Internasional

FAKTA.. Kurikulum Sekolah di Yordania Dukung Zionis Israel Tak Bela Palestina

14 Februari 2016,

SALAFYNEWS.COM, YORDANIA – Gambar yang dipublikasikan di salah satu sekolah di sekolah swasta di Yordania yang kurikulumnya membahas tentang masalah Palestina sebagai konflik di “Satu Rumah” menimbulkan perdebatan luas di situs jejaring sosial dimana kurikulum tersebut menyeru siswa untuk menarik garis pemisah terkait tanah agar kedua belah pihak bisa berbagi ruang (red; berbagi tanah atau wilayah).

Menurut situs Raialyoum (13/02) gambar tersebut menggambarkan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada siswa tentang sejauh mana kebahagiaan yang akan bisa diraih dari solusi semacam ini, saat sebuah negara mendirikan dua budaya yang berbeda diatas satu tanah. (Baca: Ribuan Warga Yordania Demo Kedubes Israel Serukan Pemerintah Putuskan Hubungan Diplomasi Dengan Zionis Israel)

Kementerian Pendidikan Yordania mengumumkan kepada media lokal bahwa pihak berwenang akan menyelidiki kebenaran apa yang sedang diperdebatkan oleh para aktivis di situs jejaring sosial.

Para aktivis di situs jejaring sosial mengatakan bahwa keberadaan kurikulum semacam itu hanya akan mendistorsi sejarah dan kementerian harus memonitor kurikulum dengan lebih serius.

Ibu dari salah satu siswa di sekolah-sekolah modern di Amerika mempublikasikan gambar dari kurikulum ilmu sosial untuk kelas tujuh, ia mencela diajarkannya kurikulum seperti itu di sekolah-sekolah Yordania.

Para aktivis menyebutkan “Kementerian Pendidikan tidak berperan aktif dalam menguji buku pedoman” dengan alasan bahwa “kontrol terhadap kurikulum untuk anak-anak di sektor pendidikan asing swasta adalah salah satu dasar dari revolusi intelektual untuk menyelamatkan seluruh generasi dari cengkeraman ketidakstabilan intelektual dan ketidakjelasan tujuan serta pemutarbalikan prinsip dan akidah”. (Baca: Kesamaan Wahabi, Zionis, ISIS Suka Hancurkan Situs Sejarah Islam)

Sementara yang lain berkomentar “perlunya mengubah kurikulum yang mendistorsi citra perempuan dan menghasut kekerasan serta yang memprovokasi untuk kebencian dan rasisme, kurikulum semacam itu adalah kurikulum beracun yang mendistorsi sejarah kita dan sekarang sedang meracuni pikiran generasi kita”.

Ada juga yang menulis “dinding pemisah rasisme di dalam buku tersebut adalah dinding untuk menjaga keberadaan Israel, seakan-akan buku itu membenarkan dan memberikan alasan untuk keberadaan mereka disana”. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: