Eropa

Erdogan Kobarkan ‘Perang’ Dengan Jurnalis dan Pers

10 Maret 2016,

SALAFYNEWS.COM, LONDON – Surat kabar London “Times” menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh salah satu penulis dari Istanbul “Hannah Lucinda Smith” terkait kebebasan berekspresi di Turki.

Penulis itu menjelaskan bahwa para jurnalis senior dalam surat kabar oposisi “Zaman” kini mereka sedang menanti untuk ditangkap atas tuduhan terorisme dalam rangka kampanye pemerintah yang memulai perluasan represinya terhadap para lawan politik dan media. (Baca: Wartawan Turki Gelar Demo Anti Penindasan Media)

Hannah mengatakan bahwa editor surat kabar tersebut, Abdul Hamid Bilici, telah ditangkap sementara ini, ia mengutip pernyataan salah satu penulis senior Bulent Kenes yang mengatakan bahwa ia pasti akan ditangkap.

Surat kabar “Zaman” adalah surat kabar ketiga yang oleh otoritas Turki ditekan suaranya selama enam bulan terakhir, menurut artikel.

Tiga surat kabar memiliki hubungan dengan tokoh agama Turki Fethullah Gulen yang tinggal di Amerika Serikat, mengklasifikasikan pemerintah Turki sebagai gerakan teroris. (Baca: OTORITER.. Erdogan Matikan Kebebasan Pers dan Demokrasi di Turki)

Penulis tersebut juga menunjukkan bahwa surat kabar “Zaman”, selama seminggu yang lalu, merilis berita tentang penangkapan seorang DJ penyiar radio karena mengkritik Presiden Erdogan dalam sebuah postingan di situs jejaring sosial Twitter-nya dan juga menerbitkan sebuah analisa terkait istana presiden yang sering terkena kritik.

Dalam edisi terakhir surat kabar tersebut, sebelum penggrebekan polisi ke kantor redaksi, sontak media-media Turki merilis sebuah judul besar di halaman depannya “hari hina bagi kebebasan pers di Turki”.

Keprihatinan organisasi hak asasi manusia tentang pembatasan kebebasan media di Turki terus mengalami peningkatan, menurut penulis.

Andrew Gardner dari organisasi Amnesty International menulis sebuah Artikel, yang mengatakan bahwa “pemerintah Presiden Erdogan dengan pukulan kerasnya dan berbagai upaya untuk mengendalikan suara-suara kritis, dan telah menginjak-injak hak asasi manusia dan kebebasan Pers di Turki”, seperti dikutip dari Raialyoum (09/03).

Seorang penulis “Kenes” kini sedang menghadapi lebih dari 20 kasus dimana ia didakwa atas tuduhan penghinaan, Erdogan dan Perdana Menteri Davutoglu menggugatnya, menurut penulis. Bagi siapa saja yang menghina presiden akan mendapatkan hukuman penjara selama empat tahun, menurut KUHP Turki.

Sementara Kenes mengatakan, “Semua kejahatan yang dituduhkan kepada saya adalah ketika saya menolak semua langkah represif yang diambil oleh pemerintah selama lima tahun terakhir”, menurut penulis. (Baca: Terkait Pencucian Uang, Kejaksaan Italia Periksa Bilal Anak Erdogan)

Penulis mengatakan bahwa dahulunya Gulen adalah sekutu Erdogan untuk waktu yang cukup lama, namun perselisihan yang cukup besar terjadi antara mereka pada tahun 2013 ketika ia mencantumkan nama anak presiden diantara sekelompok menteri terkemuka dan keluarga mereka yang telah ditangkap atas tuduhan manipulasi transaksi tanah. Presiden Turki pada saat itu menuduh para staf Gulen mendalangi operasi untuk menggulingkan pemerintah. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: