Nasional

Inilah Thoriqoh Alawiyin dan Nasehat Habib Abu Bakar al-Adni Yaman

01 FEBRUARI 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Setiap kali Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur berkunjung ke Indonesia, beliau seolah menyirami dan menghilangkan dahaga batin kita semua. Di tengah kondisi keislaman yang carut-marut, lalu-lalang fitnah dan tuduhan serta cap sesat, kebencian pada sesama saudara Muslim, dan berbagai kemunduran keberislaman itu, beliau hadir di tengah-tengah kita mengingatkan tentang pesan-pesan utama Islam sebagai agama rahmat dan cinta. Salah satunya dalam kunjungan kedua beliau ke Indonesia pada awal 2016 ini. (Baca: Peran Dakwah Damai Habaib Di Nusantara)

Berikut ini petikan nasihat beliau yang sungguh meneduhkan:

Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra., yaitu thoriqoh yang di saat berkuasa tidak menjajah dan tidak merasa berkuasa.

Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Hasan ra., yaitu thoriqoh yang mengalah untuk kebaikan umat Islam.

Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Husain ra., yaitu thoriqoh yang berani melawan kemungkaran hinggga tetes darah penghabisan.

Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali Zainal Abidin ra., yaitu thoriqoh yang pemaaf dan tak pendendam kepada orang yang telah membunuh keluarganya di depan mata beliau sendiri.

Thoriqoh ‘Alawiyah yang dipegang, dijaga, dilestarikan, dan diwariskan turun temurun oleh para Saadah ‘Alawi (Habaib) adalah thoriqoh yang bersambung pada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ahlul Bait (Keluarga Nabi). Thoriqoh ini bukan hanya bersambung pada Nabi melalui Keluarga Nabi melalui jalur sanad, tapi juga nasab. Thoriqoh ini adalah jalan akhlak untuk mencapai keridhoan Allah, Rasul dan Keluarganya. Jalan itu hanya diisi oleh cinta. (Baca: Menjawab Kritikan Ust Felix Siauw “Wahabi-Salafy” Tentang Dakwah Para Wali dan Habaib)

Habib Abu Bakar dalam perkataannya itu sedikit merinci thoriqoh itu dengan karakteristiknya yang diambil dari karakteristik Keluarga Nabi. Dimulai dari Sayyidina Ali ra., meneladani karakteristik beliau, thoriqoh ini tak pernah menganggap kekuasaan milik manusia, siapapun mereka. Melainkan milik Allah. Karena itu, ketika kekuasaan kita pegang, maka kekuasaan itu harus digunakan untuk menebar cinta-kasih pada manusia yang berada dalam kekuasaan kita, sebagaimana Allah yang menebar rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan menegakkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya lil Muslimin. Kekuasaan itu ‘pun dipegang dan dijalankan dengan prinsip dasar kekuasaan-Nya, yakni keadilan. Berlaku adil bahkan kepada orang yang menentang kekuasaan kita dengan cinta-kasih, bukan menindas mereka. Karena penindasan takkan pernah bisa menjadi jalan keluar. Mereka yang menentang justru dirangkul dengan lembut agar juga masuk dalam thoriqoh ini.

Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Hasan ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni meletakkan kepentingan (maslahat) umat Islam di atas kepentingan pribadi atau golongan kita. Jangan sampai hanya karena egoisme pribadi atau golongan kita, ukhuwah umat Islam terkoyak dan tergadaikan.

Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Husain ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni thoriqoh yang pantang hina: baik diri maupun agama. Siap berdiri di barisan terdepan demi harga diri Islam. Dan harga diri Islam paling utama adalah maslahat dan ukhuwah umat Islam, sebagaimana menjadi karakteristik Sayyidina Hasan ra.. Adapun mengacu pada karakteristik Sayyidina Ali ra. dan hadis Qudsi, di sini kita tak pernah takut sedikit ‘pun pada kekuasaan, selama kekuasaan itu bukan kekuasaan Allah, karena hanya kekuasaan Allah ‘lah yang sejati dan abadi. Tak peduli walau diri kita yang harus ditumbalkan, sebagaimana Sayyidina Husain ra. yang rela syahid demi tegaknya agama Allah dan tumbangnya rezim penindas. Karena itu, kita harus selalu mengingat perjuangan Sayyidina Husain ra..

Terakhir, Habib Abu Bakar melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Ali Zainal Abidin ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni kebesaran hati untuk selalu memaafkan dan tak pendendam bagi siapa saja yang telah mengoyak agama Allah atau menyakiti diri kita namun telah bertobat dan memohon maaf.

Itulah pelajaran dari nasihat Habib Abu Bakar dalam kunjungannya ke Indonesia. Umat Islam Indonesia benar-benar butuh akan nasihat itu untuk kita terapkan bersama agar ukhuwah dan cinta-kasih bersemai di tengah-tengah umat Islam.

Akhirnya, kita harus selalu berdoa agar sosok dan pikiran berbasis cinta-kasih seperti ini selalu ada di tengah-tengah kita dan merasuk ke hati serta pikiran sebagai landasan dalam keberislaman kita. Sehingga Islam menjadi agama perdamaian dan penyemai ketenangan. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: