Internasional

Khawatir Turki Merapat ke Rusia, AS akan Ekstradisi Gulen?

Sabtu, 13 Agustus 2016,

SALAFYNEWS.COM, ANKARA – Menteri Luar Negeri Turki Jawish Ihsanoglu, pada hari Jumat, mengumumkan bahwa delegasi dari Departemen Kehakiman AS akan mengunjungi Turki pada tanggal 23 dan 24 Agustus, untuk membicarakan ekstradisi ulama dan oposisi Turki Fethullah Gulen, yang dituduh mendalangi kudeta di Turki pada bulan Juli lalu. (Baca: Turki-Rusia Sepakati Hotline Militer Untuk Hindari ‘Insiden’ yang Tak Diinginkan)

Kantor berita Russia Today mengutip pernyataan Ihsanoglu pada media Turki, menyatakan bahwa “Amerika Serikat mulai mengirim sinyal positif atas permintaan Turki untuk ekstradisi Gulen”.

Dia juga menambahkan bahwa “proses pengiriman Fethullah Gulen masih berlangsung, dan saat ini kami sedang bekerja mempersiapkan file sehubungan dengan keterlibatan Gulen dengan upaya kudeta gagal”.

Sementara itu, Menteri Kehakiman Turki Bozdag Bakr mengatakan bahwa “pemerintah Turki sedang menyelesaikan segala aspek yang legal secara rutin dan benar, serta tindakan hukum terkait langkah-langkah resmi, sementara keputusan yang akan diambil oleh Amerika Serikat mengenai penyerahan Gulen akan menjadi keputusan politik”. (Baca: Denny Siregar dan Rahasia Pertemuan Putin-Erdogan)

Tentu sikap AS yang akan mengirim Departemen Kehakiman untuk membahas ekstradisi Fethullah Gulen dengan pemerintah Turki, bukan tanpa alasan dan kepentingan. Keputusan ini terkait dengan pertemuan Erdogan dan putin baru-baru ini, dan sejumlah kesepakatan yang dicapai oleh dua kepala negara, yang fokus pada pemulihan hubungan politik dan ekonomi Rusia-Turki, serta mencari solusi atas krisis Suriah.

Tentu ini, mimpi buruk bagi Barat khususnya Amerika Serikat dan NATO. Turki yang merupakan anggota NATO terang-terangan bergerak ke arah timur, menunjukkan ia memiliki kepentingan bersama dengan Rusia. Bagi Barat dan NATO, hal ini akan menambah tekanan geopolitik, demikian disampaikan kolumnis surat kabar Swedia Svenska Dagbladet Jonas Gummesson. (Baca: Kunjungan Erdogan Ke Rusia Temui Putin Tamparan Keras Kepada Pemujanya)

Pemulihan hubungan Turki dengan Rusia yang “agresif” dapat merusak persatuan NATO dan membatasi kemampuan pertahanan aliansi untuk memperketat keamanan mereka, mengganggu keamanan kawasan Baltik dan negara nonblok Swedia, dan hal tersebut tentu membuat NATO khawatir. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: