Editorial

Monarki Saudi-Wahabi Senjata Amerika Hancurkan Islam dari Dalam

Salafynews.com, JAKARTA- Bisa dikatakan juga gara-gara ada kelompok ekstrem, agama Islam jadi tertutup (mahjub) sehingga timbul kebencian terhadap agama Islam atau Islamphobia. (Baca Ulama Pakistan Tegaskan Ekstrimisme dan Terorisme Bukan Islam)

Bahwa pemahaman yang dangkal terhadap Islam membuat parah keadaan ini. Sebagian umat Islam (kelompok radikal dan ekstremis) membuat pembenaran atas tindakan-tindakan mereka seolah-olah tindakan-tindakan itu merupakan perintah agama, padahal pemahaman mereka keliru. (Baca (Baca Islam Agama Cinta dan Kasih Sayang Bukan Agama Radikal dan Kekerasan))

Wahabi, Radikalisme dan Ekstrimisme Ciptaan Amerika dan Zionis

Melalui manusia-manusia bergaris keras ini maka akan memunculkan faham-faham yang juga bergaris keras, pelan namun pasti, ajaran ditekuk, dipelintir, digeser, disalah-artikan, lalu merekrut pengikut yang juga bergaris keras. Kemudian ratusan bahkan ribuan orang yang memiliki naluri “satu species” ini pun menjadi alat zion, dimana mereka akan mencuat dan bergerak saat dibutuhkan.

Strategi dalam operasi sangat terselubung bernama  “The Hornet’s Nest” atau strategi “Sarang Lebah Hornet” lalu mulai dimainkan. Strategi yang bertujuan untuk membawa semua ekstrimis-ekstrimis utama dunia untuk bergerak ke satu tempat atau tujuan, dan sebagian besar untuk mengguncang stabilitas negara yang dianggap musuhnya, terutama negara-negara Arab. Suatu waktu, sel-sel itu bagai singa yang hanya ditarik ekornya saja, yang tadinya tertidur pun dapat segera mengaum dan bergerak. Akan tetapi oleh pendiri (Amerika dan Zionis Israel) Ekstrimisme ini malah dijadikan modal propagandanya bahwa Islam itu agama Angker dan menakutkan sekali. (Baca Apa itu Operation Honet’s Nest?)

Fakta telah membuktikan, jika ditarik sejarahnya, kelompok Mujahiddin, Taliban, Al-Qaeda, Hammas, Boko Haram, bahkan Islamic Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) dibuat, direstui, dibesarkan dan dibiayai oleh CIA, Mossad dan Zionis beserta intellijen barat lainnya, untuk mengobrak-abrik dunia Islam. (Baca Analis; AS Ayah dari Teroris ISIS)

Alhasil: bukannya memerangi Zionis, namun mereka justru bergerak untuk memerangi umat Islam itu sendiri, memerangi yang justru satu kepercayaan dengan mereka. Grand Design pun berhasil. Namun sang arsitek pun tetap bermuka serius, bahkan ikut mengutuk mereka lalu memburu mereka pula.

israel dan Amerika Pemicu Perang Di Timur Tengah

Ketika mereka saling berperang dan saling menghancurkan, tak ada kepentingan yang berarti bagi Zionis, AS dan dunia barat untuk turut campur, hingga mereka semua yang bersaudara hancur. Kalah  jadi abu, menang jadi arang. Maka berikutnya, Zionis dan sekutunya, tinggal memetik hasilnya.

Semua berawal sejak “Perang Dingin” (Cold War) antara Russia vs. AS, Israel dan dunia Barat. ISIS adalah pecahan dari Al-Qaida buatan AS, dari pecahan Mujahiddin yang juga buatan AS. Mujahiddin berasal dari Pakistan yang sengaja dibuat AS lalu dibawa ke Afghanistan oleh AS untuk melawan Russia pada masa perang dingin tahun 80-an.

“Gara-gara kelompok ekstremis, agama Islam dirugikan. Digeneralisir seolah radikal adalah bagian dari ajaran agama Islam. Orang luar jadi Islamphobia, Islamphobia adalah sebuah ketakutan tanpa alasan terhadap segala sesuatu yang berbau agama Islam. Isu terorisme yang dikaitkan dengan agama yang tersebar pertama di Jazirah Arab ini rentan memicu diskriminasi.

Selepas serangan teroris 11 September 2001, cukup banyak populasi Amerika Serikat serta negara Barat lain mengidap ketakutan ini langsung menilai seorang yang beragama Islam adalah bagian dari kelompok teror. Padahal hal terorisme dan ekstrimisme ini juga yang menciptakan mereka sendiri seperti ISIS dan sejenisnya adalah buatan Amerika dan negara barat. Amerika dan Barat memperalat monarki Saudi dijadikan bonekanya, dan Wahabi dijadikan racun agama dalam Islam, untuk merusak Islam dari dalam itulah keberhasilan Amerika dan Israel dalam menghancurkan Islam. (Baca Video Khotib Jum’at New York; Baca Buku Wahabi Bisa Jadi Teroris)

Tuduhan itu tak pernah disokong bukti kuat dan hanya berbekal praduga bahwa seseorang dengan atribut Islami dituding teroris. Prasangka lain yang sering muncul berangkat dari nama seseorang. Nama berbau Arab, misalnya Muhammad, Abdullah, atau Ahmad menjadi bernuansa negatif bagi orang yang sudah dihinggapi  Phobia terhadap Islam.

Contoh kasus terbaru adalah seorang anak bernama Ahmed Mohamed asal Amerika Serikat. Pelajar 14 tahun itu ditangkap polisi hanya karena membuat jam digital yang dikira adalah bom. Celakanya hal ini dilakukan tanpa bukti terlebih dulu, karena Negara Adidaya itu sudah termakan ketakutan Islamophobia. Terutama karena namanya.

Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) menilai tindakan sekolah dan Kepolisian Irving adalah wujud nyata Islamphobia yang masih membekas di Negeri Paman Sam usai tragedi serangan 11 September. “Seandainya nama bocah itu bukan Mohamed, tidak akan ada kecurigaan dari siapapun tentang alat buatannya,” kata Anggota Dewan Pengurus CAIR, Alia Salem. Dan inilah kenyataan bahwa Amerika takut dengan bayangan kejahatannya sendiri, dan menciptkan ‘Islamphobia’ yang mereka buat adalah strategi mereka menghancurkan Islam. (SFA/MM/DN/BerbagaiMedia)

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Bukti Saudi Dukung Teroris, PBB Kecam Fatwa Jihad “Ala Teroris” Para Ulama Wahabi Saudi ke Suriah | Arrahmah News

  2. Pingback: Menelusuri Jejak Pengabdian Saudi Kepada Barat dan Zionis | VOA ISLAM NEWS

  3. Pingback: Persekutuan Hitam Rezim Saudi dengan Wahabisme yang Anti Nabi Muhammad | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: