Editorial

Pak Dien Semprot Kelompok Radikal di Munas MUI IX Surabaya

Salafynews.com, SURABAYA – Munas MUI ke IX di Surabaya mendapat serangan dari kelompok dan gerakan yang mengatasnamakan dakwah Islam dan kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah atau yang mengajak untuk kembali kepada ke-khilafahan, yang merupakan sebuah usaha pengelabuan terhadap kaum muslimin yang awam untuk mengambilalih kekuasaan dari pemerintahan yang sah.

Sehingga gerakan ekstrem, radikal dan intoleran yang mengatasnamakan agama ini (Wahabi Takfiri dan Wahabi Khawarij) berusaha menguasai lembaga tinggi negara dan keagamaan seperti MUI, mereka hadir sebagai gerakan politik yang ingin mempengaruhi kebijakan negara dan pemerintahan Indonesia serta menghancurkan tradisi dan budaya keagamaan ala NU dan Muhammadiyah. (Baca Surat Terbuka Syekh ‘Aidh al-Qarniy kepada Muslim Sunnah dan Syiah)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin

Isu Sektarian (Syiah) disuarakan oleh sebagian kelompok yang ada di dalam Ormas MUI, apalagi mendapat dukungan hangat dari media-media radikal yang menjadi corong gerakan radikalisme dan anti pemerintah seperti Arrahmah, Salamonline dan lain-lain. (Baca HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI)

Akan tetapi mantan Ketua Umum MUI Din Syamsudin mengatakan, masalah Syiah ini penting dibahas. Karena di kalangan ulama ini terdapat perbedaan pendapat. (Baca Taujihat Surabaya MUI Mirip Prinsip Islam Nusantara Yang Anti Radikalisme)

Bahkan besar sekali yang mengajukan sikap anti-Syiah. Sehingga kelompok Syiah pun tidak diundang. “Ada yang menolak, bahkan juga ada yang menolak satu ormas Islam lain untuk tidak boleh ikut,” jelasnya, di Surabaya, Rabu (26/8). (Baca Gesekan soal syiah semestinya tak perlu terjadi, Apa sebab?)

Terkait hal ini, Din mengaku bersedih. Ia sangat menginginkan MUI menjadi tenda besar, baik bagi kelompok yang telah bergabung dengan ormas Islam maupun yang belum. Termasuk syiah, karena MUI ini merupakan wadah musyawarah. Bahkan terkait sikap itu. Ini merupakan peringatan kepada anggota MUI yang intoleran yang tidak bisa menjaga keberagaman beragaman. (Baca MENAG LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN. “SYIAH ADALAH BAGIAN DARI ISLAM”)

Din sendiri mengaku sempat dituduh syiah. Menurutnya semua pihak jangan gegabah menafsirkan. Dalam rapat paripurna Din mengaku menyampaikan ada fatwa dari majma’ al Fiqh al Islami International Fiqh Academy di bawah naungan Organisasi Konfrensi Islam internasional (OKI).

Dalam fatwa nomor 152 menegaskan tidak boleh ada pengkafiran terhadap delapan kelompok umat Islam. Empat di antaranya merupakan mazhab yang sudah umum dikenal selama ini (Imam Syafi’i, Maliki, Hambali dan Imam  Hanafi), dua dari kalangan Syiah (Syiah Ja’fari dan syiah Zaidi) serta dua lagi mazhab Ibadhi dan Zahiri.

Bahkan juga sudah dikukuhkan oleh majma’ al Buhuts al Islamiyah di Al Azhar dan juga oleh konfrensi al muktamarul aam dari tokoh Islam sedunia di Amman yang intinya mendukung fatwa majma’ fikih internasional.

“Tetapi, bahwa kemudian ada sikap kalangan Syiah yang ekstrim dan radikal tentu hal itu tidak dapat ditoleransi,” tegasnya.

Untung saja di MUI ada orang seperti Pak Dien Syamsuddin yang mempunyai keilmuan dan pengetahuan yang cukup, sehingga tidak mudah para tokoh radikal yang di tubuh MUI dengan seenaknya menyesatkan kelompok lain yang jelas-jelas di akui oleh seluruh ulama di dunia Islam.

Dan pada pembukaan MUNAS MUI IX bapak presiden Jokowi juga berpesan untuk menjaga Ukhuwah dan Toleransi antar umat beragama (Baca Pesan Ukhuwah dan Toleransi dari Jokowi di Munas MUI IX di Surabaya), karena kalau sampai terjadi gesekan antar agama bisa menyebabkan stabilitas negara terganggu dan bahaya sekali. (SFA/MM/ROL)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: