Fokus

Kerajaan Saudi dan Amerikaisasi Kota Suci Umat Islam

RIYADH, Salafynews.com – MUSIBAH demi musibah dialami jemaah haji tahun ini, rata-rata disebabkan mismanajemen; dari mulai crane jatuh, jadwal jamarat yang dilanggar yang kemudian muncul tragedi Mina, dan sebagainya. Korban sudah ratusan jiwa, tetapi ini bukan perkara enak tidaknya menjadi syuhada meninggal dalam keadaan berhaji, melainkan ada sebuah pertanyaan yang secara tiba-tiba saja muncul, apakah dari semua tragedi ini Tuhan ingin menunjukan bahwa ada sesuatu yang sebetulnya tidak beres dalam persoalan haji, soal Tanah Suci Mekkah yang kini dikuasai Kerajaan Arab Saudi? (Baca juga: Makkah-Ku Malang, Wahabi dan Kapitalisme Sudah Merenggut Kesucianmu)

Selama ini, memang banyak kritik dari dunia Islam mengenai Kerajaan Arab Saudi, baik kritik politik maupun keagamaan. Dari segi politik, karena Kerajaan Arab Saudi selama ini sangat berhubungan “mesra” dengan pemerintah Washington, Amerika Serikat (AS). Dalam bidang keagamaan, karena kerajaan ini memegang erat Wahabisme yang menjadi paham resmi negara, tentu sangat berseberangan dari paham-paham keagamaan mainstream di dunia Islam yang umumnya adalah ahli sunnah waljamaah (Aswaja).

Wahabisme memang baru lahir pada abad ke 17 M, tetapi Nabi Muhammad saw mengetahui perihal akan kemunculannya, dalam salah satu hadis, misalnya berbunyi: “Kelak akan ada kaum yang hafal Alquran, namun saat membaca tak sampai dikerongkongannya, hafal hadis namun tak mengikuti sunahnya, mereka keluar dari Islam laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Seandainya aku hidup pada masa itu, aku akan memeranginya, kaum itu akan datang dari arah Nejd…” (Baca juga: Rumah Tempat Kelahiran Rasulullah Dipenuhi Coretan Dan Tak Terawat di Makkah)

Ayah dan semua saudara Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabi) adalah dari keluarga Aswaja, yakni penganut kukuh Mazhab Imam Ibn Hambal. Bahkan ayahnya adalah seorang ulama besar Mazhab Hambali. Suatu ketika ayah dan saudaranya sendiri menasihati Muhammad bin Abdul Wahhab supaya kembali pada ajaran Aswaja.

Ka’bah dikelilingi Hotel-hotel Mewah Amerika

Karena perilaku ajarannya sudah jauh menyimpang, yakni sering mengafirkan ulama-ulama Islam terdahulu, sementara jika kata “kafir” sudah terlontar dari mulut, ada dua kemungkinan siapa yang sebenarnya kafir, si pelontarnya atau orang yang dikafirkan itu. Sementara ulama-ulama Islam di masa lalu jelas tidak kafir, sebaliknya adalah orang-orang suci dan mulia.

Jika ada pertanyaan perlukah monarki di Tanah Suci? Yang jelas adanya eksistensi negara dan pemimpin mutlak harus ada. Semestinya Arab Saudi menjadi negara dengan sistem politik modern jika konsisten melanjutkan piagam madinahnya Nabi Muhammad. Dan semestinya paham keagamaan negaranya adalah Aswaja karena Nabi sendiri berpesan dalam sebuah hadisnya: “Kuunu ma’al jamaah (ay ahl sunnah wa al Jamaah) wa in sadda sadda finnar” (Kita harus berpegang dalam Aswaja, jika sendiri-sendiri akan masuk neraka).

Meski demikian, sejarah padang pasir dari dulu dikuasai suku-suku besar, seperti di zaman Nabi sendiri yang berkuasa adalah Quraish (suku terbesar dan berkuasa kala itu). Sejak peristiwa fath makkah, teori siapa suku terkuat dialah penguasa terputus, hingga muncul the lion of nejd Abdul Aziz dari Nejd yang kemudian mendirikan Kerajaan Saudi pada dekade 1930-an.

Abdul Aziz menguasai Mekah-Madinah tak lama setelah kekuasaan Turki Usmani ambruk, saat itu menjadi jantungnya kekhalifahan Islam terakhir karena kalah dalam Perang Dunia I. Abdul Aziz kemudian merangkul AS dan sekutunya hingga saat ini untuk mengokohkan kekuasaannya.

Sebagai konsekuensi dari paham Wahabisme ini, misalnya, pemerintah Arab Saudi sangat membatasi jemaah haji yang ingin mengunjungi tempat-tempat suci (dalam bahasa Indonesia: keramat), karena hal itu dilarang dalam paham Wahabisme. Lagi pula telah banyak situs-situs bersejarah Islam awal telah diporak-porandakan pemerintah Saudi.

Sebab itu jangan mengharap untuk menemukan tanda-tanda pegawai dari pemerintah yang bertugas menunjukkan jalan menuju tempat keramat seperti rumah baginda Nabi Muhammad dilahirkan, misalnya, ketika umat Islam beribadah haji. Jika jemaah haji ingin menemukannya, ia harus bertanya-tanya atas inisiatif sendiri.

Atau misalnya ingin mengunjungi Gua Hira, tempat bersejarah di mana dahulu Nabi Muhammad terluput dari pembunuhan karena dikejar-kejar orang kafir Quraish. Maka jemaah haji hanya mengikuti jemaah lain yang sudah tahu jalan ke Gua Hira. Atau seperti pengakuan Farid Esack dalam karyanya On Being a Moslem (2009), kita cukup mengikuti kaleng-kaleng Pepsi yang berserakan di sepanjang jalan terjal hingga sampai ke mulut gua.

Pengalaman haji seseorang sering menemukan pertanda bahwa “bisnis kapitalisme” sebenarnya telah lama berkembang di Tanah Suci. Seperti juga penelitian antropolog Martin van Bruinessen yang menyebut bahwa Kota Mekah bak Manhattan di pusat Kota New York. Yang megah dengan singgasana hotel, mal, dan apartemen mengelilingi Masjidil Haram. Bisnis kapitalisme sudah berjalan berkelindan dengan penguasa pengelola tempat-tempat suci.

Contoh lain simbol kapitalisme di Tanah Suci ialah bangunan bernama Abraj al Bait; ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Garasinya bisa menampung 1.000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter, karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki kendaraan terbang.

Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai Rp7 juta. Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan uang berlimpah bisa memandang ke bawah, mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kakbah.

Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap, dengan 21 ribu lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih. Betapa berubahnya Mekah. Bahkan menurut Irfan al-Alawi, seorang direktur Islamic Heritage Research Foundation di London, menyebutnya “It is the end of Mekkah“.

Transformasi Mekah dibangun oleh kekuatan kapitalisme membuat sebuah kota seperti Manhattan, sebuah kota dengan belantara bangunan menjulang. Wahabisme adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211—1294) yang diukir di makam Nabi sebagai hymne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, istri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum. Na’udzubillahimin dzalik. (SFA/MM/Lampost.co)

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Kerajaan Saudi dan Amerik aisasi Kota Suci Umat Islam | bantuShare.com

  2. Pingback: Prof Sumanto Al Qurtuby: Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: