Fokus

Isu SARA Adalah Ujian Berat Bangsa dan Negara

Kamis, 20 Oktober 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Ketika para pemuda pada masa lalu telah mengikrarkan “persatuan” dalam kebhinnekaan, yang terbayang dalam imajinasi mereka adalah sebuah bangsa dengan ragam bahasa, suku, etnis, kepercayaan dan agama yang disatukan dalam sebuah Negara Kesatuan. Komitmen itu muncul dengan dorongan tujuan yang sama tentang berdirinya sebuah Negara yang merdeka. Indonesia lahir dari kebulatan tekad para pemuda untuk menyatukan ragam perbedaan dalam tujuan yang sama. Bhinneka Tunggal Ika. Demikian komitmen ini menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Baca: HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI)

Siasat Kelompok Ekstrimis

Kebhinnekaan bangsa ini bukan tanpa cobaan. Dalam lintasan sejarah, khusus pada masa perumusan format Negara, kebhinnekaan bangsa mendapatkan ujian besar baik berupa ide maupun gerakan sektarian. Dalam beberapa peristiwa tragis, kebhinnekaan kerap mendapatkan ujian berat. Namun, sekali lagi kebulatan tekad anak bangsa tetap membuktikan komitmen untuk merawat kebhinnekaan dari pada mengedepankan egoisme pribadi dan kelompok. (Baca: Fakta Media Radikal Pro Teroris Hancurkan Islam dan NKRI)

Dewasa ini, kebhinnekaan bangsa ini kembali diuji. Arus globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi yang menyentuh berbagai lini kehidupan turut memberikan andil dalam ujian kebhinnekaan bangsa ini. Kebebasan berpendapat yang menjadi prinsip bernegara ternyata tidak disertai dengan etika publik yang baik. Kebebasan berpendapat kerap menjadi dalih dari suburnya ujaran kebencian dan hasutan (hate speech) yang mengancam kebhinnekaan bangsa.

Jika pada masa Orde Baru orang masih dihantui dengan ancaman SARA, barangkali saat ini orang tidak lagi berpikir kesekian kali untuk melecehkan orang lain atas nama perbedaan agama, bahasa, suku, dan etnik. Ujaran kebencian, hasutan, provokasi dan fitnah semakin deras dalam wadah kemajuan teknologi dan informasi bernama internet. Akhirnya, realitas sosial dan dunia maya penuh disesaki dengan propaganda, provokasi dan hasutan yang mengancam kebhinnekaan bangsa. Beberapa kelompok sudah mulai membanggakan identitas sektarian dan kelompok dengan melupakan persatuan. (Baca: “Hasutan Sektarian” Modal Media Radikal dan Wahabi)

Banyak persoalan sosial politik akhir-akhir ini yang mengarah pada kristalisasi pikiran, sikap dan tindakan sekterian yang berlawanan dengan kebhinnekaan bangsa. Kontestasi politik kerap menjadi katalisator dari proses pengembangbiakan ujaran kebencian dan hasutan. Titik persoalannya adalah saat ini masyarakat tidak lagi berbicara politik dalam konteks kebangsaan, tetapi politik kekuasaan. Apapun bisa menjadi “halal” asal kekuasaan bisa diraih sekalipun dengan menghina, melecehkan, menghujat, dan menikam yang lain. (Baca: Siasat Kelompok dan Media Radikal, Syiahkan dan Liberalkan Ulama Aswaja)

Akhirnya, kita harus mulai belajar dari sejarah bahwa kebhinnekaan adalah anugerah bangsa yang memiliki potensi dan tantangan besar. Dewasa ini, jika Indonesia bisa lolos dari ujian hate speech yang mengancam terhadap kebhinnekaan niscaya bangsa ini akan menjadi bangsa besar dalam ragam kekayaan perbedaan di berbagai aspek. Selagi regulasi tidak tegas menindak para penyebar hate speech yang mengancam kebhinekaan bangsa ini, masyarakat harus didorong untuk bisa dewasa dan cerdas dalam mengelola kebhinekaan. Masyarakat harus mampu memfilter informasi dan berita yang benar agar tidak mudah termakan hasutan dan kebencian. (Baca: ‘Mujahidin’ IDOL Ala Media Radikal: Arrahmah, Kiblat, Panji Mas, Voa-Islam)

Dalam kondisi ujian berat ini sejatinya peran pemuda sangat dibutuhkan. Penguatan peran pemuda dalam merawat kebhinnekaan merupakan keniscayaan sebagai implementasi dari Sumpah Pemuda yang telah digaungkan hampir satu abad silam. Pemuda harus kembali menjadi pelopor persatuan di tengah kondisi warga Negara yang mengalami krisis “perasaan kebersamaan”. Pemuda harus terpanggil untuk kembali menggelorakan sumpah pemuda sebagai ikrar persatuan dalam kebhinnekaan. (Baca: Komnas HAM: Negara Tak Boleh Kalah Dengan Kelompok Intoleran)

Terlalu banyak persoalan bangsa ini yang ditunggangi oleh ujaran kebencian dan hasutan. Pemuda harus belajar banyak dari beberapa Negara gagal yang disebabkan oleh konflik sekterian dan kebhinekaan yang tidak bisa dikelola dengan baik. Dalam kondisi itulah, warga Negara tidak memiliki perasaan bersama sebagai sebuah bangsa. Hate speech seberapun kecilnya adalah sumbu yang mengawali konflik besar. Mari jaga dan rawat kebhinekaan bangsa ini. #SaveIndonesia. (SFA/JalanDamai)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: