Fokus

Fahri Hamzah Si Mulut Besar “Agen PKS”

Salafynews.com – Oh PKS. Entah darimana penulis harus memulai? Barangkali penulis akan memulainya dengan mengutip manifesto Partai Keadilan Sejahtera yang menyebutkan bahwa kehadiran partai ini adalah untuk membentuk masyarakat madani.

“Tanpa keberdayaan warga mustahil fungsi control dapat terlaksana. Keberdayaan masyarakat dalam melaksanakan seluruh hak dan kewajiban merupakan inti “masyarakat madani”. Warga yang sadar akan mampu mencegah kewenang-wenangan elit yang mendominasi proses pembuatan kebijakan public. Partai memandang perlu membentuk masyarakat madani – sebuah masyarakat yang memegang teguh idiologi yang benar, berakhlak mulia dan secara politik-ekonomi-budaya bersifat mandiri, dan memiliki pemerintahan sipil.” (sumber Manifesto Politik Partai Keadilan Sejahtera)
Si_Mulut_Besar
Penulis garis bawahi, penulis miringkan, dan penulis cetak tebalkan apa itu sejatinya masyarakat madani dalam benak PKS, yang menurut mereka adalah masyarakat dengan ideologi yang benar koma berakhlak mulia.

Lebih tebal di bagian akhlak mulia, padanannya boleh jadi merujuk pada konsepsi dalam agama Islam (atau merujuk pada yang lainnya?) mengenai Akhlaqul Karimah atau terjemahan bebas, akhlak mulia. Di mana akhlak mulia dalam konsepsi tersebut adalah ejawantah dari sifat sifat baik manusia, meliputi kejujuran, kerendahhatian, rasa hormat, kasih sayang, kelembutan, adil, tepa selira, dan rasa ksatria.

Dalam pengamatan lebih jauh, akhlak mulia adalah jawaban Islam yang lebih spesifik pada falsafah kemanusiaan (humanity) dalam bentuk golden rule, di mana ada diktum atau hukum moral yang menyebut “Perlakukan manusia lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Jika kau ingin diperlakukan baik, maka kau harus berlaku baik. Jika kau ingin diperlakukan adil, maka kau harus berlaku adil. Jika kau ingin diperlakukan damai, maka dirimu harus damai.”

Bahkan sang Nabi Islam, Muhammad Rasulullah SAW pernah mengeluarkan pendapatnya yang menjadi asas dari kemunculan Islam, bahwa dirinya di utus tidak bukan tidak lain untuk memuliakan akhlak. Memperbaiki moralitas masyarakat Arab jahiliyah yang hilang radar arah dan tujuan sosial.

Masyarakat penuh keterbelakangan yang menuju kepunahan ras mereka sendiri, karena hidup tanpa timbangan rasa adil, tanpa kelembutan, tanpa kerendahhatian, kejujuran, dan hilang rasa ksatria.

Lalu ada di manifesto bagian mana pendapat Ustad Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR dari Partai Keadilan Sejahtera yang menyatakan bahwa menghina pejabat adalah bagian dari hiburan?

“Tidak perlu tersinggung, tugas pejabat itu di antaranya dimaki-maki. Siapa lagi yang dimaki kalau bukan pejabat publik. Saya anggap penghinaan itu hiburan sebagai pejabat publik,” ujarnya sebagaimana dikutip laman Kompas, (05/08).

Apakah menghina bagian dari akhlak Islam? Bagian dari resolusi dan penyelesaian masalah dari politisi yang membawa partai agama? Mari simak lebih lanjut.

Menghina Hal Sepele?
Nabi Allah di Arab menegakkan ahlak. Memastikan segala sesuatunya ada dalam timbangan yang hak atau kebenaran, dan menghindarkan orang orang dari berbuat zalim atau terjemahan bebasnya tidak pada tempatnya.

Karena tidak pada tempatnya, di Arab jahiliyah hal yang sepele bisa membawa pertumpahan darah, kebalkannya hal yang serius sangat disepelekan. Dan bagian yang sangat disepelekan adalah salah satunya kebiasaan menghinakan orang lain. Ya menghina, insulting, flaming, ad hominem, personal attack, atau apapun Anda menyebutnya, bukanlah hal sepele.

Dan Nabi tidak pernah menyepelekan perkara penghinaan, di mana Alquran menulis para penghina manusia bagaikan pemakan bangkai.

Penghinaan bukan hal sepele pun sebagaimana sejarah membuktikan, bahwa alasan beberapa pemimpin politik besar, para raja, para ratu, para jenderal,  membawa rakyatnya ke dalam medan perang penuh darah dengan korban ratusan juta manusia sia sia adalah karena adanya unsur penghinaan.

Dari sejarah penaklukan bangsa Mongol yang dimulai penculikan serta penghinaan kepada Temujin muda, sampai pada sejarah perang Eropa yang dimulai dari penghinaan orang Yahudi kepada Adolf Hitler muda. Anda bayangkan sendiri betapa dari hal sepele itu, dunia hancur luluh lantak, anak anak kehilangan orang tua, atau kebalikannya mereka yang berambut putih menguburkan mereka yang berambut hitam, karena perang, dimulai dari terhinanya seorang politisi, terhinanya seorang pejabat.

Segala jenis hinaan di ketam dalam hati manusia dan menunggu sumbu ledak, dan hanya bisa dipadamkan bila dua wajah bertemu, dua kata terangkai saling meminta pengertian dan rasa maaf. Dan itu tidak mudah, tidak mudah menuju resolut.

Oleh karena itulah, dalam masyarakat madani, masyarakat perkotaan atau masyarakat idealnya Islam yang demokratis di mana hukum tegak, sipil berjaya, militer tetap berlatih dalam barak dan digunakan sebagai alat gertak alih alih dipakai beneran, masyarakat pun penuh tepa selira, saling gotong royong penuh toleransi dan apresasi, selalu di mulai dari orang per orang yang tidak gampang nyembur menghina orang lain karena dirinya merasa lebih hebat, lebih benar, Aaias sombong.

Oleh karena itulah Islam mencela kesombongan yang akan membuat orang menghina orang lain, sebagai password neraka.  Dus Al Quran menyebutkan, dan ini tercantum pula dalam manisfesto PKS,

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku Adillah, karena itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS al Maidah:8).

Yang intinya orang boleh benci. Orang boleh tidak suka pada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Namun orang dilarang karena tidak suka lalu bertindak tidak adil. Karena tidak suka lalu menghina tanpa kejelasan dan duduk perkara.

Di dunia ini memang ada tindakan manusia yang akan mengundang hinaan dan celaan, dan itu selalu dilakukan secara eksentrik, ada tindakan, dan ada akibatnya. Sehingga terkadang hinaan tidak diperlukan, karena tindakan buruk orang akan menuai keburukan pada dirinya yang didasarkan pada kejelasan hukum dan norma.

Ambil contoh orang korupsi, yang merupakan tindakan layak dapat sekarung hinaan, tapi dihina atau tidak dihina, tidak penting lagi apabila pelakunya bebas berkeliaran. Sehingga terpenting di sini, cara sipil dan madani untuk menyelesaikan masalah yang hina seperti korupsi, buang sampah, perzinahan, perampokan, suap, dan segala keburukan yang lain adalah memastikan pelakunya tidak lari dari vonis pengadilan. Dan bukan dihina hina.

Valor Suatu Negara
Lebih lebih apabila yang melakukan segala tindakan hina tersebut adalah pejabat negara. Para pejabat negara adalah cermin dan wajah kita. The Frontman, hadir karena proses demokrasi yang mahal. Proses demokrasi yang diambil dari uang dari dompet rakyatnya, untuk menjadi keterwakilan kita pada urusan serba rumit di mana kita malas dan lari dari tanggungjawab tersebut (kecuali kalau ada duitnya). Yakni mengorganisasikan pelayanan publik.

Ya memang ada pejabat tersesat jiwanya, melakukan tindakan hina, korup, berbohong, melakukan manipulasi data, melakukan tindakan nepotisme dan seterusnya membuat kita jijik bukan kepalang. Tapi menghinanya seolah menghina diri kita yang memilihnya. Sehingga tindakan paling tepat pada pejabat tersebut, adalah melemparkannya ke penjara paling pengap, atau minimal tidak memilihnya kembali dalam proses demokrasi selanjutnya, walau dirinya sudah pernah menjalani hukuman.

Seketika wajah negara diwakili oleh pejabatnya, maka mestinya berlaku pameo “ugly or nice is my government” menjelek-jelekkannya di tengah persaingan hebat antar negara untuk terlihat lebih baik satu sama lain, dan saling memanis pesona di beranda demi kucuran investasi dan mengundang pedagang pedagang besar, adalah tindakan  yang sangat disayangkan.

Ambil perumpamaan seorang suami, seorang istri, anak, keluarga, sanak famili misalkan menyebarkan aib keluarganya secara bergemuruh ke orang orang di pasar? Layakkah perbuatan itu dilakukan? Atau setidaknya cerdaskah tindakan macam itu? Tindakan menyebarkan aib kepala keluarga, di tengah pasar, hanya akan membuat keluarga Anda dikucilkan serentak, karena baunya telah disebarkan dibanding wangi yang hendak ditawarkan.

Anda pun bisa bandingkan dengan Brazil, Belanda, dan Australia. Tengok bagaimana masyarakat mereka, dan pemimpinnya bersatu membela sampah masyarakat bernama pengedar narkoba? Sekelas pengedar narkoba yang kesalahannya sudah jelas pun mereka bela di negeri asing, apatah lagi pejabat publiknya. Karena itulah yang mesti mereka lakukan demi kekompakan tim bernama negara. Dan semua demi valor atau yang dinamakan harga diri.

Harga diri adalah bagian dari pendidikan panjang. Orang bahkan memupuknya, menjaganya dengan senapan terisi peluru, mengenyahkan lalat mendekat, menyiangi dan menyelimuti dari pagi hingga ketemu pagi kembali. Harga diri adalah barang yang mudah pecah belah. Dan notabene dunia pendidikan Indonesia tidak pernah absen mengajarkan pentingnya harga diri pada anak didiknya.

Mendidik Generasi Untuk Menghina?
Sebagaimana falsafah pendidikan yang disusun oleh Kihajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, dari depan memberikan teladan, Ing Madya Mangun Karso, bersama sama menjalankan, dan Tut Wuri Handayani dari belakang memberi dorongan, adalah demi menghasilkan generasi berharga diri tinggi.

Generasi yang dituntut beprestasi, dan ketika berprestasi maju ke depan sebagai pemangku publik dan politisi, mewakili wajah Indonesia, apapun hasil dari pemilu 2014 baik parlemen maupun pemerintahan, adalah hasil terbaik dan perasan termatang bangsa ini, yang wajib dijaga melalui jalan terhormat.

Lalu bagian pendidikan yang sebelah mana, Ustadz Fahri Hamzah menyebut menghina pejabat adalah hal yang menyenangkan dan menghibur? Seorang Wakil Ketua DPR (sayangnya beliau menjabat jabatan tinggi itu) tidak berhak memberikan contoh kepada generasi muda, bahwa menghina itu perbuatan yang menyenangkan dan menghibur.

Sejauh penulis coba memaklumi (walau gagal melakukannya), dalam kondisi emfulung dan mengimersi pendapatnya, barangkali makna hiburan itu adalah makna surrealis, makna hyperrealitas di tengah hiruk pikuk politik yang memasuki abad informasi. Di mana memang lebih kentara dan membuat hati tertawa tergelak apabila mendengar tindakan politisi Indonesia yang memang tidak popular karena banyaknya tersangkut kasus malpraktik politik.

Tapi tawa itu bukan tawa renyah, bukan tawa mensyukuri apa yang terjadi, tapi tawa miris, tawa penuh ironis dan sarkasme muncul dari perasaan ‘mending ketawa saja daripada gila sendiri’ rakyat Indonesia menghadapi culdesac dunia politik yang penuh dagang sapi, korupsi, suap, perselingkuhan, kegenitan dan mata keranjang dst.

Perbuatan hina politisi yang mengundang hina adalah hiburan anakronis yang justru ingin dienyahkan, disembunyikan, bahkan tidak layak sekalipun muncul dalam catatan kaki sejarah kita, karena memalukan, aib!

Dan aib seta perbatan mengandung hina seseorang, sebagaimana ajaran Islam yang menjadi dasar dari partainya Ustadz Fahri Hamzah, memiliki resolusi terbaik.

“Tutupi aib saudaramu di dunia, maka Allah akan menutupi aibmu di akhirat.” resolusi dari Tuhan itu adalah undangan VIP agar masalah aib tidak perlu dipanjang panjang, apalagi menjadi bagian kegempitaan.

Terlebih cara suatu bangsa mengelola aib dan menjaga pejabat publiknya dari perbuatan hina tetap dalam kondisi minimum, menjadi parameter kepantasan suatu bangsa untuk memimpin bangsa lainnya di masa mendatang. [FS/ARN]

1 Comment

1 Comment

  1. Ruchiat

    April 3, 2016 at 4:12 am

    Hmmmm,,puyeng ah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: