Analisis

Media Internasional Bungkam Kejahatan Perang Israel Terhadap Pemuda Gaza

Salafynews.com, GAZA Di sepuluh hari pertama bulan Juni, 17 remaja laki-laki menjadi korban penculikan di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat. Yang termuda berusia 13 tahun dan yang tertua berusia 17 tahun. Beberapa diseret dari rumah-rumah dan keluarga mereka dibawah ancaman senjata di tengah malam, sebagian lagi ditangkap di tengah jalan di siang bolong.

Pemuda Palestina

Pemuda Palestina

Semua penculikan itu nyata dan didokumentasikan oleh Palestiniam Monitoring Group (Kelompok Pengawas Palestina). Tapi tidak satupun diberitakan oleh media Internasional. Tak satupun Politisi Barat menyeru pembebasan para remaja ini.

12 Juni,  tiga remaja tiba-tiba menghilang di Tepi Barat.  Namun kali ini, hilangnya mereka seketika memenuhi halaman media-media di seluruh dunia, jeritan mengenai terorisme membahana, tuntutan pembebasan diserukan Sekretaris Negara AS dan Menlu Inggris. Kenapa? Karena tiga remaja yang hilang itu adalah warga Israel, sedangkan 17 remaja yang diculik itu adalah warga Palestina.

Dan jika saja kasus tentara Israel Gilad Shalit yang diambil oleh pasukan Palestina di Gaza pada tahun 2006 dan dilepaskan pada tahun 2011 memiliki indikasi, maka Kepentingan Barat terhadap kasus tiga warga Israel ini tidak akan kendur sampai mereka ditemukan.

Lubang Hitam

Kebalikan dari kasus tiga remaja Israel, kasus tujuh belas anak laki-laki Palestina yang diculik dengan semena-mena oleh tentara Israel akan hilang ke dalam lubang hitam yang bisu. Sama seperti kasus yang menimpa semua anak-anak Palestina lain yang diculik  hampir setiap hari oleh pasukan pendudukan.

Beberapa akan ditahan selama beberapa hari, minggu, atau bahkan beberapa bulan dan tahun,  dipukuli, diinterogasi, kemudian dilepas.  Beberapa lainnya, semuda apapun akan mendapati dirinya diharuskan melalui tahap tahap pengadilan militer Israel dan dipenjarakan, sering hanya berdasar kepada pengakuan yang dipaksakan.

Menurut Kelompok HAM Addameer, saat ini, ada sekitar 200 anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Kesemua anak-anak ini harus menjalani masa-masa penderitaan dikurung di tahanan-tahanan khusus. Mereka semua beresiko mengalami kekerasan fisik dan penyiksaan.

Jika penderitaan para remaja adalah sesuatu yang perlu untuk diangkat ke media, maka 17 remaja Palestina yang diculik Israel pada awal Mei lalu lebih layak diungkap dan ditulis oleh para journalis yang sama yang kini begitu bersemangat memberi tahu dunia tentang menghilangnya tiga warga Israel itu.

Jika anak-anak dan remaja Israel yang menghilang di Tepi Barat sebagai akibat pendudukan, harus diberitakan, tak perduli itu adalah remaja Palestina atau Israel,  pada kenyataannya, media-media Barat selalu hanya memberitakan seolah-olah penderitaan Israel  mengalahkan penderitaan warga Palestina di wilayah pendudukan.

Sejak menghilangnya tiga remaja Israel minggu lalu, kota Hebron Palestina dikepung tentara Israel. Lebih dari 1000 tentara Israel mendobrak rumah warga dari pintu ke pintu di kota itu dan juga di  kamp-kamp pengungsian disepanjang Tepi Barat. Tentara-tentara itu menggeledah dan mencari di setiap rumah penduduk. 200 warga Palestina ditahan, remaja Palestina berusia 20 tahun ditembak mati, dan  pemerintah Israel mengancam pemindahan paksa beberapa warga Palestina di Tepi Barat ke Gaza untuk mendukung Hamas.

Sampai setinggi ini kendali Israel atas hidup warga Palestina. namun kendali kejam ini terlihat seperti sangat diterima dan sangat diabaikan oleh media-media Barat yang hampir-hampir tidak mengeluarkan komentar apapun terhadap aksi-aksi illegal Israel lebih dari lima hari yang lalu itu. Satu-satunya fokus media adalah tiga warga Israel yang hilang. Hanya sangat sedikit wartawan yang memberi perhatian terhadap  begitu banyak hukuman terhadap ribuan warga Palestina oleh negara yang menyatakan dirinya demokratis itu.

Seperti Tak Ada Ibu Di Palestina

Kasus telanjang ini digambarkan begitu berbeda oleh media-media Barat bagi warga Palestina dan Israel. Sikap penggambaran berbeda ini dicontohkan oleh BBC.

Buletin-buletin berita BBC secara terus-menerus melakukan update terhadap hilangnya warga Israel itu dan mendramatisir dengan cerita-cerita online. Di salah satu artikel onlinenya, BBC membuat satu headline dengan judul “Israel Tuduh Hamas atas penculikan remaja-remaja yang hilang”, dalam headline itu, diperlihatkan ibu salah satu remaja yang diculik menghiba, bersedih menginginkan anaknya kembali dalam keadaan selamat. Penonton BBC dibuat agar perduli akan keadaan remaja itu dan dua rekannya, namun disat yang sama dibiarkan tetap tidak tahu apa-apa mengenai penculikan terus-menerus yang dialami remaja Palestina.

Laporan BBC juga menghalangi penontonnya dari pemberitaan mengenai pemuda dan anak-anak Palestina yang dibunuh tentara Israel.

Tak ada laporan BBC mengenai pembunuhan Yussef Sharwamreh, 14 tahun, yang ditembak dari belakang sewaktu sedang mengumpulkan onak di bulan Maret lalu, atau Saji Darwish, 18 tahun, yang ditembak di kepala saat sedang menggembalakan kambing di bulan yang sama. Pembunuhan Ali al-Awwarin yang berusia 7 tahun saat rudal Israel menyerang Gaza minggu lalu juga tidak masuk pemberitaan. Tak ada rekaman video tentang wawancara dengan ibu-ibu dari Yussef, Saji ataupun Ali yang berduka karena kehilangan putra-putra mereka selamanya.

Merespon pertanyaan Kampanye Solidaritas Palestina tentang tak diberitakannya pembunuhan tentara Israel terhadap anak-anak Palestina, pihak BBC menjawab enteng, “Tidak ada mandat untuk memberitakan semua pembunuhan.” Apakah editor BBC akan melakukan hal yang sama jika  seorang bocah Israel berusia 7 tahun, atau remajanya yang berusia 14 tahun dibunuh oleh seorang Palestina?

 

Jubah Kebungkaman Media

Beberapa hari terakhir media hanya menyoroti kerangka yang sangat sempit, bukan hanya mengenai  pelaporan BBC pada pendudukan, tapi ini juga berlaku bagi  mainstream media Barat secara keseluruhan.

Menurut Addameer, lebih dari 5000 warga Palestina saat ini ditahan di penjara Israel, dimana penyiksaan atas mereka telah didokumentasikan oleh banyak organisasi termasuk Amnesti Internasional. Sekitar 200 ditahan tanpa dakwaan atau bahkan tanpa percobaan melakukan kejahatan apapun. mereka ditahan tanpa batas waktu dibawah sistem yang disebut penahanan administratif. Lebih dari 200 tahanan berada dalam kelaparan sejak April lalu sebagai protes atas penahanan administratif Israel. Dan BBC baru memberitakan hal ini setelah mogok makan itu berlangsung dua bulan.

Jubah kebungkaman media ini juga diberlakukan terhadap penghancuran rumah-rumah (15.000 rumah warga Palestina dihancurkan sejak 1993), penghancuran seluruh komunitas, dengan dibuldozernya desa-desa Palestina di Tepi Barat hingga hari ini,  pembunuhan anak-anak Palestina (1.405 anak dibunuh Israel semenjak tahun 2000), penolakan penyediaan air bersih untuk minum, mencuci, dan memasak untuk warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Jubah kebungkaman media yang memiliki  efek luar biasa sesungguhnya adalah kebungkaman media terhadap  blokade di Gaza yang membuat terhindarkannya warga Palestina dari segala sesuatu termasuk obat-obatan dan  listrik.

Daftar kejahatan Israel masih panjang dan sangat panjang. Berapa banyak konsumen dari kantor berita-kantor berita utama Barat tahu akan hal ini? Berapa banyak yang tahu bahwa tembok Apartheid Israel di Tepi Barat mempunyai tinggi dua kali lipat dan panjang empat kali lipat dari tembok Berlin yang semua orang di Barat diajarkan untuk membenci hal itu? Berapa banyak yang tahu bahwa warga Palestina harus merasakan negaranya disita semenjak tahun 1948, saat Israel didirikan di atas tanah curian itu?  Berapa banyak yang tahu  total jumlah ketidak adilan ataupun tidak adanya perbaikan yang diterima warga Palestina semenjak itu seiring dengan terus berlangsungnya pendudukan militer yang brutal?

Jumlah konsumen yang tahu sangatlah sedikit. Sesedikit pemberitaan media-media utama  Barat memberitakan tentang kejahatan Israel, membiarkan para konsumennya dalam kegelapan. Kurangnya informasi yang mereka dapatkan akan membuat kurangnya pemahaman  mengenai pendudukan Israel dan dampak buruknya terhadap setiap aspek dalam kehidupan warga Palestina.

Inilah jenis penonton yang ingin dibuat oleh wartawan media-media utama Barat. Dengan jenis pelaporan selektif yang telah kita saksikan minggu ini, penonton yang tidak tahu apa-apa dan hanya dapat membawa kerugian yang amat besar bagi Palestina dan mendukung kepentingan Israel. (SFA/LM/electronicintifada)

Ditulis oleh Ameena Salem seorang aktifis dan wartawan yang bekerja dalam Kampanye Solidaritas Palestina di Inggris.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: