Editorial

Orang Beriman Adalah Mereka yang Mencintai Kebenaran

JAKARTA, Salafynews.com – Hakikatnya setiap orang memusuhi ketidaktahuannya. Kita membenci persepsi kita tentang yang kita benci bukan objeknya.

Ketika seseorang Ateis menolak Tuhan, tuhan yang ditolaknya tidak lain daripada apa yg dikenalnya sebatas pengetahuannya, selain  itu masih banyak tuhan lain yang belum dikenalnya. Jadi sama sekali bukan Tuhan yg sebenarnya.

Pengetahuan kita tentang sesuatu tidak selalu benar, jika pun ada benarnya biasanya tercampur dengan kesalahan. Tidak ada yang memiliki pengetahuan yang lengkap sempurna kecuali Dia dan orang yang diizinkan-Nya.

Ketika seseorang mengkritisi sesuatu konsep, sebenarnya yang dia kritisi itu dirinya sendiri, yaitu pikiran dan perasaan dia tentang konsep itu. Begitu juga ketika seseorang membela sesuatu, yang dia bela adalah persepsi dia, pikiran  dia.

Jihad yang paling besar adalah jihad melawan pikiran, perasaan dan keinginan diri. Intelektualitas seseorang diukur dari kemampuan dia mengambil jarak dengan pikirannya, perasaan dan keinginan diri sendiri. Berpikir adalah proses dialog internal. Dialog adalah proses berfikir eksternal.

Kelebihan manusia atas makhluk lainnya adalah kesadaran diri, yaitu kemampuan mengambil jarak dari diri, mengawasi diri, mengendalikan diri. Hanya manusia saja yg mampu menertawakan diri.

Persoalan terbesar yang sering kita hadapi dalam kerja ‘intelektual’ adalah kesombongan intelektual, merasa diri sudah tahu, lebih tahu, lebih hebat, lebih benar, lebih baik. Ini menghalangi seseorang untuk menerima kebenaran lain yang berbeda dari yang dipersepsikannya. Di kalangan sufi disebutkan bahwa pengetahuan itu adalah hijab yg menghalangi seseorang dari pengetahuan lain.

Seorang intelek adalah seorang pencari kebenaran seumur hidup, dia percaya bahwa apa yang diketahuinya tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang tidak diketahuinya (ghaib). Pengetahuan kita hanya bagaikan setetes air yg melekat pada jarum yang dicelupkan dalam lautan ilmu ciptaan Allah.

Orang beriman, adalah mereka yang mencintai Kebenaran (asyaddu hubban lillah, al haq), terus menerus mencari (thalaba, uthlubul ‘lm, ilal lahdi) pengetahuan tentang kebenaran, menundukkan diri (aslama) di hadapan Kebenaran. Dia beriman kepada yang ghaib, artinya dia percaya bahwa masih sangat banyak hal yang di luar pengetahuannya.

Orang kafir, adalah mereka yang merasa cukup dengan apa yang diketahuinya dan menutup diri (cover, kafara) dari pengetahuan selainnya. Dia belajar hanya untuk mencari pembenaran. Dia berdialog untuk mencari kemenangan. Dia berlindung di balik gelar dan otoritas keilmuan yang dia sangka dia miliki. Dia bermain dengan istilah-istilah canggih yang diartikan menurut seleranya sendiri. Dia gagal membangun konsensus dan menghindari titik temu. Titik tengkar jadi obsesinya yang dengannya dia pikir dia bisa menonjolkan diri. Dia menghindari isi, substansi, noumena, esensi dan terjebak di penampakan, permukaan , fenomena.

Mari pertajam hati dan bashirah agar bisa melihat kekurangan diri. Kekurangan orang lain adalah cermin diri. Cintailah buat orang lain apa yang anda cintai buat diri anda. [SFA/AA]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: