Editorial

Parade Tauhid dalam Bingkai Kemusyrikan

Salafynews.com, JAKARTA – Parade Tauhid itu, tidak menyebarkan kebencian terhadap kelompok yang juga bertauhid. Tidak menyuruh bertauhid kepada orang yang sudah bertauhid karena menganggapnya syirik. Tidak menebar sentimen anti kebhinekaan berbalut dakwah. Tidak menganggap kelompoknya yang Maha Benar tapi mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa. Tidak numpang Agustusan tapi mensyirikkan Pancasila. Tidak menjadi agen Saudi dengan mengibar-ngibarkan bendera Arab Saudi di saat Hut RI ke 70 tahun. Tidak menjadi agen Wahabi Saudi untuk mengambil alih “Ahlusunnah Asli” dengan provokasi berkedok Tauhid! (Baca Parade Tauhid dimeriahkan Bendera ISIS dan Peleceh Pancasila Muhammad Abu Jibril)

Parade Tauhid Jakarta @Foto_SatuIslam

Seruan “Tauhid” bukan sekedar diparadekan tapi juga diikrarkan, bukan hanya ikrar tapi diamalkan. Tauhid tidak melegalkan intimidasi, eksploitasi, diskriminasi dan penistanaan manusia atas nama agama. Tauhid tidak mengajarkan anti NKRI, pancasila dan simbol-simbol kebangsaan. Tauhid tidak mengajarkan anti kemanusiaan, tapi memanusiakan manusia. Yang tidak bertauhid juga manusia, Tuhan-pun me-manusia-kannya dengan memberi hidup dan limpahan rizki. Lalu, kenapa kalian menistakannya?

Tauhid mengajarkan cinta tanah air, bukan syirik dan bid’ah. Yang syirik dan bid’ah adalah yang memparadekan tauhid dengan niat busuknya. Kegiatan ini seakan-akan untuk menanamkan rasa cinta kepada tanah air dengan mengatasnamakan Islam, tetapi sebenarnya ada misi-misi terselubung dari kegiatan tersebut. Cinta tanah air berarti menyebut diri sebagai bangsa Indonesia, ber-bhineka dan ber-pancasila. Menyebut diri sebagai bangsa Indonesia berarti menerima sistem negara Indonesia, karena sistem itu merupakan subtansi dan bagian integralnya.

“Kalau tidak mau mengakui NKRI, tidak mau hormat pada bendera merah putih, silahkan enyah dari Indonesia. Sangat aneh kalau hormat bendera merah putih dikatakan musyrik, syirik. Seharusnya kalian malu pada para pendahulu kita yang telah mengusir penjajah dan menegakkan Indonesia. Karena kemerdekaan Indonesia bukan hadiah penjajah, tapi hasil dari darah syuhada yang membasahi nusantara”, cetus Habib Lutfi bin Yahya kepada gerombolan anti NKRI ini. ( Baca Wahabi, HTI, PERSIS Lecehkan Sang Saka Merah Putih dan Pahlawan)

Coba kalian tengok parade Tauhid di Solo, Jakarta dan sekitarnya, ada yang bangga dengan pasukan berkuda. Tampil dengan baju kebesaran, bertopeng ala ISIS, berteriak seperti suara knalpot rusak. Mereka merasa jagoan, penguasa jalan dan bergaya layaknya preman kesiangan, layaknya mereka benteng Islam dan syariat.

Atribut negaranya dilupakan, yang dikenakan dan di bawa justru lambang pemberontakan dan intoleran. Mereka sulit berbicara kerendahan hati karena mereka dipupuk untuk arogan, mulai dari aksesoris sampai pengawalan. (Baca Said Agil: NU Menolak Segala Khilafah Kecuali Khilafah Nasionalis)

Parade

Parade Tauhid Kibarkan Bendera Saudi @Foto_Liputan6

Parade Tauhid di Jakarta sebelum hari kemerdekaan. Mereka berbaris, berbaju kebesaran bergamis, membawa bendera-bendera dan meneriakkan nama Tuhan. Mereka merasa paling beragama dan paling mengerti siapa saja yang layak masuk surge dan neraka. Seakan-akan mereka utusan Tuhan yang di pegangi kunci kebenaran.

Para ulama intoleran yang sudah berumur memimpin barisan orang muda yang akalnya rendah. Mereka memacetkan jalan sambil ludahnya menyembur-nyembur meneriakkan nama Tuhan. Buat mereka ke-Esaan harus di-paradekan, seakan Tuhan butuh iklan. Mereka juga sulit berbicara kerendahan hati karena sudah terpupuk ideologi radikal dan arogan, bahwa merekalah yang paling beriman dan paling dekat dengan Tuhan, dan paling berpegang teguh dengan Keimanan.

Sebenarnya kedua elemen ini mempunyai banyak persamaan, hanya beda model saja. Mereka sama-sama suka dengan aksesoris, pamer kemampuan dan berlagak menjadi Tuhan-Tuhan kecil. (Baca Agil Siradj: Mustahil Memahami Islam Hanya dengan Qur’an-Hadits)

Hanya mata orang-orang yang terbukalah yang mampu melihat dengan rasa kasihan sambil meninggalkan senyuman, bahwa mereka-mereka itu sebenarnya hanya anak-anak kecil yang kurang permainan dan kerjaan. Mereka haus perhatian dengan EQ yang tidak berkembang. (Baca Kiai Said: Pemerintah Harus Tegas Terhadap Situs-situs Radikal)

Itulah parade Tauhid versi mereka, yang Anti akan Islam Ke Nusantaraan, seharusnya mereka melihat kembali kalau Negara Indonesia tercinta ini bukan berasaskan Islam, tapi mereka lupa yang membuat Pancasila adalah para ulama Islam yang cinta tanah air dan bangsa, mereka tahu bahwa pancasila tidak bersinggungan dengan Islam, tetapi mereka kelompok radikal selalu bilang bahwa Pancasila adalah produk gagal dan tidak Islami. Itulah kelakar para komplotan pembenci Islam Rahmatan Lil Alamin. (SFA/MM/BerbagaiMedia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: