Umum

Kejahatan Melonjak, Warga Sudan Selatan Kesulitan Bantuan

Bentiu, Salafynews.com – Juru bicara Kantor Komisi Hak Asasi Manusia PBB mengungkapkan keprihatinan mendalam atas melonjaknya angka kriminalitas dan  kekerasan, termasuk perkosaan dan penculikan di Negara  bagian Unity, Sudan Selatan, Senin(11/5).

Menurut  wartawan yang hadir dalam konferensi pers di Jenewa, Rupert Colville, Kantor Komisi HAM PBB telah menerima banyak laporan mengenai pembunuhan, perkosaan, penculikan dan perampokan hewan ternak serta kejahatan lainnya.

Colvile melaporkan ada ribuan penduduk yang telah melarikan diri dari rumah-rumah mereka dalam seminggu terakhir. Mereka  mencari keamanan di kamp-kamp pngungsian di Bentiu. Ia menambahkan, seorang saksi mata mengatakan bahwa bentrok terjadi antara tentara-tentara  dari Militer Kemerdekaan Rakyat Sudan dan pemberontak bersenjata negara tersebut.

Menurut informasi yang dikumpulkan oleh Misi PBB untuk Sudan Selatan, beberapa kota dan desa di wilayah Guit dan Koch terbakar habis, setelah sebelumnya terjadi pembunuhan, penculikan para pemuda sekitar umur 10 tahun, perkosaan serta penculikan wanita dan gadis-gadis muda serta pengusiran paksa para penduduknya.

Melonjaknya kekerasan telah memaksa PBB dan lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya menarik mundur staff mereka dari wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan warga korban kejahatan kesulitan mendapat bantuan.

“Melonjaknya kejahatan di Negara Kesatuan Sudan Selatan saat ini telah memaksa semua organisasi non pemerintah untuk mengungsikan staffnya dari wilayh Leer dan wilayah lainnya,” jelas Toby Lenzer, Koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan Selatan.

Kelompok-kelompok bantuan itu termasuk Komite Palang Merah Internasional dan Doctors Without Borders (Dokter Tanpa Tapal Batas), yang hari Sabtu mengumumkan telah menangguhkan operasinya di rumah sakit miliknya di Leer. Fasilitas itu dibakar dan dijarah pada bulan Januari 2014.

Koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan Selatan, Toby Lanzer, memperingatkan dalam sebuah pernyataan bahwa kekerasan itu terjadi pada saat stok pangan mulai menipis dan pada puncak musim tanam.

Dia menyerukan agar pihak-pihak yang berperang memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok bantuan untuk melanjutkan pekerjaan mereka tanpa penundaan. Sudan Selatan telah terperosok dalam konflik selama lebih dari setahun antara tentara pendukung Presiden Salva Kiir dan pemberontak yang mendukung mantan wakil presiden Riek Machar.

Perang itu menelantarkan lebih dari satu juta warga Sudan Selatan, dan mengakibatkan banyak warga bergantung pada bantuan makanan asing. Pembicaraan damai di Addis Ababa, Ethiopia sejauh ini tidak mencapai banyak kemajuan. (am)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: