Editorial

Demo Al-Quds : Suara Keadilan Muslim atas Penjajahan Zionis

Ditulis oleh Eric Walberg, seorang warga negara Kanada yang dikenal di seluruh dunia sebagai jurnalis yang mendedikasikan diri menulis dan mengamati  Timur Tengah, Asia Tengah dan Rusia. Ia adalah lulusan University of Toronto dan Cambridge di bidang ekonomi, dan telah menulis mengenai hubungan Timur-Barat sejak 1980-an.

Sekredibel apakah ISIS? Bisakah klaimnya untuk mengambil alih  kepemimpinan dunia Sunni dianggap serius? Kelompok ini secara terbuka menyebut penggulingan monarki Saudi sebagai tidak Islami namun sektarian, disaat yang sama, membunuh ratusan muslim dan pihak-pihak tak diinginkan lainnya, menolak Hamas dan Hizbullah yang konsisten membela Palestina, serta menyebut keduanya sebagai kafir dan agen Iran. Retorika liar ini menyedihkan, karena pada kenyataannya Iran adalah pendukung terbaik dari perjuangan melawan Zionisme.

Salafynews.com – Demo Hari al-Quds berkembang di seluruh dunia, merefleksikan keprihatinan mendalam sesama manusia dari segala kepercayaan mengenai ketidak-adilan Israel terhadap warga Palestina, dan merupakan suatu perhatian khusus mengenai rencana Zionis untuk meruntuhkan Masjid al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Meskipun diganggu oleh berbagai macam taktik mengenai kelompok takfiri, Hari al-Quds terus menarik perhatian besar publik dunia.

Hari al Quds di Berlin Jerman

Peringatan Hari al Quds di Berlin Jerman

Hari al-Quds, yang diperingati di seluruh dunia oleh jutaan orang itu terjadi di hari Jum’at terakhir di bulan Ramadhan, bertepatan dengan bulan paling suci, di malam lailatul Qodr, Tahun ini, al-Quds diperingati pada 10 Juli. Dan malamnya adalah malam khusus yang menguatkan kaum muslim dengan rahmat Tuhan yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan dan keperdulian kaum muslim terhadap semua aspek kehidupan.

Hari Al-Quds digagas tahun 1979 oleh Ayatullah Khomeini untuk menunjukkan solidaritas terhadap penduduk Palestina dan sebagai bentuk penentangan terhadap pendudukan Israel terutama di Yerussalem.

Arti pentingnya adalah  memprotes secara terang-terangan  rencana berkelanjutan  AS-Israel  untuk membuat Yerusalem (kota suci al-Quds, ) sebagai hanya milik Israel saja, memprotes penghancuran situs Islam yang suci milik kaum Muslim di al-Haram al Sharif (tempat suci yang agung ) termasuk Masjid al-Aqsa dan Kubah Batu, dan memprotes agresi besar-besaran Israel  terhadap semua  Muslim, tidak hanya di Palestina, tapi juga mulai Libya sampai ke Afghanistan.

Ayatullah Khomeini paham mengenai hubungan antara perjuangan untuk membebaskan Palestina dan perjuangan untuk menegakkan keadilan sosial di seluruh dunia. “Semua harus tahu bahwa tujuan para superpower itu untuk menciptakan Israel tidak hanya berhenti pada pendudukan Palestina. Mereka merencanakan sebuah surga yang terlarang, menyeret semua negara-negara Arab agar bernasib sama seperti Palestina.”

Di Iran, pemerintah menyokong dan mengorganisir unjuk rasa Hari al-Quds. Hari al-Quds juga diselenggarakan di seluruh dunia Arab dan dunia Muslim seperti di Eropa dan Amerika Utara.

Peringatan Hari al Quds di Pakistan

Peringatan Hari al Quds di Pakistan

Popularitas Hari al-Quds  tidak bisa dipungkiri menunjukkan bagaimana semua orang yang mendukung pembebasan Palestina menghargai dan menyetujui dukungan setia Iran, satu-satunya negara yang benar-benar berkomitmen untuk membantu Palestina.

PBB dan badan-badan Internasional lainnya dengan tegas telah menyatakan bahwa Yerusalem adalah bukan milik baik Israel ataupun Palestina, dan statusnya harus ditetapkan melalui negosiasi sehingga hal itu membuat Yerussalem terbuka untuk kedua belah pihak dan bahkan untuk  dunia, dengan menyatakanbahwa kota itu adalah kota Internasional.

Rencana asli PBB pada tahun 1947 adalah, mengusulkan “sebuah negara Arab merdeka, sebuah Negara Yahudi independen, dan Kota Yerusalem”. Namun Israel mengabaikan semua hal ini dan sebagai gantinya justru menyatakan dirinya merdeka pada tahun 1948, menyatakan “pembentukan negara Yahudi di Eretz [Agung] Israel, yang kini lebih dikenal sebagai Negara Israel”. Dimana peringatan hari kemerdekaannya  adalah hari berkabung bagi penduduk Palestina, Nakba Day, yang berarti hari bencana.

Setelah perang dengan negara-negara Arab yang diikuti pada tahun 1948, ribuan warga Palestina telah terbunuh dan ratusan ribu pengungsi dipaksa meninggalkan rumah-rumah mereka.

PBB kemudian mengeluarkan Resolusi 194 yang  mengklaim kekuasaan atas Yerusalem, dan dengan tegas telah diungkapkan dalam ayat 11, “bahwa para pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka dan hidup damai dengan tetangga mereka harus segera diijinkan untuk melakukan hal itu pada masa-masa awal diberlakukannya resolusi”. Resolusi ini, diterima langsung oleh Israel (meskipun  tanpa niat memenuhinya sama sekali), dan hal ini  masih merupakan dasar hukum utama bagi Penduduk Palestina untuk mengklaim kembali hak-haknya yang merupakan poin utama dalam negosiasi perdamaian.

Resolusi 194 juga menyeru kepada pembentukan komisi Konsiliasi PBB untuk Palestina, Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa mekanisme untuk penyelesaian masalah sebenarnya telah ada disana, jauh-jauh hari sebelumnya, dan Hari al-Quds adalah bagian penting yang mendukung terwujudnya resolusi atas konflik ini, jika benar-benar Israel mau melakukan hal yang masuk akal.

PBB sendiri sebentar memanas kemudian dingin kembali akan konflik Palestina semenjak waktu itu. Di tahun 1973, resolusi Majlis Umum PBB mengenai Apartheid mengutuk aliansi kotor kolonialisme Portugis, Apartheid dan Zionisme, namun kemudian tidak memiliki kejelasan tindak lanjut.

Kemudian, Resolusi Majelis Umum 3379 di tahun 1975 menegaskan bahwa “ZIONISME ADALAH BENTUK DARI RASISME”. Namun kemudian pernyataan ini dicabut karena ancaman Amerika. Upaya selama bertahun-tahun untuk mengusir Israel dari PBB atas pelanggaran yang terus-menerus terhadap resolusi PBB selalu terhalang oleh kekuatan Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Di tahun 2012, PBB memperbaharui status Palestina sebagai “negara pengamat non anggota”, hal ini kemudian digambarkan The Independent sebagai pengakuan de facto terhadap negara berdaulat Palestina. Dan pada bulan Oktober 2014, 135(70%) dari 193 negara naggota PBB mengakui negara Palestina yang berdaulat penuh atas Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Tak diragukan lagi bahwa kesuksesan Hari al-Quds dalam menekan Israel untuk memenuhi komitmennya adalah penting dalam hal ini. Hanya AS dan negara-negara Mikronesia, Pulau Marshall dan Palau, yang semuanya terkait dengan Amerika lah yang masih konsisten mendukung Israel di PBB.

Peringatan Hari al Quds di London

Peringatan Hari al Quds di London

Baru-baru ini saja, Australia dibawah kepemimpinan John Howard dan Kanada dibawah kepemimpinan Stephen Harper, terang-terangan mendukung Israel di PBB.

Ayatullah Khomeini menyatakan, “Masalah al-Quds bukanlah masalah pribadi atau personal. Hal ini juga bukanlah masalah eksklusif satu negara atau masalah masa kini dari semua Muslim. Sebaliknya, itu adalah sebuah fenomena tentang para penyembah Tuhan dan orang-orang beriman dari segala usia-masa lalu, sekarang dan masa depan “.

Upaya-upaya  penguasa Barat yang berada  dalam cengkeraman Zionisme dan bertekad untuk merusak popularitas Iran di antara mereka yang menentang pendudukan Israel di Palestina, selalu ditunjukkan dari tahun ke tahun.

Tinggal di Kanada, saya menyaksikan bagaimana organisasi Zionis, B’nai Brith dan Liga Pertahanan Yahudi, menyebarkan pidato kebencian mereka di media-media utama, yang hanya memberi sedikit perhatian  kepada perjuangan Palestina.

Meskipun demikian, dukungan untuk Palestina justru menguat di Toronto. Dan meskipun  pemerintah menolak  untuk mengeluarkan izin kepada penyelenggara, demonstrasi akan tetap berlanjut.

Tahun lalu, 5000 demonstran menghadapi ancaman dari 1000 Zionis yang menghadirkan polisi bersenjata berat. tidak ada penyebab yang menyatukan warga Kanada mengenai keadilan Internasional seperti yang disebabkan oleh masalah Palestina.

Penyelanggara, Sayed Rizvi mengatakan bahwa 70 organisasi ikut ambil bagian dalam demo hari al-Quds,  termasuk organisasi Yahudi Neturei dan Independent Jewish Voices (Suara Kemerdekaan Yahudi).

“Pendukung kami adalah orang-orang yang merasa sedih ketika mereka melihat foto dan gambar dari apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Kami percaya Zionis tidak mewakili agama Yahudi. Kami memiliki tujuh rabi di sini untuk mendukung kami. “

 

Al-Quds, Kota Internasional

Mahkamah Agung AS baru-baru ini menguatkan kebijakan  lama Amerika Serikat yang tidak membolehkan orang-orang Yahudi Amerika untuk melahirkan di Yerusalem yang ingin  menyatakan anak-anak mereka penduduk Yerusalem, hal ini secara implisit  membenarkan klaim Israel untuk memiliki Yerusalem (hanya peraturan Israel yang berlaku di Yerussalem).

Presiden George W. Bush menandatangani Undang-Undang Otoritas Hubungan Luar Negeri di tahun 2012 yang melanggar kebijakan luar negeri AS sendiri, menempatkan Kongres pada rekor terburuk dengan menganggap Yerussalem adalah ibukota Israel. Dan hal ini menimbulkan masalah serta protes dari kaum Yahudi Amerika.

Upaya serupa untuk menyusupkan keinginan Israel dalam pemerintahan Kanada di masa lalu. Masalah yang ditimbulkannya menyebabkan Perdana Menteri Konservatif, Joe Clark menarik kembali seruan tergesa-gesanya di tahun 1979 untuk mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel. Hal ini menunjukkan betapa naïf politisi-politisi Barat itu, dan betapa jahat penasihat Zionis mereka.

Poitisi Kanada paling pro-Israel dalam sejarah adalah Perdana Menteri Stephen Harper, dan meski begitu ia bahkan tidak berani mengambil langkah bodoh semacam itu.

Peringatan Hari al Quds di Nigeria

Peringatan Hari al Quds di Nigeria

Sementara itu, momentum untuk mendukung Hari al-Quds  di seluruh dunia terus berkembang. Kedua Nigeria dan Afrika Selatan menjadi tuan rumah demonstrasi dengan 5.000 demonstran tahun lalu. Di Nigeria pada tahun 2014, prosesi hari al-Quds  berlangsung di 24 kota besar, terutama di utara negara itu. Prosesi, yang diselenggarakan oleh Gerakan Islam Nigeria (NIM)  dilakukan dengan damai diseluruh kota-kota tersebut kecuali di kota  Zaria, rumah pemimpin NIM, Ibrahim Zakzaky, di mana Angkatan Darat Nigeria dilaporkan menembaki peserta dan menewaskan 35 orang.

Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, terjadi pada tahun lalu di Suriah dan Irak, di mana milisi ISIS  yang mengumumkan khalifah gadungan, justru mengganggu orang-orang dari perjuangan pembebasan Palestina, meskipun ISIS mengklaim ingin mengusir kaum Zionis dan mengembalikan kedaulatan Muslim al-Quds.

Sekredibel apakah ISIS? Bisakah klaimnya untuk mengambil alih  kepemimpinan dunia Sunni dianggap serius? Kelompok ini secara terbuka menyebut penggulingan monarki Saudi sebagai tidak Islami namun sektarian, disaat yang sama, membunuh ratusan muslim dan pihak-pihak tak diinginkan lainnya, menolak Hamas dan Hizbullah yang konsisten membela Palestina, serta menyebut keduanya sebagai kafir dan agen Iran. Retorika liar ini menyedihkan, karena pada kenyataannya Iran adalah pendukung terbaik dari perjuangan melawan Zionisme. (SFA/LM)

Ditulis oleh Eric Walberg, seorang warga negara Kanada yang dikenal di seluruh dunia sebagai jurnalis yang mendedikasikan diri menuenulis dan mengamati  Timur Tengah, Asia Tengah dan Rusia. Ia adalah lulusan University of Toronto dan Cambridge di bidang ekonomi, dan telah menulis mengenai hubungan Timur-Barat sejak 1980-an.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: