Amerika

Inilah Fakta Suksesi Monarki Saudi di Tangan Amerika

Saudi Negara Bayangan Amerika

Selasa, 21 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, AMERIKA – Sejumlah sumber intelijen AS mengungkapkan tentang penurunan tajam pada kesehatan Pangeran sekaligus Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Nayef, mereka juga lebih menjagokan Putra Mahkota, Mohammed bin Salman, yang akan memenangkan perebutan kekuasaan kerajaan.

Situs jaringan televisi AS “NBC” memposting, Sabtu (18/06), sebuah laporan oleh Bruce Riedel, mantan perwira intelijen nasional AS dan pengamat spesialis di bidang Timur Tengah serta salah satu anggota tim transisi dalam pemerintahan Presiden AS Barack Obama, menegaskan bahwa pemerintah AS yang mengundang Mohammed bin Salman untuk melakukan kunjungan resmi ke Amerika Serikat dalam rangka untuk mengenal lebih jauh dari karakter sosok yang dimungkinkan kuat akan menaiki tahta raja Arab Saudi dalam waktu dekat, menurut prediksi sejumlah pejabat AS.

Riedel menyebutkan bahwa kesehatan Raja Salman bin Abdul Aziz di usianya yang ke 80 telah mengalami kerapuhan, sementara Pangeran Mohammed bin Nayef, pangeran yang difavoritkan AS, juga menderita penyakit yang cukup parah dan dimungkinkan tidak akan hidup lama, hal itu akan membuatnya keluar dari persaingan perebutan kekuasaan, menurut laporan itu. (Baca: Mohammed Bin Salman Versus Mohammed Bin Nayef)

Laporan disampaikan oleh Robert Winderm dan William M. Arkin, mengungkap bahwa penyakit yang diderita oleh Pangeran bin Nayef akibat dari cedera serius yang dialaminya saat ia ditargetkan oleh bom bunuh diri yang dilakukan oleh salah satu elemen kelompok teroris “Al-Qaeda” pada tahun 2009.

Laporan itu mengatakan bahwa tiga pejabat senior di CIA melakukan penilaian terhadap kondisi kesehatan bin Nayef, salah satu dari mereka meramalkan bahwa kesehatannya sangatlah rapuh, pejabat kedua hanya mengatakan bahwa kesehatannya tidak baik, sementara pejabat intelijen ketiga mengatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi itu saat ini hidup bergantung pada sejumlah obat penghilang rasa sakit yang kuat.

Kedua penulis laporan itu meyakini bahwa kunjungan Mohammed bin Salman ke Amerika Serikat “pada dasarnya adalah sebuah kunjungan kenegaraan yang berlangsung secara diam-diam”. (Baca: Warbler Mujtahid: Perang Kekuasaan Para Pengeran Monarki Saudi ‘Meledak’)

Laporan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah elite keamanan nasional di AS beranggapan bahwa Arab Saudi sekarang sedang berdiri di persimpangan jalan dan bahwa jika Pangeran bin Salman tidak berhasil dalam rencana dan proyek perangnya, apakah sekarang atau bahkan setelah ia menjadi raja, maka akan mengalami sebuah keruntuhan.

Riedel menegaskan kepada kedua penulis laporan itu bahwa pemerintah AS telah menunjukkan perhatian seriusnya kepada Pangeran bin Salman sejak pengangkatannya sebagai orang ketiga dalam pemerintahan, dan bahwa “banyak orang (dalam pemerintahan dan intelijen) khawatir akan  kecerobohannya”.

Kedua penulis laporan itu dalam konteks ini juga coba mengingatkan kembali bahwa Mohammed bin Salman kebijakan berbahayanya dalam sejumlah intervensi yang mengeluarkan biaya sangat mahal dan militer dalam urusan negara-negara lain, terutama dalam perang di Yaman melawan para pasukan pejuang pendukung setia Houthi dan loyalis mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, namun faktanya perang tersebut mengharuskan Arab Saudi mengeluarkan biaya 200 juta dolar per hari dan memicu kecaman keras terhadap Arab Saudi oleh organisasi hak asasi manusia karena serangan nakal yang menyebabkan jatuhnya banyak korban dari kalangan warga sipil yang tidak bersalah. (Baca: Perang Yaman Akibat Tamak Kekuasaan Putra Mahkota Saudi ‘Muhammad bin Salman’)

Laporan itu juga menunjukkan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman “pengendali kebijakan ekonomi” mendukung keputusan untuk memompa minyak guna membanjiri pasar dunia, meski harga minyak global terus anjlok, hal itu juga yang menjadi penyebab dalam mempercepat proses keruntuhan nantinya.

Semua itu menyebabkan turunnya pendapatan Arab Saudi hingga kurang dari setengah, oleh karena itu diambilnya langkah-langkah penghematan dan pengurangan anggaran pelayanan lainnya.

Robert Winderm dan William M. Arkin mencatat bahwa Pangeran sekaligus Putra Mahkota itu juga mendukung keputusan pelaksanaan hukuman mati terhadap Sheikh Nimr al-Nimr dan puluhan aktivis Syiah Saudi pada bulan Januari tahun ini, yang mengakibatkan meregagangnya hubungan antara Arab Saudi dan Iran.

Sementara itu, Riedel menekankan bahwa pemerintah AS, terlepas dari semua potensi perangkap yang dibuat oleh Mohammed bin Salman, harus mengakui bahwa suksesinya nantinya dalam rezim Arab Saudi merupakan sebuah “kekuatan besar yang sangat nyata”, oleh karenanya perlu lebih dalam lagi untuk mengenal Pangeran dan Putra Mahkota itu meski ia tidak dapat berbicara bahasa Inggris.

Untuk alasan itu, pemerintah AS melakukan serangkaian pertemuan antara Mohammad bin Salman dengan pemerintah yang berkuasa di Amerika Serikat saat ini, yang pertama adalah bertemu dengan Presiden Barack Obama, serta kedua Menteri Luar Negeri, John Kerry, dan Menteri Pertahanan, Ashton Carter, dan direktur Central Intelligence Agency (CIA), John Brennan, dan Menteri Perdagangan, Penny Pritzker, serta sejumlah pejabat senior Bisnis dan Keuangan Amerika. (Baca: Tragedi Mina, Konspirasi Mohammed Bin Salman Untuk Gulingkan Putra Mahkota)

Pada saat yang sama, laporan itu mencatat bahwa sebelumnya para pemimpin Amerika lebih memilih untuk melakukan pertemuan serupa dengan penantang utama Mohammed bin Salman dalam perebutan kekuasaan di Arab Saudi, sepupunya Pangeran dan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef, yang merupakan salah satu sekutu terdekat AS di Arab Saudi sejak peristiwa 11 September 2001, namun menurut pendapat Robert Winderm dan William M. Arkin bahwa ia sangat dimungkinkan tidak akan menjadi raja Arab Saudi. (SFA)

Sumber: Middle East Panorama

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Telepon Perdana Menhan AS dan Arab Saudi Bahas Isu Timur Tengah | SALAFY NEWS

  2. Pingback: Rayuan Maut Saudi kepada Mesir dan Sepak Terjang Ngeri Trump di Timteng | SALAFY NEWS

  3. Pingback: Analis: Inilah Sepak Terjang Ngeri Trump di Timteng dan Rayuan Maut Saudi kepada Mesir – VOA ISLAM NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: