Nasional

Prahara ‘Hitam’ Politik! Terdakwa Kasus Obor Rakyat Minta Maaf kepada Jokowi

Jum’at, 10 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Inilah salah satu bukti bahwa Presiden Jokowi yang telah menjadi obyek fitnah para musuh politiknya membuat mereka tak bisa berkutik lagi, kasus fitnah Obor Rakyat pada saat kampanye waktu itu adalah sebuah prahara hitam perpolitkan dan pers Indonesia serta prahara hitam demokrasi sebuah negara.

Dalam kasus pelecehan dan pencemaran nama baik Jokowi oleh penerbitan Obor Rakyat, polisi telah menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut, yakni Pemimpin Redaksi Obor Rakyat Setyardi Budiono dan penulis di tabloid tersebut, Darmawan Sepriyossa. Keduanya disangka melanggar Pasal 18 ayat 3 jo Pasal 9 ayat 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 9 ayat 2 UU 40/1999 menyatakan, setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum. Sementara itu, Pasal 18 ayat 3 menyatakan, pelanggaran terhadap Pasal 9 ayat (2) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Tempo Prahara Obor Rakyat

Tersangka juga dijerat empat pasal KUHP, yakni Pasal 310, 311, 156, dan 157. Pasal 310 terkait pencemaran nama baik dengan ancaman pidana penjara maksimal satu tahun empat bulan. Pasal 311 ialah tentang penyebaran fitnah dengan pidana penjara maksimal empat tahun. Adapun Pasal 156 ialah tentang menyebarkan kebencian dengan ancaman pidana penjara maksimal empat tahun, sementara Pasal 157 tentang menyiarkan gambar atau tulisan dengan kebencian terancam pidana penjara maksimal dua tahun enam bulan.

Terdakwa kasus dugaan pencemaran nama baik, Darmawan Sepriyossa, meminta maaf atas apa yang dilakukannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Petinggi tabloid Obor Rakyat itu menilai saat ini merupakan waktu yang baik untuk menyampaikan niat baik tersebut, terlebih lagi sekarang adalah bulan suci Ramadan.

“Saya yakin bahwa saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk meminta maaf kepada Bapak Joko Widodo, pihak yang menjadi saksi korban serta saksi pelapor yang memungkinkan kasus ini berlanjut hingga sidang saat ini,” kata Darmawan saat membacakan eksepsi pribadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Kamis (9/6/2016).

Menurutnya, permintaan maaf ini bukan semata mempertimbangkan benar atau tidaknya yang telah dilakukannya melalui tabloid Obor Rakyat. Namun, permintaan maaf itu datang dari lubuk hati yang terdalam.

“Saya menyadari bahwa jika apa pun yang dilakukan itu melukai hati seseorang, menusuk perasaan hingga membuat jiwa seseorang berdarah, bukan lagi pantas, siapa pun yang melakukan itu wajib meminta maaf,” ujarnya.

Darmawan pun berharap permohonan maaf yang disampaikan dalam persidangan ini dapat membukakan pintu maaf dari mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

“Untuk Bapak ketahui, ini bukanlah upaya kami pertama kali. Sebelumnya dengan berbagai saluran yang menurut kami memungkinkan, kami telah mencobanya, lagi dan lagi. Hanya mungkin karena keterbatasan akses yang kami punyai, atau sebab lain yang kemungkinannya tak hendak kami telusuri, upaya tersebut tampaknya belum sampai, sehingga Bapak bisa berkenan menyambutnya,” bebernya.

Dalam kasus dugaan pencemaran nama baik ini, kejaksaan telah menetapkan dua terdakwa yakni Darmawan dan Setyardi Budiono yang merupakan pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat. Keduanya didakwa mencemarkan nama baik Joko Widodo (Jokowi) saat Pilpres 2014. (SFA/BerbagaiMedia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: