Fokus

Jonru Simbol Fitnah di Dunia Internet

1 Februari 2016

JAKARTA, SALAFYNEWS.COM – Jonru itu menarik seperti Iblis. Terbukti, ada ribuan netizen menjadi pengikut setianya. Tanpa ada yang menarik dari dirinya, takkan ada yang tergerak untuk mendekat, tentunya. Di sisi lain, pemilik nama asli Belnatal Jonriah Ukur Ginting juga paling dibenci sebagian lainnya, dan bahkan menobatkannya sebagai simbol fitnah di dunia internet.

Tampaknya ada buah dari nama depan aslinya, Belnatal, meski nama itu dihilangkan olehnya karena berpindah agama. Belnatal, sejatinya merujuk ke lonceng Natal yang memiliki pesan sakral, memiliki gema yang mampu membawa pengaruh ke jiwa, dan bisa mengajak pengikut Nasrani mengingat Tuhan. Artinya, ada pengaruh dari nama tersebut.

Tapi mungkin Jonru sendiri sudah melupakan nama itu sejak memutuskan menghapusnya. Alhasil ia pun lupa bahwa ada pesan dari nama itu, untuk membawa pengaruh yang membawa orang mengingat Tuhan yang Mahabaik. Maka itu setelah ia menghapus nama itu, dan tetap mendapatkan pengaruhnya, tapi justru pengaruh itu menjadi layaknya ular berkepala dua. Tak hanya terkesan aneh, tapi menyimpan bahaya ganda, tentunya.

Apalagi, pengaruh yang dimilikinya ini sudah kian terlihat, terutama bagi yang aktif beraktivitas yang tak lepas dari internet. Ada dua fenomena lahir dengan keberadaan sosok yang belakangan kerap disebut sebagai “seleb media sosial” tersebut. Yang paling menonjol, adanya sekelompok pengguna internet yang sangat memujanya, dan menyambar begitu saja konten yang ditayangkan di media sosial miliknya. Mereka akan setia mendukung pendapatnya, siap membela jika ada yang mendebatnya, bahkan siap mem-bully siapa saja yang dinilai “nyasar” ke fanpage dimiliki Jonru.

Saya membayangkan, andai saja para pengikutnya itu mendapatkan feedback yang tak melulu sesuatu yang bersifat sensasional dari sosok Jonru. Artinya, Jonru mengajak mereka melakukan hal-hal positif, yang tak hanya bersifat “uang dan uang”, walaupun selama ini ia memang memiliki “gerakan” yang disebutnya sebagai sedekah sesama.

Ajakan bersedekah itu baik. Bahkan dalam banyak agama pun aktivitas ini diapresiasi dengan baik. Tapi jika feedback kepada yang bersedekah itu, alih-alih pahala, tapi direcoki dengan hal-hal yang menyesatkan, tentu saja bukanlah feedback yang baik.

Ada “hipnotis” yang dilakukan Jonru dalam kasus itu. Ia mampu membangun citranya sebagai sosok yang kritis meskipun asal-asalan, tapi bisa dipastikan sedikit dari pengikutnya yang menyadari itu sikap asbunnya itu atau hanya sekadar upaya pleseten fakta yang dibungkus rapi olehnya. Mereka nyaris tidak berdaya mengkritisi ulang, ini benar-benar sikap kritis atau bukan?

Hipnotis lainnya adalah matinya kemampuan pengikut Jonru untuk mengendus, ke mana arah dari konten-konten yang ditayangkan olehnya. Alhasil, tak jarang satu konten bisa di-share puluhan ribu pengikutnya. Bayangkan saja satu pengikut memiliki kontak kira-kira 1000 orang saja, dan dari 1000 orang ini ada 70 persen tidak memiliki filter memadai atas mana fakta dan mana sekadar rumor. Efek hipnotis ini, penyesatan merambat jauh dan makin jauh, dan tak sedikit dari “korban” dari aktivitasnya ini dari kalangan remaja. Bayangkan risikonya jika “cuci otak” ala Jonru kian mendapatkan tempat!

Saya tak ingin mengatakan figur Jonru sebagai penjahat. Tapi sejujurnya, cenderung gerah dengan aktivitasnya di dunia media sosial yang tidak sehat, terlepas dia pernah mendapatkan award Internet Sehat. Sebab, efek dari aktivitasnya itu lebih tertuju kepada otak sekaligus hati jutaan pengguna internet, terutama di Indonesia.

Sebut saja, bagaimana saat ia terlihat rewel soal foto presiden di Raja Ampat, menuduh ulama seperti Quraish Shihab sebagai Syiah–yang juga mengesankan pelecehan atas ulama tersebut dan aliran itu sendiri, cerewet ketika polisi bekerja keras melawan terorisme, sampai bagaimana ia nyinyir soal KPK dengan Edhie Baskoro. Belum lagi dengan apa yang dilakukannya menjelang pemilihan presiden lalu.

Jika saja kritik yang disebarkannya benar-benar kritikan yang memang membangun, itu positif dan negara ini memang sangat membutuhkan budaya seperti itu. Persoalannya hanya ketika terjadinya pengaburan atas mana kritik dan mana fitnah, terang saja akan berbahaya. Sebab di sana akan membuka jalan ke adu domba, benturan, hingga lahir konflik yang sungguh tidak penting. [Sfa/AB/zulfikarakbar]

1 Comment

1 Comment

  1. Kang Zeer El-Watsiy

    February 24, 2016 at 9:00 pm

    mantaaaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: