Eropa

Pasca Referendum Brexit, Kursi Panas PM Inggris Jadi Rebutan

Minggu, 03 Juli 2016,

SALAFYNEWS.COM, INGGRIS – Tim sukses Boris Johnson sedang bersiap-siap menggelar jumpa pers di Ibu Kota London, guna mengumumkan kesiapan politikus berambut pirang itu maju menjadi salah satu kandidat perdana menteri Inggris yang baru. Tiba-tiba ada telepon masuk, empat jam sebelum acara dimulai.

“Halo, tolong kabari Boris bahwa saya akhirnya ikut maju menjadi calon perdana menteri,” kata sosok di ujung telepon kepada Lynton Crosby, Ketua Tim Kampanye Boris. (Baca: )

Pesan sederhana lewat sambungan telepon itu membunuh karir seorang bintang yang sinarnya sedang sangat terang di jagat politik Britania Raya.

Perkembangan politik Britania Raya pekan ini oleh banyak pihak disebut mirip plot penuh intrik tokoh-tokoh serial televisi ‘Game of Thrones’. Boris Johnson, kandidat terkuat yang awalnya diyakini banyak pihak bakal menggantikan PM David Cameron sesudah referendum Brexit, ternyata ditikung kawannya sendiri Michael Gove.

Boris, selaku mantan wali kota London, selama tiga bulan terakhir sangat aktif mendorong warga Inggris keluar dari Uni Eropa. Dia adalah sosok juru bicara utama kelompok pro-Brexit. Tak heran jika Partai Konservatif mengharapkan dia maju dalam pemilihan internal, setelah PM Cameron memilih mundur akibat gerakan Brexit menang.

Siapa sangka, pada konferensi pers Kamis (30/6) lalu, Boris memutuskan tidak maju dalam pemilihan ketua Partai Konservatif Inggris (Torries).

“Mengingat keadaan saat ini di parlemen, saya memutuskan orang yang akan menjadi perdana menteri bukanlah saya,” kata Boris.

Pengkhianat utama, bagi para pendukung Boris, tak lain dan tak bukan adalah Michael Gove. Menteri Kehakiman Inggris ini salah satu petinggi Partai Konservatif.

Gove adalah sosok yang mengajak Boris memperjuangkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Gove pada konferensi pers dua bulan lalu mengklaim tidak akan maju menjadi perdana menteri. Dia berdalih sosok Boris lebih cocok memimpin, sedangkan dia akan menikmati peran sebagai manajer sang PM.

Hanya dalam hitungan jam sebelum Boris berniat maju, Gove berubah pikiran. Dia tiba-tiba menuding sobat akrabnya itu tidak kompeten memimpin Inggris dalam masa-masa sulit keluar dari Uni Eropa.

“Mempertimbangkan unsur kelayakan itulah, saya mencalonkan diri saya menjadi salah satu kandidat Perdana Menteri Inggris,” kata Gove dalam jumpa pers.

Gove punya pengaruh di internal partai, sedangkan Boris lebih populer di media. Keputusan Boris mundur mengundang kecaman dari rakyat Inggris, karena mereka mengira sang mantan wali kota London itu akan berkomitmen mendukung agenda keluarnya Inggris dari UE.

Kini semua politikus Torries sedang kasak-kusuk, saling melobi, menentukan siapa yang pantas didukung. Sebelum Gove menikung Boris, Menteri Dalam negeri Theresa May mengumumkan kesiapannya ikut dalam bursa pemilihan PM yang baru. Sosok yang belakangan ikut menanjak suaranya adalah Andrea Leadsom, anggota parlemen dengan dukungan vokal bagi perpisahan Inggris dari UE.

Gove, May, dan Leadsom menjadi yang paling dominan sementara ini. Namun pendukung Boris masih belum terima dengan pengkhianatan Gove. Ben Wallace, anggota parlemen pendukung setia Boris, memperingatkan dalam waktu dekat Gove akan ganti dikhianati.

“Dia akan mengalami nasib seperti Theon Greyjoy,” kata Wallace lewat akun Twitternya. Theon adalah karakter pengkhianat di serial Game of Thrones yang akhirnya dipotong penisnya.

Situasi makin pelik, setelah Nigel Farage, selaku Ketua Partai Britania Independen (UKIP) yang sebetulnya tak punya hak memilih calon PM baru, tiba-tiba memberikan dukungan terbuka pada Leadsom. Peta menjadi sangat berubah. Farage adalah tokoh penting lain gerakan Brexit yang selama ini dikenal dekat dengan Boris Johnson.

Gove pelan-pelan kehilangan basis dukungan. Pada Sabtu (2/7), 30 anggota parlemen mengumumkan dukungan bagi Leadsom, melewati suara yang awalnya tampak mendukung Gove.

Media massa Inggris ramai-ramai menggunakan analogi Game of Thrones atas perkembangan politik yang sangat cepat dan tak terduga itu. “Michael Gove sepertinya adalah penggemar berat Game of Thrones,” tulis Sam Coates, editor desk politik surat kabar the Times.

“Perdana Menteri Cameron kini hanya bisa menonton kekacauan di sekitar calon penggantinya dari kursi besi yang dia duduki sebelum enyah,” tulis editorial International Business Times kemarin.

Siapapun yang pada Oktober nanti resmi menjadi perdana menteri baru, sebetulnya mewarisi kekacauan besar. Hengkangnya Britania Raya dari Uni Eropa akan memicu krisis ekonomi dan politik, seandainya pemerintahan baru tidak cakap melakukan negosiasi. Pengamat politik Inggris mengatakan hasil referendum Brexit – yang menjatuhkan nilai saham dan mata uang Inggris – adalah krisis politik terburuk Eropa sejak Perang Dunia ke-2. (SFA)

Sumber: Merdeka.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: