Fokus

KPK, PKS dan Wanita Cantik 18+

PKS, Salafynews.com – Lucius Annaeus Seneca filsuf Spanyol yang hidup di era Nabi Isa pernah berujar kepada muridnya tentang kedekatan agama dengan politik, sebagaimana yang dia saksikan dari runtuhnya kerajaan Yudaisme di Yerussalem oleh kekaisaran Romawi.

PKS_Dan_Wanita“Agama dipandang sebagai kebenaran oleh orang biasa.” Semua muridnya mengangguk membenarkan.
“Agama dipandang sebagai kepalsuan oleh orang orang bijak.” Muridnya mengangguk dan sepakat.
“Agama sangat berguna bagi kekuasaan.” Kali ini muridnya terperanjat heran?

Bagaimana mungkin agama bisa berguna bagi kekuasaan? Bukankah selama ini pikir mereka kekaisaran Romawi berdiri kokoh karena sekularitas setidaknya nilai nilai politik yang nonetif. Dan bagaimana mereka berhasil mengakhiri era keemasan kerajaan para Nabi di Timur Tengah dengan membubarkan kerajaan Israel dan memperbudak rakyatnya.

Agama melemahkan negara, pikir murid-muridnya, karena kekuasaan raja harus berbagi dengan kekuasaan para imam agama yang menjadi wakil Tuhan di dunia. Rakyat boleh jadi takut dengan senjata pengawal kerajaan, tapi mereka sama takutnya dengan kutukan dari imam yang mengaku menjadi wakil Tuhan.

Karena tidak diperlukan dua macan dalam satu gunung, maka dari itulah Romawi akan menghabisi setiap keyakinan yang unitas pada Tuhan yang satu.  Setidaknya dengan banyak sembahan, dengan politheisme, agama akan sibuk saling tarik pengaruh dari satu penganut ke penganut lain, tidak tertarik dengan kekuasaan.

PKS_Dan_Wanita_18+Namun ucapan Seneca benar benar terbukti justru melihat adanya gejala imersi antara agama dengan kekuasaan di kemudian hari. Yakni saat para penguasa dan para imam berkomplot, bersama sama memanipulasi keshalihan rakyatnya untuk tujuan dari kekuasaan. Bahkan bila perlu sang raja mengangkat dirinya Imam agama. Atau sang Imam agama menjadikan dirinya raja. Kekuasaan lantas menjadi absolut. Dan tidak ada satu kelas demokrasi pun yang mampu menandingi efektifitasnya.

Namun, politik itu kotor, bicara tentang kepentingan untuk menguasai dengan cara apapun. Tidak ada ruang vacum dalam politik, yang bahkan aturan main ditentukan oleh pemenangnya. Sementara agama itu suci, milik semua orang, bahkan milik mereka yang menghargainya pun yang tidak sepakat dengannya untuk tujuan kebajikan melalui jalan jalan yang suci dan baik.

Dan ketika keduanya disatukan, akan muncul entitas hybrid pada akhirnya yang menjadi bahan tertawaan bersama, karena akan memunculkan kemunafikan. Mencoba mengejar akhirat, dengan jalan yang kotor. Dan hal itu tidak bisa dibenarkan oleh kitab moral manapun dari yang klasik hingga novum.

PKS Mestinya Terdepan Berantas Korupsi

Dus di Indonesia ini kejadian yang diperkirakan Seneca pun muncul, dan kali ini menjadi headline besar baik dari media, maupun dalam pergunjingan linimasa sosial media.

PKS_Partai_Korupsi_SapiPartai Keadilan Sejahtera (PKS) vs Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Keduanya mewakili tipikal entitas politik yang semestinya sejenis, sejalan, seirama, dan merangkul khalayak yang sama. Bukan karena KPK nya sama dengan PKS tapi PKS lah yang mengidentikan falsafah mereka untuk sejalan dengan KPK, walau KPK lahir belakangan namun sudah ada endapan janin filosofisnya pada bangsa ini barangkali sejak ribuan tahun lampau.

Falsafah KPK yang tidak lain tidak bulan jangan korupsi. Baik itu dalam bentuk korup pada timbangan atau pencurian. Maupun dari tindakan yang melawan UU, yang dikategorikan oleh agama sebagai pelanggaran akad, pengkhianatan pada kepercayaan.

Ketika PKS menjadikan Islam sebagai asasnya, maka serta merta mereka yang berada dalam bendera Islam, harus paling depan mengabarkan bahwa korupsi itu haram, uang uang suap itu haram, pelanggaran kontrak dan UU itu haram, Oleh karena itulah dalam tindakan pencegahan korupsi serta pemberantasan, partai ini seharusnya menjadi partai yang paling vokal menyuarakan upaya anti korupsi.

Ditambah kenyataan besar, bahwa Islam itu milik bersama, yang sekiranya PKS tidak hanya bertanggungjawab pada konstituen pemilihnya dalam urusan kegagalan mereka menampilkan wajah Islam yang perangi korupsi, melainkan juga pada ummat Islam di seluruh dunia. Dengan gagalnya PKS mencegah korupsi dan bahkan malah menyeret anggotanya, maka PKS wajib bertanggungjawab pada muslim di seluruh dunia, baik yang hidup di Antartika atau yang sedang mengorbit di angkasa.

Lalu mengapa PKS gagal melakukan hal yang “gampang” tersebut? Toh untuk urusan harta konstituennya tidak tampak sebagai jamaah yang rakus akan uang? Dan terkadang mereka bahkan sanggup menyumbang uang hingga ke negeri Timur jauh Palestina, dan sanggup urunan uang dalam bentuk gerakan galibu?

PKS dan Wanita 18+

Dari sinilah kita mulai. Dari titik inilah referensi Seneca berlaku bahwa masih ada oknum oknum yang merasa bahwa kekuasaan adalah tujuan bukan pengabdian. Dan oleh karena itulah mereka dingin dingin saja menggunakan agama sebagai alat untuk memperoleh tujuan tersebut. Dengan jalan mengeruk suara keshalihan dan kepatuhan ummat beragama, mereka menginjak kepala ummat beragama yang shalih itu untuk mencapai tujuannya.

PKS_Dan_Model_SeksiKetika tujuan tercapai. Kekuasaan oknum oknum ini mencapai titik absolut, di mana mereka mustahil dijatuhkan lagi. Bagaimana bisa Anda menjatuhkan sosok yang memiliki pengaruh hebat baik jabatan yang dilindungi oleh aparatusnya, ditambah memiliki pengaruh pada para umat agama yang fanatik memandang sosok “wakil Tuhan”?

Sehingga yang terjadi selanjutnya, warga negara hanya bisa berdoa, semoga dari kekuasaan absolut dari oknum yang menjadikan agama sebagai kendaraan tersebut, nasib mereka lebih diperhatikan.

Namun ada yang dilupakan di sini. Mereka tergelincir memang bukan karena harta, ataupun tahta, melainkan wanita.

Tragedi Lutfi Hasan Ishaq (LHI), Ketua Umum atau presiden PKS sebelumnya yang masuk bui 18 tahun karena kasus suap daging sapi impor, entah bagaimana caranya melibatkan wanita. Setidaknya ada deretan wanita muda terlibat dalam kasus tersebut, dan kesemuanya cantik cantik, dari Maharani, Vitalia Syesya, hingga Darin Mumtazah.

PKS_Dan_Wanita_SeksiKeterlibatan wanita itu terekspos satu demi satu dalam pemeriksaan KPK. Yang dalam istilahnya “digoreng goreng” baiklah memang terlihat ada kesan digoreng hingga matang oleh penyidik, namun mengapa bahan utama gorengan itu yang keluar nama wanita? Dan terbukti pula menelurkan vonis yang menjadi fakta hukum, 18 tahun penjara?

Lalu, dalam kasus terbaru adalah keterlibatan Gubernur Sumatera Utara asal PKS pada kasus suap PTUN berkaitan dengan Dana Bansos yang melibatkan juga istri mudanya, seorang wanita cantik bernama Evi Susanti. Jika dalam kasus LHI para wanita sekedar pemanis pers, menjadi media penyaluran uang. Kali ini wanita dalam kasus PTUN-Bansos, menjadi pemain utama.

Epilog, kasus yang melibatkan Gatot dari PKS ini tengah berjalan, dan gaungnya akan mewarnai kisah Pilkada yang diikuti PKS, apakah ada goreng menggoreng lain dari KPK seiring dengan padatnya jadwal Pilkada, yang membuat PKS semakin lemah, kita tidak bisa memastikan hal tersebut.

Namun, dalam hal ini KPK sedang menjalankan tugasnya, jika ingin membuat KPK kurang kerjaan, maka selaiknya para pemangku jabatan jangan nyasar masuk ke jalan korupsi, walau itu baru sekedar sinyal masuk, terlebih mereka yang berasal dari partai agama.

Dan khususnya PKS. Barangkali mereka takkan goyah karena uang, takkan khilaf karena tahta, namun sudah dua kali tergelincir karena wanita. Waspadalah! [SFA]

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Akhirnya Gubernur Sumut Kader PKS Gatot Pujo Ditahan KPK Malam Ini | Arrahmah News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: