Nasional

Jokowi Presiden ‘Apa Adanya’

Sabtu, 11 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Kesederhanaan itu bernama Joko Widodo. Dia berasal dari rakyat biasa, tapi kini menjadi orang nomor satu di republik tercinta, Indonesia. Dia membalikkan keadaan negeri ini, dimana pemimpin negeri semestinya mentereng, dengan pengawalan ketat, baju mahal dan mewah ala pejabat. Jokowi, dia biasa disapa, nyaris selalu mengenakan baju putih berharga tak lebih dari Rp 150.000. Sepatu yang dia kenakan ya itu-itu saja. (Baca: HEBOH.. Benarkah Jokowi Keturunan Jaka Tarub)

Kesederhanaan itu sampai hari ini masih konsisten, alamiah, dan tak mengada-ada. Dalam sebuah perjalanan di Tidore, misalnya masyarakat Tidore dibuat kagum dengan kesederhanaan Jokowi. Dia mengenakan pakaian sederhana dan sendal jepit menuju Mesjid Kesultanan Tidore untuk shalat Jumat pada 8 Mei 2015.

Padahal, semua perlengkapan dan kebutuhan Presiden sudah disiapkan protokoler kepresidenan. Kesultanan Tidore, juga telah menyiapkan perlengkapan sholat seperti kain sarung dan baju koko dengan bahan kain halus. Namun semua perlengkapan itu tak digunakan lantaran Presiden Jokowi memilih mengenakan jubah putih yang disiapkan untuk pemberian gelar oleh Sultan Tidore.

Aminudin, warga Tidore dibuat terkagum-kagum dengan kesederhanaan Sang Presiden. Belum lagi, selama kunjungannya, Jokowi menyapa dan menyalami masyarakat Tidore. Penilaian senada disampaikan Sultan Tidore Husain Sjah. (Baca: INDONESIA ‘RAHMAT’ BAGI DUNIA)

Menurut Husain, kesederhanaan Presiden Jokowi dapat berdampak positif terhadap upaya pembentukan perilaku hidup sederhana di masyarakat Tidore. (Tempo,9/5/2015)

Cerita tentang kesederhanaan Jokowi, juga bisa disaksikan saat menjadi penengah antara Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi. Pertemuan ketiganya, menyusul kisruh antara Ahok dan anggota DPRD DKI Jakarta yang sama-sama tak mau mengalah ketika membahas kisruh APBD 2015.

Suhu politik memanas di DKI Jakarta, seakan-akan nyaris tak bisa dipadamkan. Dan, pertemuan tertutup selama 1,5 jam di Istana Negara itu ditutup Jokowi, Ahok, dan Edi di teras belakang Istana Merdeka. Duduk sembari menyeruput teh, di kursi yang sederhana, di bawah naungan pohon yang teduh Jokowi seakan memberi pesan yang dalam. (Baca: PERMAINAN JOKOWI SANG ‘RAJA HUTAN’)

Jokowi, yang mengenakan baju putih duduk santai dengan Ahok dan Edi di samping kirinya, mengundang para wartawan untuk mendengarkan konferensi pers ketiganya. Suasana berlangsung hangat, penuh kekeluargaan. Wartawan mengerubungi ketiganya. Ada yang berdiri, ada yang duduk. Siapapun tak akan menyadari bahwa pertemuan yang penuh keakraban itu baru saja membicarakan konflik politik yang mengguncang suasana harmonis pejabat di DKI Jakarta di simbol pemerintah yang paling tinggi, Istana Merdeka.

Pertemuan sederhana di teras belakang Istana Merdeka sarat dengan makna. Semua persoalan bisa diselesaikan, asal dengan kepala dingin, dan semua pihak mampu mengkomunikasikan setiap persoalan dengan baik. Lewat kesederhanaan sosok Jokowi dan kelihaiannya bernegosiasi ala budaya Jawa, kita menyaksikan sendiri ending dari kisruh APDB DKI Jakarta antara pemerintah dan anggota DPRD DKI Jakarta, selesai. Tak lagi terdengar gonjang ganjing kisruh APBD DKI Jakarta. (SFA)

Sumber: PresidenRI.go.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: