Fokus

IHR Belajarlah dari MER-C yang Kirim Bantuan Lewat KBRI di Suriah

Kamis, 29 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Heboh pemberitaan tentang bantuan IHR yang jatuh ke tangan teroris Suriah sedang diselidiki oleh pihak kepolisian saat ini. Namun bisa menjadi pegangan bagi para pembaca bahwa kenapa IHR sangat tidak suka kepada Rezim Bashar Assad padahal Bashar Assad dicintai dan bahkan dipilih untuk kedua kalinya menjadi presiden, bahkan IHR dalam releasenya menuduh media-media yang telah menyebarkan berita itu ke arah isu sektarian, seperti yang dilakukan oleh para pemberontak Suriah, dan anehnya ulama Aswaja Suriah dan Mufti Aswaja Suriah juga seudah menjelaskan berkali-kali bahwa di Suriah bukan perang Sektarian, dan padahal media nasional banyak yang memberitakan tentang hal ini. IHR Belajarlah dari MER-C yang Kirim Bantuan Lewat Kedubes Indonesia di Suriah, ini patut menjadi contoh kepada IHR apa yang telah dilakukan oleh Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) menyatakan, telah melakukan proses pengiriman bantuan medis ke Suriah sejak 2015. MER-C selalu bekerjasama dan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI Suriah saat mengirimkan distribusi. Inilah salah satu bentuk menjaga netralitas sebuah bantuan di daerah konflik. (Baca: Denny Siregar: Konflik Suriah di Indonesia)

Menurut Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris, MER-C tidak menjalin kerjasama dengan lembaga lain di luar KBRI dalam menyalurkan bantuan ke Suriah. Sebab pemberian bantuan harus dilakukan secara legal dan netral tanpa kepentingan pihak manapun.

“Prinsipnya pemberian bantuan secara netral melalui KBRI, dan masuk secara legal. Seperti sebelumnya, (pemberian bantuan) ke Afganistan, Palestina, kami legal,” kata Rima, saat dihubungi CNNIndonesia, Selasa (27/12). Prinsip netral dan legal itu, menurut Rima, menjadi pegangan. Jika KBRI belum memberikan izin, mereka tetap menunggu pengurusan selesai hingga mendapat izin. (Baca: Media Besar AS Kompak Palsukan Informasi dan Fakta Tentang Suriah)

Menurut Rima, koordinasi tersebut dilakukan untuk mengurus proses perizinan bantuan yang masuk dari luar Suriah, pembelian ambulans, hingga menyalurkannya ke pihak yang membutuhkan. Selama ini, kata Rima, MER-C memberikan bantuan kesehatan berupa mobil ambulans, obat-obatan maupun tim medis. Setelah mengirim dana, KBRI kemudian membeli ambulans dari luar Suriah.

Dia menjelaskan, MER-C melakukan penggalangan dana dari masyarakat melalui berbagai saluran, seperti media sosial Facebook atau menyebarkan informasi melalui pesan berantai WhatsApp. Dari penyebaran informasi itu, kata Rima, biasanya banyak orang yang bertanya langsung mengenai proses pengiriman bantuan. (Baca: Eva Bartlett Bongkar Kebusukan Media Barat dan Pro Teroris Tentang Suriah)

“Prosesnya, kami koordinasi dengan KBRI, pengurusan bantuan, mengirim bantuan atau tim medis melalui KBRI di sana,” ujarnya.

Selain urusan medis, Rima melanjutkan, MER-C tidak memberikan bantuan lain seperti makanan maupun pakaian. Fokus kampanye untuk bantuan medis ke Suriah, dilakukan jauh sebelum Aleppo ramai diperbincangkan dunia.

“Adapun sekarang masyarakat ramai mengenai Aleppo, kami tetap pada fokus bantuan medis yang sudah diupayakan sebelumnya,” katanya. (Baca: Inilah Himbauan PPI Suriah Tentang Maraknya Berita Hoax Tentang Suriah)

Diketahui, MER-C merupakan organisasi sosial kemanusian yang dibentuk pada 14 Agustus 1999 di Jakarta. Lembaga ini memberi pelayanan medis bagi korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan dan bencana alam yang terjadi di dalam maupun di luar negeri.

Selain MER-C, ada beberapa organisasi lain yang mengirimkan bantuan ke Suriah. Akibat pengiriman bantuan secara langsung, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Bachtiar Nasir dituding menyalurkan bantuan kepada kelompok pemberontak di Aleppo, Suriah. (SFA)

Sumber: CNNIndonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: