Nasional

Denny Siregar: Terima Kasih NU

Sabtu, 15 Oktober 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Saya selalu senang dengan sikap NU. NU itu seperti organisasi Hizbullah di Lebanon. Hizbullah meski sebagai organisasi besar dan kuat di Lebanon, tidak mau mencampuri urusan dalam negeri Lebanon. (Baca: Isu SARA Jelang Pilkada, Ketum PBNU: Jangan Jual Nama Tuhan dalam Berpolitik)

Lebanon itu negara demokratis parlementer. Sesudah perang saudara 15 tahun, mereka membangun sistem khusus di negaranya yang bernama konfesionalisme untuk menghindari kembali terjadinya perang sektarian.

Disana, Presidennya haruslah mereka yang dari Kristen Maronit, PM-nya dari muslim sunni, Wakil PM-nya dari kristen ortodoks dan ketua parlemennya dari muslim syiah. Ini kesepakatan diantara mereka sendiri.

Hizbullah sendiri adalah organisasi syiah. Mereka tugasnya melindungi Lebanon dari serangan negara luar, Israel khususnya. (Baca: Ketua PBNU; NU Juga Jadi Target Terorisme)

NU persis seperti itu..

Mereka tidak mencampuri urusan politik dalam negeri dan membiarkan sistem berjalan dgn demokratis. Mereka hanya bersiap, seandainya mereka dibutuhkan oleh pemerintah untuk turun tangan. Karena itu Banser dan Anshor meningkatkan perekrutan dimana-mana.

Cara mereka menengahi masalah terhadap situasi yang terjadi pun sangat menarik..

Seperti ketika mereka mengetahui bahwa ada oknum-oknum yang berkepentingan menunggangi kasus Ahok dengan isu SARA. Pengurus NU langsung melakukan koordinasi dengan Menkopolhukam Wiranto.

Sesudah pertemuan, keluarlah statement Kyai Said Agil bahwa Ahok seharusnya di proses secara hukum. NU memposisikan diri berada di pihak yang tidak bertentangan dengan mereka yang menamakan diri “umat muslim” yang demo itu, karena itu berpotensi menimbulkan bentrokan. (Baca: Ahok, Quraish Shihab Hingga Grand Mufti Suriah Jadi Korban Pemelintiran Buni Yani)

Meski begitu NU tahu, bahwa tidak ada indikasi penistaan agama disana, tapi mereka harus mengeluarkan statemen sebagai pencegah teradunya NU dengan saudara-saudara sebangsanya sendiri..

Cara perang yang elegan. Dekatlah dengan temanmu, tapi lebih dekatlah kepada musuhmu…

Ini persis dengan situasi Pilpres, ketika Kyai Said Agil secara terbuka menyatakan diri berada di barisan Prabowo tepat saat Demokrat mencabut batas pemisah antara 2 kekuatan besar dengan alasan “netral”. NU langsung membelah diri dan berada di dua sisi untuk mengamankan benturan. (Baca: Rais ‘Aam PBNU; Wahabi, Salafy, ISIS Ngaku-Ngaku Ahlusunnah)

NU teruslah menjadi perekat bangsa. Nasionalisme kalian sudah teruji sejak masa negara ini belum merdeka..

Senang melihat kyai-kyai kalian yang memang layak mendapat predikat ulama. Sarungan, rokok, kopi, kopiah dan sikap kalian yang memandang semua masalah dengan humor cerdas adalah ciri khas bangsa ini sesungguhnya. Bravo NU.. Saya angkat secangkir kopi malam ini untuk kalian.. (SFA)

Sumber: DennySiregar.com

1 Comment

1 Comment

  1. Rusli Zchmad Zahri

    October 20, 2016 at 7:23 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: