sudah memenuhi batas kuota. Dan mulailah bekerja dengan mengatur arus jamaah, per negara. Ini sudah langkah yang semestinya. Adapun tentang jamaah Indonesia yang dibelokkan ke jalur 204, ini fakta yang harus dicarikan oleh Pemerintah pertanggungjawabannya.

Kedua, kurang tersedianya rambu-rambu peringatan. Atau jalur evakuasi. Atau himbauan bagi jamaah di saat-saat krusial seperti itu. Menonton bola saja, atau di gedung bertingkat saja, ada back up plan untuk peristiwa darurat. Pintu-pintu emergency yang bisa dibuka kapan saja. Bayangkan berdesakan, lalu beton di kiri dan kanan, dibangun begitu rupa hingga bertahan mengepung lautan manusia. Sosialiasi itu dimulai jauh sebelum berangkat pula. Menjadi agenda pada manasik selain ritual peribadatan. Seperti tentara, berlatih dan berlatih, untuk satu momen yang tak terduga.

Ketiga, pengawasan udara, cctv, drone tv dan sebagainya untuk mengantisipasi penyumbatan arus jamaah. Mengapa jamaah terhenti? Mengapa terjadi bottleneck yang memaksa? Adakah rekaman lautan manusia itu? Bila raja Saudi memerintahkan investigasi, sudahkah alat mencarinya ia siapkan sebelumnya? Mana data rekaman ribuan cctv yang tersebar di Mina?

Bila data-data itu tak tersedia, pengalaman mengelola tahunan berhaji wajar bila dipertanyakan. Tentu siapa pun tak dapat mengira kapan lautan berubah menjadi gelombang yang menghantam. Mempersiapkannya saya kira, adalah setengah dari bekerja.

Wajar bila kemudian terjadi usulan di sana sini. Ide konsorsium antarbangsa untuk mengelola kepentingan bersama. Tidak menjadikannya monopoli satu bangsa, apalagi satu keluarga. Bekerja sama dan terbuka, itu kuncinya.

Maka dunia belajar pada puluhan juta orang yang berziarah ke Karbala setiap tahunnya. Wajib dicatat: semua terjadi karena kerjasama. Sunni, Syiah, non muslim, semua warga Irak bahu membahu memberikan yang terbaik. Ziarah Karbala bukan perkara mazhab. Justru pada ziarah seperti itu Irak dipersatukan.  Keliru orang mengritik pengelolaan lautan manusia pada Karbala identik dengan mazhab Syiah. Tidak. Muslim Sunni besar sekali perannya. Bahkan para rahib Kristiani, semua terlibat. Semua turut serta.

Cukup hentikan tudingan pada para peziarah. Mereka sudah terlalu sering dikambinghitamkan. Buka lembaran baru: tata kelola haji yang transparan dan bekerja sama. Biarlah berbagai negara ikut membantu. Bagi mereka kesempatan untuk berharap percik pahala melayani para tamu Sang Pencipta. Orang-orang Makkah dan Madinah takkan pernah kehilangan kesempatan berkhidmat itu: memberikan rumah mereka sebagai tempat beristirahat para peziarah. Atau memasak makanan untuk diberikan gratisan pada mereka. Atau memijat kaki-kaki kelelahan. Haji ladang berkhidmat, bukan ladang mencari keuntungan. Bayangkan bila penduduk dua tempat itu begitu siap sedia menerima para pecinta, mungkin haji hanya cukup membayar tiket pesawat saja. Selama di sekitar rumah Tuhan dan pusara suci Baginda masih banyak orang mengeruk pundi-pundi real dan dollar, jangan harap peningkatan pada pelayanan. Hal yang sama terjadi di dalam negeri.

Islam memberikan ruang untuk umrah sepanjang tahun. Mungkinkah keuntungan sepanjang tahun itu, kemudian dikhidmatkan untuk lima hari pelaksanaan haji? Sehingga semua yang berumrah pun turut serta dalam pahala haji? Tidakkah umrah disebut haji kecil untuk itu?

Cukup sudah beradu kata. Akui saja kekurangan. Akui saja ketergodaan gelimang dunia. Real yang bertumpuk dari keuntungan jamaah yang mengumpulkan tahunan keringat kerja. Malu kita di mata dunia. Malu kita di mata Baginda dan kekasih hati tercinta. [Sfa]

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Merangkai Fakta Permainan Busuk MOSSAD Dan SAUDI Dibalik Tragedi Mina | Arrahmah News

  2. Pingback: Kupas Tuntas: Konspirasi MOSSAD Dan SAUDI Dibalik Tragedi Mina | VOA ISLAM NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: