Nasional

Kerusuhan Tolikara Wamena Papua Gara-gara Speaker Masjid

Salafynews.com, JAKARTA – Bentrokan bermula ketika sebuah masjid dilempari dan dibakar. Saat masjid itu diserang, warga yang sedang menjalankan shalat langsung berhamburan keluar. Enam rumah dan sebelas kios yang berada sekitar masjid itu juga diserang. Baca Kronologi Kerusuhan Saat Sholat Ied di wamena, Tolikara Papua

Foto-foto Kios dan Masjid yang terbakar @Arrahmhanews

Wakil Presiden Kalla mengatakan informasi yang diperolehnya menyebutkan bentrokan itu dipicu masalah speaker alias pelantang yang diributkan dua komunitas yang tengah menggelar acara yang berdekatan dan bersamaan. ”Ada dua acara di tempat yang berdekatan di situ. Memang asal-muasalnya kejadian soal speaker itu,” kata Kalla. Dia menilai perlu ada komunikasi yang lebih baik di antara dua kelompok masyarakat itu agar kerusuhan tidak meluas.

Sedangkan di tempat lain Kapolri Badrodin Haiti mengungkapkan bahwa Insiden ini dipicu dari perbedaan pendapat yang berujung terbakarnya sebuah masjid di Tolariko Papua membuat Kapolri Badrodin Haiti mengerahkan personilnya di Papua untuk segera menuntaskan kasus ini. Menurut dia, Wakapolda Papua langsung turun ke lokasi kejadian.

“Wakapolda langsung saya perintahkan ke sana. Saya berharap ini tidak berkembang,” ujar Badrodin saat usai mengunjungi rumah Senior PDIP, Megawati, Jumat (17/7).

Badrodin mengatakan, ia memberikan amanat kepada semua tokoh agama di sana untuk berkumpul dan membahas persoalan tersebut. Jangan sampai kesalah pahaman membuat perpecahan antar warga.

Badrodin sudah mengetahui inti persoalan terkait hal ini. Ia mengatakan, hal ini dipicu dari anggapan jemaat nasrani yang merasa terganggu dengan speaker masjid yang akan melakukan shalat ied.

Umat Nasrani mengklaim suara speaker yang dipasang di tengah lapangan menggangu ketenangan umum. Mereka meminta umat muslim untuk membubarkan kegiatan shalat ied tersebut. Hal itu berujung pada perang mulut antara kedua kubu. Kelompok nasrani kemudian melempari masjid dengan api hingga kebakar. (SFA/MM/Tempo/Rol)

8 Comments

8 Comments

  1. Pingback: Kasus Kerusuhan Wamena, GIDI Penganut Kristen Radikal | Arrahmah News

  2. Sepatu Converse

    July 18, 2015 at 2:34 pm

    Ini ujian umat islam di seluruh dunia, apakah tangan kita bisa sampai ke tanah Papua untuk berjabat tangan

  3. Yoppy Soleman

    July 19, 2015 at 12:14 pm

    Karena hanya sebagian kecil saja dari lebih 1 milyar penganut Kristen di dunia ini maka orang-orang tidak seharusnya menggeneralisir tuduhan. Tetapi memang benar bahwa tindakan pelarangan GIDI kepada umat Islam untuk tidak melaksanakan shalat IED pada 17 Juli 2015 adalah tindakan yang salah, sebab bertentangan dengan hak asasi manusia dan juga bertentangan dengan nilai-nilai fundamental Kekristenan. Tindakan dari beberapa orang yang memicu kekerasan di Tolikara ini bertentangan dengan Kekristenan. Itu adalah emosi manusia semata, bukan nilai-nilai Kristen. Apabila suara speaker musholla terlalu keras sehingga mengganggu kegiatan umat lain disana maka hal itu seharusnya dikomunikasikan secara baik-baik.

  4. Agus Pambudi

    July 20, 2015 at 8:26 pm

    Masa Anda percaya gara-gara speaker masjid, jangan naif ikut latah memberitakan sesuatu yang absurd…nggak ada tuh gara2 perempuan, speaker atau mabuk dll. Itu dah direncanakan. Spt sampang, anda percaya gara2 harem, gara maulid? Ya nggak lah sampang dah direncanakan. Nggak ada yg tiba2

  5. dadang rogawa

    July 21, 2015 at 10:05 pm

    ah paling2 anteknya orang amerika yang bikin ulah

  6. joe

    July 22, 2015 at 12:46 am

    ini bukan sesuatu yang tiba-2 muncul, kondisi ini sudah lama terjadi. yaitu dominasi kelompok agama tertentu (GIDI) di tolikora (baca beberapa sumber di surat kabar), hanya saja insidennya yang baru terjadi. seharusnya pemerintah sudah melihat ini sejak lama sebagai potensi terjadinya konflik. atau memang pemerintah dan aparat sengaja membiarkan ini? karena rasanya amat sangat super bodoh kalau tidak tahu kejadian ini bakal terjadi. Biasanya konflik agama selalu terjadi akibat “oknum”, yaitu mereka yang merasa/ingin menegakkan agama tapi salah kaprah memahami itu sendiri. Tapi yang terjadi di tolikora ini berbeda, jelas2 ini pelanggaran ham “berat”, setahu saya diindonesia tindakan pelarangan menjalankan agama itu terjadi pertama dilakukan oleh PKI dan yang kedua oleh GIDI sekarang ini, pakai surat resmi lagi. walaupun katanya telah di revisi, tapi isi kepala orang GIDI sudah jelas terlihat di isi surat itu.

  7. dizal

    August 2, 2015 at 1:19 pm

    Faham gama apapun yg mengarah pada permusuhan, merasa yg paling benar, tidak siap menerima perbedaan sebaiknya ditinggalkan. kadang ada cara2 penyelenggaraan tradisi yg sebenarnya bukan pokok dari ritual, seperti penggunaan pengeras suara yg berlebihan, kadang dianggap sebagai hal yg prinsip

  8. Muhammad inal

    November 6, 2015 at 6:50 pm

    Di aceh mayoritas muslim, umat nasrani di sana hidupnya senang banget…???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: