Internasional

Dinasti Al-Saud Akan Runtuh Tiga Tahun Mendatang

Salafynews.com – Sebuah website milik analisis politik Rusia mengatakan bahwa Saudi Arabia akan segera runtuh dalam beberapa tahun kedepan jika masih terus memaksakan diri menyerang Yaman dan meneruskan petualangannya di kawasan itu.

“Keruntuhan itu mungkin akan terjadi dalam dua atau tiga tahun kedepan, jika al-Saud masih meneruskan petualangan militernya dan terus menerus bertindak kasar kepada Iran, Irak dan Yaman”, tulis website analisis tersebut pada kamis (4/6) kemarin.

Dikatakan juga bahwa meski baru-baru ini terdapat perubahan dalam kepemimpinan Saudi, dimana posisi kepemimpinan diberikan kepada generasi yang lebih muda, dan pada teorinya pemerintahan akan mengalami perombakan berupa modernisasi dan reformasi. Akan tetapi pada kenyataanya Riyadh tetap saja mencampuri urusan dalam negeri negara-negara tetangganya termasuk dengan cara-cara militer maupun teror.

Website itu juga menulis bahwa rezim Saudi sendiri adalah sebuah rezim yang tidak sah dengan mengatakan, “Saudi Arabia tercipta dari berbagai macam latar belakang agama maupun suku yang berbeda, dan pemerintah al-Saud hanya berusaha menyeimbangkan kepentingan kompleks diantara para kepala suku”.

Awal minggu ini, sumber dari Saudi Arabia membocorkan informasi bahwa sekelompok pangeran tengah merencanakan makar untuk menjatuhkan Raja Salman bin Abdul Aziz dan putra mahkotanya, Pangeran Muhammad bin Nayef dari tahta. Baca Raja Salman “Cium” Makar Sejumlah Pangeran

Bin Jamal, aktifis Saudi yang menulis tentang hal-hal yang terjadi di dalam kerajaan Saudi di halaman twitternya, mengungkapkan upaya bersama sejumlah pangeran, termasuk Tallal, Ahmed dan Mut’ab untuk segera mengambil alih posisi secara tepat dan terpadu, guna  menangani berbagai peristiwa yang terjadi di Saudi Arabia.

Menurutnya, pangeran-pangeran Saudi itu tengah mencari cara untuk menyelamatkan negaranya dari petualangan Muhammed bin Nayef dan wakilnya Mohammed bin Salman, yang dijuluki Bin Jamal sebagai “Remaja yang telah melakukan kudeta”.

Hal ini muncul setelah sebuah sumber menyatakan bahwa adik tiri Raja Salman,yaitu  Muqrin bin Abdul azis kini berada dalam tahanan rumah setelah dilengserkan kedudukannya dari kursi  putra  mahkota.

Asa’ad Omabiya Abu Qalilah dan jurnalis independen Libya yang memiliki link dengan orang dalam kerajaan Saudi, mengatakan bahwa Muqrin tidak boleh mengunjungi siapapun atau menerima tamu siapapun di istananya. Baca Mantan Putra Mahkota Saudi Ditangkap

Pada 29 April lalu, Raja Salman melengserkan Muqrin dari tugasnya sebagai putra mahkota dan menunjuk keponakannya Muhammed bin Nayef sebagai pewaris tahta yang baru.

Peristiwa ini adalah peristiwa yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah Monarki al-Saud, seorang cucu pendiri kerajaan  dipilih menjadi putra mahkota dan bukannya anak dari sang raja. Baca Perebutan Kekuasaan Monarki “Al-Saud” Semakin Memanas

Muhammaed bin Nayef, 55 tahun adalah cucu dari pendiri Saudi Arabia, dan dipilih menjadi menteri dalam negeri sekaligus putra mahkota.

Posisi Menteri luar negeri al-Saud, Faisal juga digantikan oleh dubes Saudi untuk Washington, Adel al-Jubeir.

Perubahan-perubahan ini adalah sinyal terjadinya pergeseran besar-besaran pada pemerintahan tingkat atas keluarga Saudi yang menjauhkan diri dari pangeran pilihan Raja Saudi terdahulu, Raja Abdullah yang meninggal di bulan Januari lalu dan untuk mereka yang dekat dengan monarki baru tersebut.

Laporan terdahulu dari dalam keluarga Saudi menyatakan bahwa Muqrin telah disuap oleh raja Salman bin Abdul Aziz demi mendorong putra Raja Salman naik menjadi putra mahkota selanjutnya.

Mujtahid, aktifis politik Saudi yang diyakini sebagai anggota dari atau setidaknya memiliki kaitan dekat dengan keluarga kerajaan, menyatakan pada tweet terakhirnya bahwa Muhammad bin Salman yang berusaha ingin menjadi raja berikutnya telah menyuap sebanyak  kurang lebih 10 milyar dolar kepada Muqrin.

Sementara itu, Muhammad bin Salman telah membuka ratusan akun Twitter dan merekrut banyak pegawai untuk mempublikasikan hal-hal baik berkaitan dengan dirinya.

Di awal bulan ini juga, juru bicara Parlemen Suriah, Mohammad Jihad al-Laham menggambarkan Saudi Arabia sebagai musuh terbesar dunia, dan mengatakan wahabisme telah menyebarkan terorisme dan ekstrimisme di kawasan Timur Tengah. [SFA] 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: