Editorial

Kisah Pelajar Indonesia Setelah Melihat Film Muhammad Rasulullah

TEHRAN, Salafynews.com – Film Muhammad Rasulullah karya Majid Majidi yang menuai kontroversila dan kecaman dari ulama wahabi, ternyata membuat pelajar satu ini penasaran untuk melihatnya dan membuktikan tuduhan-tuduhan ulama itu. Rasa penasarannya pun akhirnya mengantarkannya ke ruang bioskop untuk menyaksikan langsung film itu, bukan sekadar katanya dan katanya.

Begini ceritanya…

Sejak diumumkan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Tehran pada Rabu 26 Agustus, keinginan untuk menikmati film termahal Iran dan dibuat selama 7 tahun semakin membuncah. Apalagi informasinya, sutradara Majid Majidi dibantu para sineas kelas dunia untuk mewujudkan film ini.

Tiba-tiba diumumkan bahwa penayangan perdananya diundur sehari di hari Kamis (27/8). Alasannya mempersiapkan sound sistem semua bioskop yang ada di Tehran sesuai dengan kualitas film. Awalnya saya pikir terlalu mengada-ada (Ternyata tidak setelah menyaksikan langsung). Tapi akhirnya jadi ditayangkan pada hari Kamis.

Menyaksikan wawancara Moustapha Akkad, sutradara Suriah yang membuat film pertama tentang Nabi Muhammad Saw “The Message” mengomentari film Majid Majidi di televisi Iran juga menarik. Menurutnya, apa yang dilakukannya dulu sebagai langkah awal dan harus ada yang berani membuat film tentang Nabi Muhammad Saw yang lebih baik lagi. (Setelah menyaksikan langsung film besutan Majid Majidi, ternyata Akkad benar. Iya harus ada yang lebih berani, bahkan dari Majid Majidi).

Hari penayangan pertama film ini berlalu dan komentar tentang film ini baik di televisi, koran dan situs-situs Iran memang luar biasa. Sekalipun belum membaca review atau kesan mereka yang menyaksikan secara subyektif usai menonton film ini, tapi kualitas Majid Majidi, dana besar untuk pembuatan film ini dan lamanya membuat saya percaya.

Para sineas Iran punya catatan mengkilap dalam membuat film-film kolosal bertemakan agama. Apalagi ini film tentang manusia sempurna yang menjadi panutan semua manusia di dunia.

Namun masih ada pertanyaan yang mengganjal. Film Muhammad Rasulullah Saw sejatinya akan dirilis dalam bentuk trilogi dan bagian pertama ini berbicara mengenai masa kecil dan remaja beliau. Tapi dalam setiap pernyataannya, Majid Majidi selalu menekankan film ini untuk menunjukkan sisi rahmat dari kepribadiannya dan mengenalkan Islam kepada Barat.

Saya lalu menduga-duga, “Tampaknya sisi kanak-kanak Nabi Muhammad Saw tidak akan mendapat porsi besar.” Maksud saya adalah kita akan disuguhi hal-hal klise, dimana sosok kecil Nabi Muhammad Saw ditunjukkan dengan perilaku orang dewasa. Tapi pertanyaan itu saya simpan sampai menyaksikan langsung. (Saya merasa dugaan itu tidak sepenuhnya salah, dan itu lebih tampak setelah menyaksikan film ini).

Pembuatan_Film_Muhammad_Rasulullah_SawMendapatkan tiket untuk penayangan hari pertama film Muhammad Rasulullah Saw tampaknya mustahil. Di televisi juga diumumkan bahwa tiket untuk penayangan hari pertama telah ludes, bahkan untuk beberapa hari setelahnya. Namun harapan muncul ketika anak-anak mendapat jatah tiket dari organisasinya. Saya berharap ada tiket lebih sehingga kami berempat dapat menyaksikan langsung, tapi tiket mereka juga terbatas dan hanya untuk mereka. Kembali ada sedikit putus asa, apakah bisa menyaksikan film ini langsung di bioskop Iran atau tidak.

Ternyata harapan itu masih ada. Penjualan tiket secara online ternyata sangat membantu. Saya sendiri tidak melakukannya. Pemesanan tiket dilakukan oleh anak kedua dan langkah-langkahnya ternyata sangat sederhana. Setelah selesai mengikuti langkah-langkah yang ada, akhirnya dua tiket terbeli untuk jam 20.00. Kode pemesanan diberikan dan disebutkan agar 20 menit sebelum penayangan film pemesan sudah harus ada di lokasi.

Kami tiba di Mall Koroush agak terlambat. Sinema Koroush terletak di lantai 3. Ini pengalaman pertama membeli tiket online. Lalu apa yang harus dilakukan dengannya? Ternyata ada petunjuk untuk menuju tempat untuk menukar kode pemesanan dengan tiket. Menarik. Kami harus antri untuk mendapatkan tiket. Tidak berapa lagi tiba giliran dan ternyata prosesnya juga sangat mudah. Cukup memasukkan kode dan enter. Tiket keluar dan kami langsung menuju gedung bioskop yang tertulis Lalehzar.

Ada yang Aneh

Penonton langsung masuk. Di dalamnya ada petugas yang menunjuki nomor tempat duduk. Dia tidak meminta setiap orang yang masuk untuk menunjukkan tiket. Sepertinya tugasnya hanya membantu penonton menemukan kursinya. Artinya, bila ada yang nyelonong masuk tidak bakal ketahuan.

Saya tidak tahu apakah 14 bioskop yang berada di lantai 3, 4, 5 dan 6 dengan 2800 tempat duduk menerapkan hal yang sama. Tapi cara seperti itu membuat kami agak lebih nyaman.

Setiap ruang pertunjukan diberi nama. Sedikit membingungkan untuk menemukannya. Sekalipun di tiket tertulis lantai berapa dan nama ruangnya. Tapi tidak ada penunjuk besar yang bisa dirujuk.

Ternyata di depan ruang pertunjukan ada sedikit penjelasan mengapa diberi nama Lalehzar, misalnya.

Kami akhirnya menemukan tempat duduk. Ada 10 baris tempat duduk. Kami mendapat tempat duduk di baris 7, nomor 4 dan 5. Film telah dimulai. Ini yang paling disayangkan. Namun belum terlalu lama.

Narator: Abu Thalib Paman Nabi Saw

Film dibuka dalam kondisi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya berada di Syi’b Abi Thalib. Tempat dimana mereka diblokade oleh Quraisy. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad Saw bertemu dengan para pembesar Quraisy lainnya yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Mereka mengancam tidak akan menunggu sampai mereka yang berada di Syi’b Abi Thalib, tapi akan menyerang dan membunuh mereka. Tapi Abu Thalib masih menjadi penghalang. Karena itu berarti memerangi Bani Hasyim.

Abu Thalib kembali ke Syi’b Abu Thalib dan di pertengahan jalan yang menanjak ia sejenak berhenti dan menatap bangunan paling tinggi yang ditempati Rasulullah Saw. Perlahan-lahan ingatannya kembali di awal-awal ketika Aminah, ibu Rasulullah Saw sedang hamil dan pasukan Abrahah hendak menyerang Mekah dan menghancurkan Ka’bah.

Film mengalir lewat penuturan Abu Thalib. Boleh dikata, film Muhammad Rasulullah Saw menurut versi Abu Thalib.

Menurut saya pemilihan sejarah Nabi Muhammad Saw dalam film ini lewat penuturan Abu Thalib adalah cara paling cerdas yang dilakukan Majid Majidi. Apa yang dilakukannya mengakhiri pembahasan berabad-abad tentang apakah Abu Thalib meninggal dalam kondisi memeluk Islam atau tidak.

Sampai saat ini, saya tidak menemukan ada yang mengritik film ini terkait keislaman Abu Thalib. Padahal sejak awal film hingga akhirnya, secara tidak langsung, berbicara mengenai keyakinan Abu Thalib terhadap keponakan yang menjadi Nabi-nya.

Menurut saya, film Muhammad Rasulullah Saw selain menggambarkan masa kecil Nabi Muhammad Saw, memberikan porsi besar kepada Abu Thalib untuk mendemonstrasikan keimanannya. Film ini tidak lagi sembunyi-sembunyi menggambarkan keimanannya. Hal yang tidak ditemukan dalam sejarah Islam klasik.

Lokasi

Kontroversi_Film_Muhammad_RasulullahLokasi pembuatan film Muhammad Rasulullah Saw terletak di dekat jalan tol Tehran-Qom. Namanya Shahrak Sinamai Nour. Kota ini terbagi dua; Mekah dan Madinah. Di lokasi ini dibangun dua model Ka’bah; kecil yang dibangun dari tumpukan batu-batu besar dan kain-kain yang digantung dengan tulisan sejak masa Jahiliah. Ka’bah sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw. Sementara yang satunya lagi besar, pasca kelahiran beliau.

Di lokasi ini dibangun 60 rumah, tapi hanya 7 rumah atau tempat yang diambil gambar hingga ke dalam bangunan. Lokasi ini dibangun selama 10 bulan. Kekuatan bangunan ini diprediksi bertahan hingga 15 tahun. Saat ini sudah ada beberapa sineas dari negara-negara Arab yang ingin menyewanya untuk pembuatan film.

Terlepas dari informasi ini, apa yang digambarkan oleh Majid Majidi dalam film ini luar biasa. Mekah yang gersang tampak indah. Tidak menakutkan bagi kita yang tidak terbiasa menyaksikan gurun pasir.

Pencahayaan

Wow, pertama kali menyaksikan Ka’bah kecil di masa Abdul Muthalib ketika Abrahah hendak menyerang Ka’bah. Cahaya yang ditembakkan ke arah Ka’bah membuat hati tergetar. Apa lagi ketika Abdul Muthalib menyaksikan burung-burung Ababil yang berputar mengelilingi Ka’bah sebelum menyerang tentara Abrahah.

Mengapa Ka’bah yang saya buat contoh. Hal ini kembali pada dialog Raja Abrahah dengan Abdul Muthalib. “Apa sih yang membuah manusia pergi menziarahi dan berkumpul mengelilingi Ka’bah?”, tanya Raja Abrahah.
Abdul Muthalib menjawab, “Batu.”

Nah, Ka’bah ini disorot khusus dengan pencahayaan luar biasa, dan jangan lupa musik!

Banyak lokasi yang ditampilkan dengan pencahayaan luar biasa. Majid Majidi benar-benar memanjakan mata penonton. Mekah yang gersang menjadi hidup. Apalagi ketika sampai ke Madinah yang waktu itu disebut Yatsrib!

Anda harus menyaksikan sendiri…

Walau demikian, saya punya sedikit catatan kecil. Saat pertemuan para pembesar Quraisy di Dar an-Nadwah yang dipimpin oleh Abu Sufyan, saya melihat pencahayaan kurang halus. Ruangan yang gelap diterangi oleh beberapa lampu kecil di atas meja, tapi cahaya yang dipancarkan dari bawah meja terlalu terang. Ini saja yang membuat saya agak terganggu.

Suara dan Musik

Ini dia. Saya baru sadar mengapa penayangan serempak film ini dimundurkan sehari untuk menyesuaikan standar sound sistem.

Suara dan musik film Muhammad Rasulullah sungguh sangat MEGAH. Dalam banyak adegan, musik film mampu menggetarkan dada dan tanpa terasa air mata menetes.

Sebegitu hebatnya?

Iya. Saya harus katakan Majid Majidi berhasil menciptakan atmosfir musik yang luar biasa. Apalagi dengan petikan-petikan sitar mengajak penonton ke alam padang pasir Mekah masa itu.

Saya ingin berlama-lama menorehkan informasi lainnya, tapi mulai terasa lelah menulis. Itu berarti sudah terlalu panjang. Sekarang waktunya untuk sedikit melihat Muhammad Rasulullah Saw sebagai sebuah film.

Muhammad Rasulullah Saw

Film ini merupakan penuturan Abu Thalib mengenai sejarah Nabi Muhammad Saw. Ancaman perang yang disampaikan para pembesar Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan membuat Abu Thalib mengenang kembali peristiwa sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Dimulai dengan rencana serbuan tentara Abrahah yang telah berada di dekat Mekah.

Film_Muhammad_RasulullahWarga Mekah ketakutan. Semua ingin meninggalkan kota. Aminah, ibu Nabi Saw bersikeras untuk tinggal, sekalipun diajak Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib. Sementara Abdul Muthalib di dalam Ka’bah. Ia didatangi Abu Thalib mengabarkan apa yang sedang terjadi dan bagaimana unta dan penggembalanya disandera oleh tentara Abrahah.

Seperti yang dicatat sejarah, ia menemui Raja Abrahah dan terjadilah dialog di antara keduanya. (Adegan Raja Abrahah memakai pakaian perangnya saat ditemui Abdul Muthalib mengingatkan film Last Samurai ketika para samurai memakai pakaian perangnya, sekalian dengan musiknya)

Abdul Muthalib berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Burung Ababil menyerang tentara Abrahah. Semua berakhir.

Aminah melahirkan manusia suci. Semua menyaksikan cahaya. Begitu juga seorang rabi Yahudi. Abdul Muthalib juga. Beliau diberi tahu akan kelahiran cucunya. Keesokan harinya, ia memperkenalkan cucunya dan memberinya nama Muhammad!

Aminah tidak dapat menyusui anaknya, budak perempuan milik istri Abu Lahab yang dipanggil menyusui Muhammad. Tapi kemudian dilarang oleh istrinya yang tidak punya anak.

Sejak awal dalam film ini, keculasan Abu Lahab digambarkan dengan baik. Ia merasa tersisihkan oleh ayahnya dan menganggap ayahnya tidak setuju ia menikahi istrinya yang berasal dari Bani Umayyah. Tapi jawaban Abdul Muthalib di luar dugaannya. Bukannya engkau menikahinya untuk memutuskan hubungan kekeluargaan Bani Hasyim. Dan semua ini tampak ketika istrinya melarang budaknya menyusui Muhammad!

Muhammad kecil akhirnya ditemukan dengan Halimah yang menjadi ibu susuannya. Ketika Muhammad akan dibawa ke desa untuk disusui, perpisahan antara ibu dan anak termasuk adegan favorit saya. Indah ditambah musik yang menusuk hati.

Abdul Muthalib terpaksa menjelaskan mengapa Halimah tidak bisa tinggal dengannya. Dan mengapa ia tidak bisa mengikuti mereka.

Di desa Halimah, Muhammad tumbuh sehat. Ia ikut bekerja bersama anak-anak Halimah. Digambarkan Muhammad kecil memasukkan gandum ke karung.

Di film ini ada beberapa adegan dimana Muhammad kecil digambarkan seperti anak-anak kebanyakan. Pertama di desa Halimah. Kedua saat ikut berlari-lari dengan anak-anak di Madinah di atas atap rumah. Ketiga, memetik buah saat panen di Madinah. Selain itu, Muhammad kecil berlaku dewasa.

Padahal saya berharap sekali Majid Majidi keluar dari sejarah klasik tentang Nabi Muhammad Saw ketika masih kecil. Sikap normatif ulama kita mengenai beliau membuat kita tidak mengenal “Muhammad kecil”. Yang ada adalah Muhammad yang telah menjadi Nabi dengan badan anak kecil.

Ketika berbicara tentang Nabi Muhammad Saw sebagai teladan terbaik dan pamungkas, saya berharap ada teladan ketika beliau kecil. Mengapa ketika dalam sejarah dan hadis disebutkan beliau sering bertemu anak-anak Madinah yang sedang bermain dan menyapa mereka, bahkan dalam sejumlah kasus beliau ikut bermain, mengapa tidak pernah ada catatan sejarah beliau ketika masih kecil juga bermain?

Saya berharap di film ini ada permainan tradisional anak-anak Mekah masa itu. Muhammad kecil juga sedang bermain. Namun yang lebih sering ditampilkan kontemplasi… kontemplasi … kontemplasi.

Lalu saya yang pernah kecil, anak saya atau anak-anak kecil lainnya bagaimana bisa mencontoh beliau?

Kontemplasi?

Ah, Majid Majidi membuat Muhammad kecil hanya ada dalam “dongeng”.

Ada yang protes mengapa Muhammad kecil terlihat badannya, kecuali wajahnya. (Majid Majidi cerdas untuk tidak terjebak dalam bentuk pencitraan CAHAYA buat diri atau wajah Muhammad kecil. Tanpa keduanya, Majid Majidi mampu menggambarkan Muhammad kecil dengan baik. Ia melakukannya dengan mengambil gambar dari samping, belakang atau gelap)
Saya justru berharap semua ditampilkan apa adanya. Namun dengan mengambil gambar dari samping dan belakang, saya pikir Majid Majidi berusaha mengambil jalan tengah. Selalu jalan tengah adalah yang terbaik.
Karena menurut saya masa kecil beliau tidak termasuk masa kenabian yang difatwakan secara normatif oleh ulama tentang penggambaran beliau. Apalagi bagi mereka yang menganggap Nabi Muhammad Saw bisa melakukan kesalahan.

Jadi, penggambaran beliau ketika masih kecil dan remaja atau sebelum diangkat menjadi Nabi dilakukan dengan yang seperti saya sebutkan. Sementara setelah menjadi Nabi, beliau ketika keluar dari rumahnya pasca pembatalan blokade tiga tahun di Syi’b Abi Thalib, Majid Majidi menggambarkan beliau dengan cahaya seluruh badan. Hanya pada ketika pembaitan warga Mekah untuk masuk Islam yang dilakukan dengan mencelupkan tangan ke dalam air, tangan terakhir yang terlihat hingga pergelangan tangan adalah tangan Nabi Muhammad Saw.

Intrik yang terjadi di film ini bisa dibagi menjadi tiga bagian:

1. Keluarga. Antara Abu Lahab dengan saudara-saudaranya.
2. Klan. Bani Hasyim dan Bani Umayyah
3. Agama. Rahib Yahudi yang ingin membunuh Nabi Muhammad Saw.

Intrik ketiga menurut saya sengaja ditekankan oleh Majid Majidi. Dimulai dari pembacaan tanda-tanda kenabian hingga upaya mencari sang Nabi.

Ketika Halimah membawa Muhammad kecil ke Mekah, Abdul Muthalib mencium ada konspirasi Yahudi untuk membunuh Muhammad kecil. Akhirnya, kegembiraan di wajah Aminah kembali menjadi kesedihan ketika harus berpisah kembali dengan anaknya.

Ada dialog menarik antara Aminah dan Abdul Muthalib. Ketika Aminah mengatakan bahwa betapa ia begitu mencintai Muhammad, Abdul Muthalib menjawab:

“Cinta menuntut ketabahan.”

Konspirasi ini tidak berhenti. Yahudi mengetahui Muhammad kecil bersama Halimah dan berusaha menculiknya. Tidak mampu menjaganya, suami Halimah membawa Muhammad kecil kembali ke Mekah, tapi oleh Abdul Muthalib, beliau disembunyikan di gua Hira.

Tidak bisa juga, akhirnya diputuskan Muhammad diungsikan ke Yatsrib. Muhammad kecil benar-benar menikmati kehidupannya di Madinah yang lebih ramah, subur dan indah. Terlebih lagi, beliau bisa menziarahi kuburan ayahnya yang tak pernah dilihatnya.

Sampai saat ini juga saya belum mendapatkan informasi dari sebagian orang yang memrotes film ini terkait ziarah kubur. Karena ada dialog indah antara Aminah dan Muhammad kecil saat tidur-tiduran di samping kuburan Abdullah. Masa-masa indah Muhammad kecil lebih banyak di Madinah.

Namun si Yahudi berhasil mengejar hingga ke Madinah. Mengetahui itu, rombongan hendak kembali ke Madinah. Tapi sesuai sejarah, ketika berada di Abwa, Aminah ibu Muhammad kecil sakit dan meninggal dunia di sana.

Abu Thalib bermimpi dan ditakbirkan oleh ayahnya untuk segera berangkat melindungi Muhammad kecil. Terjadi pertempuran dengan pasukan Yahudi dan mereka berhasil menghalau musuh.

Abdul Muthalib yang sudah semakin tua mengajak Muhammad kecil thawaf. Namun untuk membedakan thawafnya dengan orang-orang Musyrik, beliau menjelaskan terlebih dahulu. Abdul Muthalib ingin menjelaskan perbuatan boleh sama, tapi yang membedakannya adalah niat.

Abdul Muthalib wafat dan Abu Thalib yang mengasuh Muhammad kecil. Suatu hari beliau diajak berdagang untuk pertama kalinya menuju Syam. Bertemu dengan pendeta Buharia yang menjelaskan akan tanda-tanda kenabian. Ia mengusulkan kepada Abu Thalib untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke Mekah. Ia juga mengusulkan agar ia dan rombongan kecilnya tidak bareng dengan rombongan besar agar selamat.

Film ini memang dibuat dengan pesan khusus kepada Barat untuk lebih mengenal Islam. Itulah mengapa porsi dialog para rahib Yahudi sangat besar, sementara agama Kristen dicukupkan dengan pendeta Buhaira yang murah senyum.

Si Yahudi yang berniat membunuh Muhammad kecil ternyata dikhianati dan ia terluka. Ditemukan oleh rombongan Abu Thalib. Di sini sebuah fragmen sejarah lain yang jarang kita baca dalam buku sejarah.

Mereka sampai dekat pantai dan menemukan kaum penyembah berhala miskin. Mereka mengorbankan ibu dengan dua anaknya. Tapi Muhammad kecil membebaskan mereka. Masyarakat marah dan ingin menyerang beliau. Mukjizat muncul. Laut bergolak. Ombak semakin tinggi menghajar pantai. Semua ketakutan. Warga berpikiran berhala mereka marah. Tapi ternyata ombak melemparkan ikan ke darat dan mereka gembira.

Ketika warga tengah memungut ikan, Abu Thalib menatap keponakannya yang tengah berdiri di tebing dekat laut sambil menunjukkan senyuman misterius. Senyum akan keyakinannya. Keyakinan kepada keponakannya. Setelah pendeta Buharia menjelaskan seluruh tanda-tanda kenabian itu.

Film diakhiri dengan bacaan al-Quran yang dilantunkan Nabi Muhammad Saw di hadapan warga Mekah yang ingin memeluk Islam. Dan setelah itu ditunjukkan dengan simbol bait dengan mencelupkan tangan ke dalam air.

Catatan Terakhir

Beriman kepada kenabian Muhammad Saw sama banyak bentuknya dengan beriman kepada Allah Saw. Ada yang beriman kepada beliau dengan membaca sejarah. Ada yang membaca al-Quran, hadis dan lain-lain. Beri kesempatan bagi orang lain untuk mengimani beliau lewat media film.

Film yang dibuat dengan usaha luar biasa, menyita energi selama 7 tahun dan dengan biaya yang sedemikian besar patut diapresiasi, sekalipun memang tidak ada karya manusia yang sempurna.

Sisi sejarah dari film ini terkadang sangat mengganggu menikmati film ini. Kadang kita harus mengerutkan kening mengingat sejarah yang pernah dibaca untuk menebak siapa tokoh ini. Padahal bila dibiarkan mengalir begitu saja, betapa indahnya film ini, terlepas dari kandungan sejarahnya. Gambar yang luar biasa diselingi musik yang memukau dengan sendirinya membuat kita larut dalam film ini. Dampaknya adalah getaran di dalam dada. Terkadang membuncah keluar berupa tetesan air mata yang mengalir tanpa dapat ditahan.

Sesekali cobalah beriman dengan rasa, dan untuk 171 menit istirahatkan sel-sel abu-abu Anda untuk menikmati lebih dalam film ini.

Jangan lupa menyiapkan tisu…

Wassalam

Saleh Lapadi

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Film Muhammad Messenger of God Angkat Kembali Citra Islam yang Terdistorsi | Arrahmah News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: