Fokus

Menjawab Kritikan Ust Felix Siauw “Wahabi-Salafy” Tentang Dakwah Para Wali dan Habaib

“Bahaya Wahabi & Puritanisasi Ust Felix Siauw”, Islam nasionalis Dakwah para Wali dan Habaib

Salafynews.com – “Menjawab Tulisan Ust Felix Siauw bahwa memahami Islam cukup dengan Alquran dan hadis, sedangkan adat tradisi dan budaya itu tidak ada patokannya dan abstrak. Bahwa penamaan “Islam Nusantara ditunggangi oleh kaum liberal, arabisasi di Indonesia adalah suatu hal yang wajar karena Alquran berbahasa Arab, Nabi Muhammad SAW juga kaum Arab”. Dahulu Para Walisongo

Berikut jawaban dari tulisan Ust Felix Siauw yang memandang cukup memahami agama hanya dengan Alquran dan hadits, menurut KH Aqil Sirad menjelaskan pemahaman Ust Felix Siauwterhadap ilmu pengetahuan, khususnya agama, tidak hanya bersumber dari al-Quran dan hadits seperti yang digembar-gemborkan beberapa kelompok dengan slogan “kembali kepada al-Qur’an dan hadits”. “Mustahil dapat memahami Islam hanya dengan Quran-Hadits. Diperlukan ijma’ dan qiyas untuk menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya karena dalam al-Qur’an dan hadits ada hal-hal yang perlu untuk ditafsirkan,” terangnya. Agil Siradj: Mustahil Memahami Islam Hanya dengan Qur’an-Hadits

Agama sebagai sesuatu yang sakral, datang dari tuhan, turun dari langit, kepada manusia yang parsial, lemah, terbatas, terikat ruang dan waktu. Maka, agama harus sesuai dengan kondisi manusia, bukan kondisi Tuhan. Agama untuk manusia, dan karena itu harus sesuai dengan tantangan yang dihadapi manusia. Jadi ust Felix Siauw harus memahami bahwa Islam adalah agama Universal.

Islam Bukan Budaya ArabKini kerap muncul di kalangan Muslim pandangan ”antibudaya”. Mereka meneriakkan puritanisme dan hendak melenyapkan segala bentuk budaya. Radikalisme agama dan terorisme juga muncul akibat penolakan budaya. Inilah fakta bersemayamnya sikap ”kebutaan budaya”. Sejauh yang dapat dipetakan ”kebutaan budaya” justru terjadi dalam wilayah dasarnya, yakni berada pada dimensi psikologis-mental, sehingga aktualitas berbudaya kebanyakan orang Islam yang justru banyak merugikan perkembangan kebudayaan Islam.

Bila Islam sungguh-sungguh sebagai agama yang diturunkan untuk kemaslahatan seluruh semesta alam beserta isinya, sudah saatnya batas-batas formal-struktural yang kaku dihindari. Maka, harus dihapus kesan bahwa ketika peradaban dan kebudayaan maju, justru agama (Islam) menghambatnya. Tugas agama (Islam) semestinya memicu kemajuan dan seraya membimbingnya.

Kita tak sekedar menghibur diri dan berapologi, dengan mengatakan bahwa kontribusi Islam dalam peradaban dunia sangatlah besar. Tetapi, kita sudah semestinya membuktikan bahwa agama Islam memicu peradaban sekaligus membela kepentingannya.

Dengan demikian, kita tidak akan menjalankan strategi kebudayaan yang keliru. Dalam konteks historis kenegaraan di negeri kita, misalnya, kalau kita menganggap kemerdekaan bangsa sangat diwarnai atau ditentukan oleh kontribusi umat Islam, maka tidak perlu menciptakan distansi antara negara dan negara secara frontal. Dalam arti lain, Islam tidak bertugas hanya memerdekakan bangsa dalam arti formal, tetapi juga harus bersama-sama mengolah kehidupan selanjutnya.

Sampai disini, sudah seharusnya segera dihindari klaim sosiologis yang menyesatkan. Slogan seperti ”Islam untuk Islam” tidak selalu tepat. Bahkan, dalam fase peradaban seperti sekarang bisa merugikan secara strategis ataupun subtantif karena misi Islam tidak pernah menganjurkan singularitas.

Sejarah-Masuknya-Islam-di-IndonesiaDalam konteks ini, dakwah Islam bukan semata ”Islamisasi” dalam arti semua menjadi Islam, melainkan menjadi ”Islami”. Kearifan antroposentris jadi pertimbangan. Ust Felix mau membawa opini masyarakat bahwa adat istiadat dan budaya yang tidak ada penjelasan dalam Alquran dan hadis itu bid’ah, dan tidak Islami, itu bahasa pengkaburan yang dibuat oleh para wahabi dan pengikut puritanisme “Memurnikan agama”, hal itu tentu sangat berbahaya sekali, bahkan bias menghilangkan rasa nasionalisme di ubah jadi rasa “arabisasi” yang menurutnya Islami.
Selain itu juga pentingnya menjelaskan tentang nasionalisme dalam kehidupan, terutama di tengah suasana konflik di negeri-negeri Muslim di Timur Tengah. Para ulama Arab belum sanggup menyatukan nasionalisme warga di negaranya yang mayoritas beragama Islam.
Ini berbeda dari Indonesia. Ulama Indonesia, mengajarkan nasionalisme yang dapat memberikan kesejukan kepada umat sehingga jikapun ada konflik dapat diredam dan tidak meluas menjadi konflik nasional. “Islam dan nasionalisme saling memperkuat, bicara tanah air dulu baru bicara agama,” tegasnya.
Kita Lihat betapa indahnya ajaran Islam yang masuk ke nusantara ini dan di kawal oleh para wali-wali yang notabene adalah keturunan Rasulullah Saw.

Para wali yang berasal dari arab-persia tidak memaksakan budaya arab untuk diserap oleh masyarakat. Yang mereka bawa adalah ajaran dan ahlak, sehingga mereka begitu diterima dan dicintai. Para wali tidak meng-kafirkan masyarakat dengan budayanya, bahkan mereka masuk melalui budaya masyarakat. Maka kita melihat keragaman budaya yang kental bernafaskan Islam mulai dari sastra, kesenian, arsitektur, shalawatan, macapat sampai wayang.

Proses-masuknya-Islam-ke-IndonesiaApa yang dilakukan para wali, para empu, para anjengan, para tuan guru dengan penuh cinta terhadap kelangsungan budaya setempat inilah yang menjadikan Islam menyebar dengan cepat, Islam yang unik yang mempunyai akar tradisi yang kuat percampuran arab dan melayu. Cepatnya pertumbuhan Islam nusantara inilah yang menjadikan Verenigde Oost Indische Compagnie atau disingkat VOC mewaspadainya dan pada akhirnya mengimpor budaya keras arab ke nusantara dan “disuntikkan” ke ulama-ulama dan raja-raja binaan mereka dan membenturkannya. Maka kita membaca banyak sejarah tentang pembantaian umat Islam oleh “umat Islam” sendiri.

Hebatnya, kita masih bertahan sampai sekarang. Bisa dibilang ketahanan kebhinekaan nusantara kita, bukanlah hal yang bisa kita serap dengan logika berfikir yang normal. Seperti ada “tangan-tangan” yang menjaganya. Tangan-tangan inilah yang terwujudkan dalam organisasi Islam besar Nahdlathul Ulama atau NU.
Perhatikan cara mereka dalam menjaga ikatan toleransi di negeri ini. Sungguh menakjubkan. Siapapun anda yang masih bisa hidup dan makan di negeri ini, wajib berterima-kasih kepada mereka. Tanpa kuatnya dan kentalnya budaya Islam yang mereka jaga dari Aceh sampai Papua, mungkin negara kita ini sudah bukan lagi negara kesatuan, tapi bisa jadi federasi.

Contoh nyata dakwah para ulama di sebagian tempat di Nusantara, Syekh Malaya. Ia mengenalkan nilai agama secara inklusif, tanpa menghilangkan adat-istiadat/kesenian daerah, menciptakan baju Taqwa (lalu disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar nyamping dan keris serta rangkaian lainnya), menciptakan tembang Dandanggula, menciptakan lagu Lir Ilir yang sampai saat ini masih akrab dikalangan sebagian besar orang Jawa, pencipta seni ukir bermotif daun-daunan, memerintahkan sang murid bernama Sunan Bayat untuk membuat bedug di masjid guna mengerjakan shalat jama’ah, menciptakan ritual berupa Gerebeg Maulud yang asalnya dari tabligh/pengajian akbar yang diselenggarakan para Wali di masjid Demak untuk memperingati maulud Nabi. Peran Dakwah Damai Habaib Di Nusantara

Jadi ketika NU kemudian berupaya keras mengembalikan perwujudan Islam nusantara ini ke akarnya dari gempuran budaya impor arabisasi dengan jargon khilafah, kembali kita harus berterima-kasih kepada walisongo. Ini masa-masa sulit bagi mereka, karena merekapun digempur dari dalam.

Walhasil Islam yang dibawa Walisongo dan para Alawiyin di Indonesia amat sangat lentur dan penuh sentuhan budaya, adat istiadat Indonesia jadi tidak ada permasalahan tentang penyebutan Islam Nusantara. Gerakan Puritanisme dan terorisme harus diobati dengan jihad ke Indonesian. Ciri Islam ala Indonesia yaitu “pribumi” dan pluralistik, baik dalam bentuk ekspresi dan hubungan intim dengan agama-agama lain. Tidak ada bedanya antara Islam dan Indonesia, sejarah Indonesia adalah juga sejarah Islam dan kebudayaan Indonesia juga kebudayaan Islam. (RNA)

Sumber Rujukan Islamnusantara.com : Islam Nusantara Ajaran Wali SongoKetika Jati Diri dan Karakter Bangsa Mulai BangkrutKH Aqil Siradj “Agama Perlu Menyatu dengan Budaya” , Pribumisasi Mencegah Radikalisme

4 Comments

4 Comments

  1. Pingback: Jangan Suntikkan Racun "JONRU" Ke Nusantaraku | Salafy News

  2. Pingback: Tokoh Agama dan Rakyat Mesir Turun Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad | SALAFY NEWS

  3. Pingback: Denny Siregar dan ‘Tamparan’ Ustad AHOK | Arrahmah News

  4. Pingback: Inilah Thoriqoh Alawiyin dan Nasehat Habib Abu Bakar al-Adni Yaman | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: