Eropa

Lavrov: Tanpa Assad Tak Akan Ada Solusi Damai di Suriah

20 November 2015.

SALAFYNEWS.COM, MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad mewakili kepentingan sebagian besar masyarakat Suriah, dan tidak mungkin untuk menemukan solusi damai tanpanya. Menurut kantor berita Arabic.rt (19/11). (Baca HEBOH..Putin Ungkap 40 Negara Danai ISIS di KTT G20 dan Cibir NATO di Suriah)

Sergei Lavrov menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio “Voice of Rusia” yang disiarkan, Kamis (19/11) bahwa beberapa sekutu Rusia dari negara-negara Barat dan beberapa negara lainnya meneriakkan harapan mereka agar Basjar Assad cepat jatuh hanya tersisa “beberapa hari” saja mereka menyatakan itu, akan tetapi kenyataannya bahwa empat tahun Assad masih berdiri dan memangku jabatannya sejak krisis Suriah.

Ia melanjutkan “namun harapan selesainya pemberontakan rakyat dan tergulingnya Assad tidak terwujud,  itu artinya Bashar Assad dapat mewakili kepentingan sebagian besar masyarakat Suriah, oleh karena itu tidak mungkin solusi damai tercapai tanpa Assad.” (Baca Senator AS; Obama Salah Besar Jika Paksa Usir Bashar Assad)

Lavrov menegaskan bahwa negara-negara Barat menyadari kesalahan akan pernyataan mereka sebelumnya, dan menyatakan bahwa semua masalah Suriah akan selesai secara otomatis dengan kepergian Assad.

Dia menjelaskan bahwa Rusia mulai merasakan perubahan sikap Barat terkait krisis Suriah sejak pidato yang disampaikan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ketika ia mengajukan sebuah pertanyaan “Apakah Anda menyadari apa yang Anda lakukan?”. (Baca Konflik Suriah Tak Akan Selesai jika Uni Eropa Remehkan Bashar Assad)

Lavrov menambahkan bahwa Rusia mulai mendapatkan jawaban dari pertanyaan ini, dimana negaranya melihat adanya perubahan sikap Barat yang mulai antusias, yang dengannya menjadikan Barat merespon untuk segera berinisiatif melakukan negosiasi yang luas dengan berbagai pihak terkait krisis di Suriah .

Sehubungan dengan keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Francois Hollande untuk mulai berkoordinasi bersama di Suriah, Lavrov mengatakan bahwa politisi yang bijak menyadari kebutuhan untuk mengesampingkan masalah sekunder dan kembali fokus pada masalah ISIS.

Lavrov mengatakan bahwa Amerika menolak untuk bekerjasama dengan Rusia dalam memerangi terorisme di Suriah, dan tidak setuju kecuali hanya pada perjanjian yang penting dan terbatas guna menghindari insiden yang tidak diinginkan di Suriah antara antara jet-jet tempur dari kedua negara tersebut, Amerika membuka kemungkinan untuk berkoordinasi bersama-sama dalam masalah militer dengan satu syarat Assad harus pergi. Dia menambahkan: “Mereka (Amerika Serikat) menyebut Assad sebagai magnet yang menarik para teroris, akan tetapi jika kita mengikuti logika ini maka kita akan menyimpulkan bahwa Assad bukan sebagai magnet bagi terorisme, karena sekarang kita melihat Lebanon, Turki, Perancis dan Mesir juga mulai dihantui teror oleh ISIS.” (Baca Analis; Rusia Tidak Akan Mentolerir Penggulingan Bashar Assad)

Dia mengingatkan bahwa Perancis dan Turki selalu mengambil sikap yang kepada Assad, namun hal itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari serangan teroris. Dia mengatakan: ISIS selalu berusaha untuk mencapai tujuannya sendiri dalam rangka membangun apa yang disebut “Khilafah“, tanpa menghubungkan tujuan itu dengan apapun yang terjadi dari perkembangan di Suriah, dan tanpa memperhitungkan sikap negara-negara lain terkait Bashar Assad”. (SFA/MM)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Jurnalis Mesir: Kenapa Arab Mau Negoisasi Dengan Israel Tapi Tak Mau dengan Assad | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: