Nasional

Gaduh Kasus TEMAN AHOK, Adian Napitupulu Vs Saiful Huda EMS

Rabu, 29 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, BANDUNG – Seorang aktifis, pegiat politik serta Advokat dan juga seorang penulis opini politik serta essai sastra asal Bandung yang jebolan dari Jerman kang Saiful Huda EMS dalam akun facebooknya menulis tentang bagaimana seorang Adian Napitupulu yang ingin meyakinkannya untuk melawan relawan TEMAN AHOK, berikut tulisannya:

KOMITMEN PERJUANGAN

Anggota DPR RI Adian Napitupulu melalui Whats App tiap pagi, siang dan malam terus menerus meyakinkan saya untuk melawan TEMAN AHOK, tetapi ketika argumentasinya satu persatu saya patahkan dia langsung kabur dan memblokir Whats App saya. Hehe…Pesan saya, sesama mantan Demonstran Jalanan jangan saling merasa paling hebat, usia semakin tua harusnya semakin bijak dan dewasa. Para relawan independen TEMAN AHOK itu memang masih muda-muda, jam terbang politiknya pun belum terlampau tinggi. Namun karena saya perhatikan mereka itu serius membela dan memperjuangkan orang-orang baik yang siap memimpin DKI Jakarta dengan kejujuran, ketegasan dan keberaniannya, maka saya tidak merasa canggung untuk mendukung perjuangan mereka. (Baca: Ahok Hancurkan Tradisi Perpolitikan Indonesia)

Saya sebenarnya tidak benci dengan Partai Politik, karena saya sendiri sudah pernah lima kali masuk dan menjadi pengurus bahkan pernah jadi Ketua Wilayah Provinsi Jawa Barat di salah satu Partai Politik. Partai Politik itu sarana perjuangan aspirasi politik rakyat, melalui Pemilu tiap lima tahun sekali Partai Politik bersaing satu sama lain untuk memperjuangkan aspirasi politik masyarakat yang jumlahnya ratusan juta orang. Tanpa Pemilu, tanpa Partai Politik, bagaimana sirkulasi kekuasaan bisa terjadi? Bagaimana aspirasi politik masyarakat dikemas dan diwujudkan dalam bentuk plat form politik, dan diperjuangkan melalui mekanisme demokrasi yang sehat? Olehnya saya katakan, saya sendiri tidak pernah membenci Partai Politik dan masih memerlukan Partai Politik agar negara tidak jatuh dalam Anarkisme Politik.

Persoalannya, hingga detik ini hampir seluruh Partai Politik tidak juga mau berubah atau berbenah diri. Partai Politik seringkali ada hanya untuk dijadikan kendaraan mencapai kekuasaan belaka. Dan ketika kekuasaan itu tidak didapatkan, elit Partai Politik malah seringkali muncul sebagai bagian dari pembuat masalah baru bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Disinilah mengapa kemudian saya keluar dari Partai Politik dan menjadi lebih suka untuk mendampingi masyarakat yang dicurangi hak-haknya oleh mereka yang berlindung di balik kekuasaannya. Entah itu kekuasaan politik yang bernama Pemerintah beserta segenap lembaga dan institusinya, maupun kekuasaan financial yang bernama pengusaha, dimana dengan uang dan pengaruhnya mereka cenderung berbuat apa saja sesuai keinginan syahwatnya. (Baca: Surat Terbuka Denny Siregar Kepada Teman Ahok)

Sahabat-sahabatku, dimanapun dan di posisi apapun kalian saat ini berada. Tuhan sudah memberi banyak pada kalian anugerah. Dahulu kalian hanyalah pemuda-pemuda jalanan seperti saya, tetapi berkat welas asih Tuhan hidup kalian jadi berubah jauh lebih baik dari dahulu. Pangkat, jabatan, kedudukan dan harta sudah kalian dapatkan, untuk apa kalian meninggalkan komitmen dan konsistensi perjuangan kalian? Apa yang sesungguhnya kalian cari lagi? Syahwat berkuasa dan kaya raya tiada akan pernah habis-habisnya mendikte jiwa kalian untuk terus mengejarnya, sedangkan usia manusia pasti ada batasnya, dan segala prilaku hidup pasti akan dimintai pertanggung jawabannya, mengapa kita tidak menyadari semua ini? Dari sahabat lama saya yang juga masih jadi anggota DPR RI, memberitahukan ke saya, bahwa sudah ada ratusan anggota DPR RI periode 2009-2014 yang telah wafat. Entah itu karena sakit atau karena musibah mendadak lainnya yang biasanya sangat misterius. Tidakkah kalian jadikan pengingat semua ini? (Baca: Denny Siregar, Ahok dan Ketokan Maut KPK Kasus Sumber Waras)

Akhirnya, saya ucapkan selamat bekerja dan menjalankan amanah rakyat dengan baik. Jangan biarkan godaan setan merajai pikiran dan hati kalian. Masih ada jutaan rakyat di negeri ini yang tidak seberuntung kalian. Hidup mereka susah, melarat yang hanya untuk bisa makanpun mereka harus peras keringat pagi, siang dan malam. Mari kita semua mengabdi di negeri ini bagi kebahagiaan mereka, jika memang prilaku sebagian masyarakat yang kaya raya di negeri ini membuat kalian serasa ingin muntah. Tidak semua rakyat itu sama seperti mereka, juga tidak semua pejabat itu sama durjana seperti para pejabat keparat lainnya. Mari kita saling membangun kepercayaan, dan saksikan negeri ini kelak akan selamat dari kehancurannya. Bahkan mungkin bisa jadi Indonesia akan berubah menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Atau negeri yang subur, makmur, adil dan aman. Dimana yang berhak akan mendapatkan haknya, yang berkewajiban akan melaksanakan kewajibannya, dan yang berbuat baik akan mendapatkan anugerah sebesar kebaikannya. Tidak ada lagi penindasan, tidak ada lagi kezaliman. Semoga. Wassalam…(SHE). (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: