Nasional

Patrialis Akbar Langgar Kode Etik Hakim MK, Kenapa Dibiarkan?

JAKARTA, Salafynews.com – Pernyataan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar yang mendukung keputusan Walikota Bogor Bima Arya melarang peringatan Asyura oleh kaum muslim Syiah dikecam keras.

Ketua Setara Institute Hendardi  menganggap dengan memberikan dukungan itu, Patrialis Akbar telah melakukan pelanggaran Etik sebagai hakim MK. Kecaman Hendardi itu disampaikan saat diwawancara via telepon, Sabtu (31/10/15).

“Dia sama sekali tidak tepat melakukan itu. Dia mengomentari sesuatu yang bisa saja suatu saat nanti akan menjadi wilayah dia untuk diadili, ketika ada gugatan konstitusi terhadap pelarangan-pelarangan semacam itu. Sebagai hakim MK dia harus tahu batas-batas itu. Dia melanggar  etik karena mengatakan sesuatu di luar kewenangan atau otoritasnya,” tegas Hendardi.

Lebih jauh Hendardi mempertanyakan pemahaman HAM Patrialis. “Kok bisa seorang hakim MK memberikan dukungan kepada Walikota  yang melarang kelompok warga  memperingati Asyura?  Jelas, pelarangan semacam itu adalah bentuk pelanggaran HAM,” ujar Hendardi.

Hendardi melanjutkan. “Keyakinan seseorang itu tidak bisa dihukum. Cara yang dilakukan oleh Walikota Bogor dan apalagi kemudian dikomentari oleh Patrialis adalah cara-cara penghukuman terhadap suatu keyakinan, yang jelas merupakan pelanggaran HAM,” ujar Hendardi.

Hendardi juga mempermasalahkan pernyataan Patrialis yang mengatakan penyelelenggaraan HAM tidak bisa bebas sebebas-bebasnya dan  HAM di Indonesia di batasi oleh HAM orang lain. Menurut Hendardi pernyataan semacam itu hanyalah pembenaran untuk melakukan pelanggaran HAM.

“Tidak boleh dia menilai semacam itu. Tentu saja penyelanggaraan HAM tidak bisa bebas sebebas-bebasnya. Tapi dalam kasus pelarangan ini, HAM siapa yang dirugikan oleh penyelenggaraan Asyura? Itu hanya menjadi  slogan yang dikemukakan untuk membenarkan pelanggaran HAM,” tegasnya.

Hendardi menyatakan dia tidak yakin benar Patrialis menyatakan dukungan semacam itu. “Tapi kalau benar, ia jelas harus diperiksa oleh dewan etik,” kata Hendardi.

Hendardi juga menyatakan kekecewaannya atas kebijakan Bima, karena selama ini dia mengenal Bima sebagai orang yang terbuka.  Menurutnya semestinya Bima mampu mengayomi semua pihak, mayoritas maupun minoritas. Hendardi mencurigai adanya kepentingan pragmatis yang mendorong Bima membuat kebijakan seperti itu.

“Saya mencium bau bahwa apa yang dilakukan Bima Arya berkaitan dengan keinginan dia untuk maju kembali pada Pilwakot selanjutnya, ” ujarnya.

Seperti ramai diberitakan sebelumnya, Bima Arya melarang peringatan Asyura yang biasa dilakukan oleh komunitas muslim Syiah. Karena tindakan pelarangan tersebut, Komnas HAM mengirimkan teguran kepada Bima dan meminta Bima untuk mencabut larangan tersebut. Alih-alih ikut mendukung teguran Komnas HAM, Patrialis yang merupakan hakim MK jutru mendukung Bima Arya.

Dukungan Patrialis terhadap Bima Arya diberitakan oleh beberapa media Islam seperti salam-online.com, nahimunkar.com, hidayatullah.com, islampos.com dan beberapa media Islam lainnya.

Pernyataan itu disampaikan Patrialis saat dia menjadi narasumber dalam acara peresmian Perkumpulan Lembaaga Dakwah dan Pendidikan Islam Indonesia (PULDAPII) yang berlangsung di  Aljazeraa Resto, Polonia, Jakarta Timur, Rabu (28/10).

“Saya mendukung penuh salah satu tokoh kebanggaan kita itu (Bima Arya, red). Kalau kita berbicara hak asasi manusia bukan berarti penyelenggaraan hak asasi manusia itu bebas sebebas-bebasnya,”ujarnya.

Menurut Patrialis, HAM tidak boleh melanggar HAM orang lain. “HAM itu . . . tidak boleh melanggar moral dan hukum agama. Kebebasan dalam pasal 28 A UUD itu dibatasi juga oleh UUD yang tidak bisa bebas sebebas-bebasnya,” tandas Patrialis, seperti dikutip dari salam-online.com.

Patrialis juga memojokkan muslim Syiah. “Orang dalam suatu acara, kalau memotong- memotong tangannya, kemudian menyiksa diri, itu bukan kemanusiaan,” ujarnya.

Katanya pula, kalau ada suatu agama yang mengaku sebagai agama lain yang sudah ada alias mendomplengnya, itu tidak boleh. “Kalau mau, bikin ajaran sendiri, jangan numpang,” sindirnya, seperti dikutip dari hidayatullah.com. [Sfa/MM]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: