Eropa

Mantan Anggota Sebut ISIS Tak Ada Kaitan Dengan Islam

Salafynews.com, BERLIN – Seorang mantan anggota ISIS mengungkap penentangannya terhadap kriminalitas sadis yang dilakukan para milisi ekstrem di Suriah, dengan mengatakan bahwa paham terorisme tidak memiliki kesamaan apapun dengan agama Islam yang suci.

Ebrahim B

Ebrahim B

Dalam wawancara gabungan dan disiarkan oleh NDR dan WDR Jerman, serta surat kabar Süddeutsche Zeitung, mantan aggota ISIS, Ebrahim B, yang kini berada dalam tahanan Jerman sepulang dari Suriah itu mengungkapkan pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya sewaktu masih menjadi anggota ISIS.

Ebrahim adalah warga Tunisia yang berimigrasi ke Jerman bersama keluarganya pada tahun 1970an. Mantan anggota ISIS itu mengatakan bahwa ia dan temannya yang bernama Ayoub B, telah meninggalkan Jerman di tahun 2014 untuk bergabung dengan teroris di Suriah. Mereka berdua pertama-tama sampai di Turki sebelum kemudian menyeberangi perbatasan menuju Suriah dengan bantuan seorang agen ISIS.

Sewaktu di perbatasan, mereka diberi tahu bahwa tentara Turki terlibat penyelundupan teroris ini. Tentara-tentara itu akan pura-pura menembak tapi hanya tembakan ke udara saja.

Ebrahim menceritakan, begitu dua sahabat itu sampai di Suriah, teroris ISIS segera menawarkan sebuah rumah kepada mereka, namun juga mengambil ponsel dan passport kedua warga Jerman tersebut sehingga mereka tidak mungkin melarikan diri.

 Menurut Ebrahim, begitu sampai di markas ISIS, mereka segera diberi pilihan sulit,

“Anda harus segera memilih, jika tidak menjadi seorang pembom bunuh diri, ya harus jadi pejuang. Dalam kata lain, pilihannya ketika anda pergi kesana adalah, anda mau mati atau mati.”

Jaksa Jerman mendakwa Ebrahim telah dengan sengaja menyetujui untuk menjadi seorang pembom bunuh diri, ia sebenarnya ditugaskan melaksanakan bom bunuh diri dalam serangan Baghdad waktu itu, namun kemudian rencana itu digagalkan oleh otoritas Irak.

“Dunia harus tahu yang sebenarnya,” ungkap Ebrahim, menekankan pernyataannya bahwa “ISIS  sama sekali tak ada kaitannya dengan Islam, penjara di Jerman adalah lebih baik daripada ‘kebebasan’ di Suriah.”

Pelatihan ISIS

Lebih lanjut Ebrahim menjelaskan bahwa para ekstremis ISIS itu juga menggunakan taktik menakut-nakuti untuk membuat anggota-anggotanya bertahan. Ebrahim menggambarkan bagaimana komandan kelompok teror itu pernah memenggal seorang rekan sesama milisi ISIS  atas tuduhan spionase.

“Mereka membawa mayatnya ke kamar kami, dan meletakkan kepalanya di atas tubuh, untuk menakut-nakuti kami, agar kami menurut(pada kemauan mereka),” tuturnya.

Para teroris itu juga merayu Ebrahim dan Ayoub untuk mau tetap tinggal di Suriah dengan iming-iming janji mobil mewah dan para wanita.

Beberapa bulan kemudian Ebrahim berhasil kembali ke Jerman setelah menemani seorang milisi yang terluka untuk dirawat di Turki. Ia kemudian ditahan pada bulan November 2014 atas dakwaan melakukan teror. Ayoub rekannya juga kemudian ditahan otoritas Jerman.

Diperkirakan ada sekitar 700 warga Jerman diyakini bergabung dengan teroris takfiri ISIS di Suriah. (SFA/LM/PTV/TheTelegraph.co.uk)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: