Analisis

Misteri Hilangnya “Asiri” Jubir Operasi Militer Saudi di Yaman

Salafynews.com – Brigadir Jenderal Ahmad Asiri, juru bicara operasi militer “Desicive Storm” (Badai Ketegasan) telah lama absen dari konferensi pers yang diadakan hampir setiap hari untuk menjelaskan perkembangan operasi pemboman yang dilakukan pesawat-pesawat tempur koalisi Arab pimpinan negaranya di Yaman. Tidak ada lagi orang yang bisa menerangkan kepada para insan pers dan media setelah operasi ini berlangsung dua bulan sejak awal dimulainya dan mendekati pertengahan bulan ketiga. Kerajaan Saudi telah tergelincir ke perang lainnya yang memerlukan sejumlah juru bicara lain yang berbeda.

Perkembangan front dalam negeri Saudi dan sejumlah peledakan yang dihadapinya pasti membayangi pemberitaan operasi “Badai Ketegasan” seperti halnya membayangi perang yang tengah berkecamuk, yang semakin serius dan meningkat intensitasnya di perbatasan Yaman-Saudi. Sementara itu organisasi Ansarullah Houthi telah mulai mengumumkan operasi militer untuk pertama kalinya dan menembakkan rudal-rudal ke beberapa pos militer Arab Saudi setelah sebelumnya mengklaim bahwa pengeboman ini dilakukan oleh suku-suku Yaman.

Warga Saudi, termasuk aparat keamanan diliputi rasa cemas dan khawatir sepanjang hari pekan lalu, dan tentunya mereka memohon kepada Allah agar hari Jumat berikutnya berlalu tanpa terjadi ledakan lagi di dalam negeri mereka seperti dua ledakan sebelumnya yang menargetkan dua masjid Syiah dalam waktu delapan hari. Salah satunya di masjid Qudaih di wilayah Qatif saat menunaikan shalat Jumat dan menewaskan dua puluh jamaah, dan yang kedua di masjid Al Anoud di kota Dammam yang menewaskan empat orang, termasuk pelaku bom bunuh diri yang mencoba menyusup ke tengah jamaah dan meledakkan dirinya.

Hari (Jumat), akan menjadi ujian paling penting bagi pihak keamanan Saudi. Dan berlalunya hari itu dengan damai tanpa aksi pemboman apapun akan menenangkan komando keamanan Saudi dan Pangeran Muhammed bin Nayef, Putera Mahkota Saudi dan Menteri Dalam Negeri, yang membangun reputasinya sebagai tokoh paling kuat Saudi di dalam negeri maupun di luar negeri karena rencananya yang sukses membasmi Al Qaeda dan sel-selnya yang melakukan operasi pembunuhan dan pemboman yang menargetkan warga Barat dan warga asing sejak sepuluh tahun yang lalu.

Sialnya bagi Putra Mahkota Saudi dan para pembantu keamanannya adalah manakala sel-sel al-Qaeda saat ini tunduk di hadapan rekan-rekannya yang berafiliasi kepada ISIS/IS yang mengaku bertanggung jawab atas dua ledakan terakhir di Qatif dan Dammam. Mereka bergabung pada sel-sel lokal dan mendapatkan dukungan dari beberapa kalangan masyarakat serta berafiliasi kepada “Negara” nya yang berada dekat perbatasan dengan Arab Saudi (Anbar) dan telah menjadi negara de facto di dalam dua negara besar di kawasan, yaitu Irak dan Suriah. ISIS hampir setiap dua bulan menambah kota baru bagi perbatasan “negerinya” ini dan merampas ratusan, jika tidak ribuan ton senjata dan amunisi, tank dan kendaraan lapis baja serta menambah aset keuangan dan sumber pendanaan lainnya, seperti sumur minyak dan gas, tambang fosfat dan cadangan situs sejarah yang tidak ternilai harganya di kota Palmyra serta setoran pajak warga baru ke kasnya.

Mengguncang stabilitas kerajaan adalah tujuan prioritas bagi organisasi berdarah ini. Dan langkah pertama dalam rencana-rencananya ialah berusaha menabur benih kekacauan dengan meledakkan masjid dan majlis yang sering dikunjungi oleh para pengikut Syiah, demi “merevolusi” sayap garis keras mereka dan mendorong mereka mengangkat senjata dengan dalih membela diri, yang akan menyulut bentrokan sektarian. Hal itu pada akhirnya dapat menyeret pihak luar (Iran) memberikan dukungan keuangan dan militer seperti yang saat ini dilakukan di Irak, Yaman, Suriah dan Lebanon. Tidak ada alasan untuk menjelaskan dan memperpanjang ulasan dalam hal ini.
Siapa saja yang mengikuti akun-akun para penggiat media sosial Saudi dari pengikut Syiah, terutama mereka yang tinggal di luar Saudi, merasakan orientasi seruan pembentukan komite populer untuk melindungi masjid dan tidak bergantung pada kapasitas pasukan keamanan Saudi. Perkembangan ini, jika tidak ditanggapi dengan baik dan ada keraguan di dalamnya, akan berbuah hasil yang tidak diinginkan.

Terdapat pihak-pihak regional dan internasional yang ingin melibatkan kerajaan dalam serangkaian perang internal dan eksternal agar mengalirkan dana, manusia dan politik, terutama di Yaman dan Suriah, dan dalam waktu dekat di Irak. Mungkin tanda-tanda yang paling menonjol dari keterlibatan ini adalah mengubah Yaman menjadi urusan internal Saudi. Hal ini memicu beban keamanan dan keuangan yang amat mahal, yang dapat berkepanjangan selama puluhan tahun. Di saat pendapatan minyak menurun hingga setengahnya, dan defisit anggaran tahunan Arab Saudi memburuk serta kewajiban intervensi di Suriah, Irak, Lebanon dan negara-negara Muslim lainnya membengkak. Kita harus ingat bahwa jumlah penduduk Yaman melebihi rekan Saudinya dengan perbedaan yang cukup signifikan.

Persetujuan Presiden Yaman Abd Rabbo Mansour Hadi untuk pergi menghadiri konferensi Jenewa yang diharapkan akan diselenggarakan pada 14 juni tanpa syarat, mungkin akan menjadi permulaan pemerintah Saudi mengurai kebuntuan di Yaman dan mencoba untuk keluar dari masalah itu sesegera mungkin agar mengurangi kerugian. Syarat-syarat yang ditentukan sebelumnya, seperti penarikan pemberontak dari kota-kota yang mereka kuasai, penyerahan senjata dan tidak menyertakan mantan Presiden Ali Abdullah Saleh dan Partai Kongres yang dipimpinnya dari perundingan apapun, kesemuanya merupakan syarat-syarat yang tidak mungkin terlaksana. Terbukti hal itu menyebabkan kompleksitas krisis dan tidak menciptakan iklim yang kondusif dalam penyelesaiannya, sebagaimana telah terbukti kesalahannya dan kepicikan promotor mediasi. Bukti paling jelas darinya adalah intervensi Amerika Serikat hal ini bisa membuka dialog langsung dengan pemberontak tanpa konsultasi dengan Presiden Hadi dan lainnya.

Arab Saudi terlibat, atau lebih tepatnya melibatkan diri dalam lubang maut Yaman tanpa dasar dan tanpa memiliki jalan keluar darinya. Orang-orang bijak harus bergerak untuk menemukan perdamaian ini sebelum terlambat. Mereka seharusnya mengajak pihak-pihak regional yang terkait dengan masalah Yaman, hanya pihak-pihak yang dapat mereka kuasai aja yang di ajak untuk berdiskusi, mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan pendapat dan rekomendasinya .

Bahaya internal jauh lebih besar daripada eksternal, dan mungkin persoalan ini akan berkembang hingga mereka menjadi satu ancaman. Dan di sinilah letak bencana, ketika John Corby, juru bicara Departemen Luar Negeri AS pada waktu yang lalu mengatakan bahwa kata “negara Islam” (IS) sangat serius, dan bahwa pembasmiannya dapat berlangsung tiga sampai lima tahun. Hal ini jika kita berpikir bahwa perkiraannya sederhana, ini merupakan mimpi buruk bagi Arab Saudi, yang melihat organisasi ini tidak akan sempurna khilafahnya kecuali dengan menguasai Mekkah dan Madinah.

Semoga, seperti jutaan orang lain, shalat Jumat berlalu tanpa bom atau pertumpahan darah orang-orang yang tidak bersalah. Kita juga berharap meninjau semua kebijakan sebelumnya yang menyediakan lahan yang memadai bagi mereka. (jb)

Penulis: Abdel Bari Atwan Abdel Bari Atwan

Sumber: Rai Al Youm

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: