Fokus

Pengakuan 6000 Wanita Saudi yang Terkekang di Bawah Hukum Saudi

اعترافات 6 آلاف امرأة سعودية: "نحن نعيش في كذبة اسمها السعودية"

Senin, 31 Oktober 2016,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Dalam hukum Saudi, seorang wanita dilarang untuk berpergian keluar rumah sendirian dan tanpa izin dari keluarga laki-lakinya ataupun wali laki-lakinya. Aturan “perwalian laki-laki” ini menjadi hambatan paling besar bagi para wanita Saudi dalam mencapai hak-haknya, karena para wanita Saudi diperlakukan lebih rendah daripada kaum pria. (Baca: Hukum Penggal Kepala di Saudi Buat Rakyat Bukan untuk Keluarga Kerajaan)

Seorang wanita Saudi mengungkapkan pada surat kabar AS, New York Times, “Kami bahkan tidak diizinkan untuk pergi sekalipun ke supermarket tanpa izin atau pendamping, dan hal ini adalah hal yang sangat sederhana yang terkandung dalam daftar aturan buruk pemerintah Saudi yang harus kami patuhi, jika tidak maka kami dianggap sebagai pelanggar aturan dan kebiasaan”.

Menurut surat kabar Arab Saudi  “Wathan”, dalam sebuah artikelnya seorang wanita Saudi mengatakan, “Persoalan perwalian seorang laki-laki telah menjadikan hidup saya seperti neraka. Ketika saya ingin pergi keluar dengan teman-teman saya dan pergi makan siang di luar rumah, saya harus membunuh rasa putus asa, saya tidak keberatan meminta persetujuan dari orang tua saya dalam hal-hal yang memang harus disertai izin orang tua. Namun, ikatan sosial yang begitu kuat ini dihancurkan dengan kewajiban-kewajiban dan tindakan-tindakan yang salah”.

Surat kabar AS melanjutkan bahwa ini hanyalah satu keluhan yang sederhana dari 6000 wanita Saudi yang ditulis surat kabar New York Times pekan ini mengenai kehidupan mereka. Surat kabar ini menjelaskan bahwa mereka hanya ingin berbagi tentang perasaan dan pemikiran para wanita Saudi di situs web dan di twitter bersamaan dengan penerbitan artikel “Perempuan Pertama”  yakni sebuah dokumen yang berisi tentang pemilu pertama Saudi yang mengizinkan para wanita untuk memberikan suaranya dan mencalonkan diri pada jabatan-jabatan yang bersifat lokal.

Surat kabar New York Times menegaskan bahwa Arab Saudi memiliki masyarakat patriarki yang sangat mendominasi, dan beberapa wanita merasa takut untuk mengungkapkan kisah mereka karena takut akan reaksi  negatif dari keluarga laki-lakinya yang mengawasi seluruh aspek kehidupannya yang disebut “Wali” mereka. (Baca: Wanita Saudi Hidup Seperti Budak)

Menurut surat kabar AS, sebagian besar surat para wanita Saudi fokus pada penekanan masalah frustasi dan kemarahan terhadap aturan perwalian yang memaksa para wanita untuk memperoleh izin bahkan untuk hal-hal sepele dari keluarganya, seperti suami atau ayah atau saudara laki-laki atau bahkan anak laki-laki untuk melakukan hal-hal seperti perjalanan ke luar negeri, menikah, bahkan ketika ingin menjalani perawatan medis. Beberapa wanita membanggakan kebudayaan yang mereka miliki dan menyatakan kurangnya kepercayaan pada orang asing, namun banyak dari wanita Saudi yang menginginkan perubahan.

Surat kabar AS ini menuliskan kutipan dari surat-surat para wanita Saudi dengan syarat tidak mengungkapkan identitas mereka, yakni “Kami ingin pembicaraan ini tetap berlanjut, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui e-mail”.

Ungkapan serupa juga dituliskan dalam surat kabar AS ini, yakni “Saya mengalami kecelakaan di sebuah taksi, dan ambulans menolak membawa saya ke rumah sakit kecuali jika wali saya tiba dan saat itu saya sudah kehilangan banyak darah, jika saat itu wali saya tidak datang mungkin saya sudah mati”, ucap seorang wanita bernama Rola  yang berusia 19 tahun. (Baca: PELECEHAN! Tema Sarasehan di Arab Saudi “Apakah wanita manusia?”)

Pengakuan yang sama juga datang dari seorang wanita bernama Sarah yang bekerja sebagai dokter di Riyadh yang berusia 42 tahun, “Setiap kali saya ingin melakukan perjalanan, saya harus mengatakan pada anak saya yang berusia remaja agar mengizinkan saya untuk berpergian”.

Di samping itu, seorang wanita Saudi juga mengatakan, “Kakak perempuan saya pergi ke toko buku tanpa meminta izin suaminya, dan ketika ia kembali, suaminya memukulinya dengan keras”.

Seorang wanita Saudi berusia 23 tahun mengatakan, “Aku pergi meninggalkan rumah dan meminta perlindungan kepada organisasi HAM di Saudi, dan aku mengatakan pada mereka tentang masalahku dengan ayahku. Namun, organisasi HAM ini tidak bertindak apa-apa dan menyarankan agar aku pergi ke kantor polisi dan meminta perlindungan dari ayah saya pada para polisi. Ketika saya pergi ke kantor polisi, ayah saya telah diberitahu bahwa saya lari dari rumah. Meskipun saya telah mengatakan semua masalah saya dengan ayah saya kepada polisi, mereka mengatakan bahwa saya melakukan sesuatu yang salah dan melakukan kejahatan yang buruk dengan meninggalkan rumah, dan mereka memasukkan saya ke dalam penjara, tiga hari pertama saya berada di sel isolasi lalu saya dipindahkan ke sel umum, bersama tahanan wanita lainnya yang melakukan kejahatan-kejahatan besar seperti pembunuhan dan pencurian”.

Seorang wanita bernama Dina yang berusia 21 tahun yang tinggal di ibukota Riyadh juga mengatakan, “Saya tidak diizinkan untuk bekerja, meskipun saya sangat membutuhkan uang. Ayah saya tidak bisa mencukupi semua kebutuhan saya, karena ayah saya mempunyai 4 istri dan ia sibuk dengan istri-istrinya, sementara saya tidak bisa berpergian dengan ibu saya. Saya sangat menderita, bahkan dalam kehidupan sosial saya dikendalikan sepenuhnya dan saya tidak bisa memiliki teman ataupun pergi mengunjungi mereka. Saya terpaksa harus hidup sesuai dengan kehendak ayah saya”. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: